Review

Underworld: Blood Wars (2016)

Untuk sebuah horor aksi dengan kualitas pas-pasan, mengejutkan memang bisa tetap melihat waralaba Underworld masih bisa tetap berdiri tegak selama 13 tahun lamanya. Mungkin kemudian tidak terlalu mengherankan jika kamu melihat fakta di lapangan, bagaimana keuntungan yang diperoleh Screen Gems dari empat seri Underworld; 458 juta Dolar dari bujet 177 jutanya, ya, ini jelas adalah proyek yang masih menjanjikan untuk terus dan terus dibuat karena sesuai hukum ekonomi, selama permintaan masih cukup tinggi maka produksi akan terus ada.

Melanjutkan dari seri Awakening, Blood Wars masih berada dalam pakem yang sama; perseteruan abadi vampir dan manusia serigala (lycan), hanya saja kini heroine kita, Selene (Kate Beckinsale) si Death Dealer tangguh menjadi fokus perebutan dua klan horor tersebut mengetahui fakta ia adalah buron dari kaum vampir karena berdosa telah membunuh sang pimpinan dan kedua,  ia dan putrinya, Eve memiliki kualitas darah istimewa yang konon mampu memberikan kekuatan luar biasa bagi siapa saja yang meminumnya. Selene tidak sendiri, kini sepeninggal kekasih tercintanya, Michael yang separuh vampir separuh lycan, Selene bersama David, putra dari salah satu petinggi kaum vampir (Theo James) berusaha menghentikan perang darah ini sekali untuk selamanya.

Konsistensi, mungkin bisa dibilang kunci mengapa franchise ini masih bisa terus ada. Masih mempertahankan tone gotik-dinginnya sejak seri pertama dengan aura gelap, masih berpusat pada perang abadi dua makhluk malam yang menarik dan juga rumit di saat bersamaan, dan bagian terbaiknya adalah ia masih memasang Kate Beckinsale sebagai jagoannya, bahkan setelah 13 tahun Beckinsale masih memberikan pesona yang sama ketika pertama kali kita melihatnya dalam latex hitam seksi ketatnya. Ya, pada dasarnya Blood Wars masih film yang sama dengan para pendahulunya meski sudah tiga kali berganti sutradara (Kini kendali dipegang oleh seorang eks sinematografer, Anna Foerster). Sayang konsistensi juga masih berlaku buat kualitas naskahnya yang tidak pernah benar-benar bisa diperbaiki. Masih menderita di sana-sini dengan segala kerumitan yang seakan tidak berujung, perseteruan vampire dan lycan kembali diulang dan diulang tanpa motif yang benar-benar kuat selain dendam abadi masa lalu, meski memang sejak Awekening fokus lebih bergeser ke pribadi Selene dengan segala kisah asmara dan evolusinya sebagai vampir super yang kemudian menjadi dasar buat narasi Blood Wars ini.

Bukan berarti tidak ada sesuatu yang baru di sini, ada, hanya saja bukan sesuatu yang sampai bisa membuat Blood Wars menjadi seri yang lebih istimewa ketimbang pendahulunya, tidak dengan kehadiran Tobias Menzies sebagai komandan baru para lycan atau Lara Pulver sebagai Semira yang licik,  termasuk kejutan di ujung cerita yang tampak sekali terkesan terlalu dipaksakan tanpa memberi penjelasan yang cukup. Sementara untuk bagian aksinya, Blood Wars masih sama memukaunya dengan pendahulunya, meski yah, saya lebih memilih momen puncak Awakening ketimbang ini namun sekali lagi, perseteruan fisik di Blood Wars masih masuk dalam tahap menghibur, terlebih Beckinsale masih tampil sama keren dan bad ass-nya seperti yang sudah-sudah dengan segala pesona fisik dan kemampuan vampirnya yang luar biasa.

Underworld: Blood Wars (2016)
6.5 Movienthusiast's
Summary
Tidak ada yang spesial di seri terbaru Underworld ini, semua masih sama mediokernya seperti pendahulunya, tetapi jika kamu suka franchise ini apa adanya ia, maka Blood Wars wajib kamu tonton.
CERITA5.8
PENYUTRADARAAN7
AKTING6.2
VISUAL7

 

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top