Review

Train to Busan (2016)

Halloween comes early. Agustus ini para fans horor/thriller benar-benar dimanjakan dengan kedatangan, tidak hanya satu, tidak hanya dua namun empat sekaligus film-film penuh teror mencekam yang datang silih berganti memberikan hiburan maksimal pemacu adrenalin. Diawali oleh perjuangan Blake Lively bertahan hidup dari serangan hiu ganas dalam The Shallow, ancaman mengerikan dari kegelapan dalam Lights Out, thriller home invasion  luar biasa menyesakan dalam Don’t Breathe sampai Train to Busan. Untuk judul yang terakhir itu adalah gelaran zombie apocalpyse dari negeri ginseng yang sudah menghadirkan hype besar jauh-jauh hari sejak penayangan perdana di Midnight Screenings Cannes sampai kemudian memecahkan rekor dengan 10 juta penonton di Korea Selatan untuk tahun ini.

Train to Busan mungkin bukan film zombie pertama yang pernah diproduksi perfilman Korea Selatan namun ia mungkin yang pertama digarap dengan sangat baik, bahkan kalau mau jujur ia lebih baik dari World War Z-nya Brad Pitt. Premisnya mungkin tidak menawarkan sesuatu yang baru, masih berputar pada konsep zombie klasik dengan cerita tentang kiamat akibat virus misterius mematikan yang mendadak merubah manusia menjadi mayat hidup ganas dan merebak luas menghancurkan dunia, dalam kasus ini adalah Korea Selatan. Ceritanya sendiri coba disempitkan, memusatkan pada narasi Seok-Woo (Gong Yoo), menejer dari sebuah perusahaan keuangan yang terpaksa harus menemani putri semata wayangnya, Su-an (Kim Su-an) dalam perjalan kereta api cepat ke kota Busan untuk menemui mantan istrinya tanpa pernah mengira bahwa di saat bersamaan, Seoul dilanda kerusuhan besar akibat manusia-manusia yang mendadak menjadi gila dan ganas, termasuk di KLX yang ditumpanginya.

Seperti Snowpiercer bertemu World War Z, Train to Busan dibawah komando sutradara Yeon Sang-ho bisa dibilang membawa subgenre ini satu langkah lebih tinggi dari kebanyakan koleganya. Memanfaatkan ruang sempit sebagai latar belakang setiap terornya, dalam kasus ini Korea Selatan dengan kereta cepat KLX-nya, Sang-ho benar-benar tahu bermain-main dengan efek klaustrofobik di 45 menit pertamanya. Ya, itu adalah 45 menit yang luar biasa mendebarkan, sudah lama saya tidak merasakan sensasi menonton zombie apocalypse sedahsyat ini sejak remake Dawn of The Dead dan Rec. Jika kamu membuang premis zombi-nya, ini mungkin hanya drama tentang ayah workholik yang harus mengatarkan putrinya ke Busan untuk bertemu ibunya, tetapi menginjeksinya dengan serum zombie membuat drama ayah-anak ini kemudian bertransformasi cepat menjadi tontonan horor yang siap mengajakmu menjerit-jerit ketakutan seperti anak kecil.

Tensinya dibangun dengan sangat baik oleh Sang-ho, ia benar-benar memaksimalkan setiap gerbong KLX menjadi panggung penuh ancaman dan kecemasan luar biasa buat manusia-manusia yang terjebak di dalamnya untuk sebisa mungkin bertahan hidup dari kejaran para zombi yang cepat, buas dan banyak, dari sekedar pintu elektronik yang memisahkan setiap gerbong sampai kesunyian ketika melewati terowongan gelap. Banyak kejutan mewaranai perjalanan 400 Km dari Seoul ke Busan yang membuat penontonnya menantikan apa yang kira-kira terjadi selanjutnya dengan nafas berat. Narasi garapan Park Joo-suk juga memberi zombi-nya karakteristik tersendiri yang nantinya berimplikasi pada ketegangan yang dihadirkan. Pemilihan set ruang sempitnya memang menjadi pembeda, salah satu adegan puncaknya itu juga luar biasa, namun tidak hanya itu saja. Seperti kebanyakan film Korea, Sang-ho memberi banyak melodrama di dalamnya selain teror dan kengerian. Cerita tentang relasi ayah-anak, kemanusiaan, kepedulian terhadap sesama, pengorbanan hebat sampai krisis kepercayaan yang kemudian bercampur aduk dengan ketegangannya, menghasilkan pertunjukan roller coaster emosi. Memang pada akhirnya Train to Busan menjadi sedikit klise dan cengeng. tetapi apapun itu, susah untuk mengelak bahwa ia adalah salah satu zombie movie terbaik yang pernah dibuat.

Train to Busan (2016)
7.8 Movienthusiast's
Summary
Mungkin tidak berlebihan jika menobatkan Train to Busan sebagai tontonan zombie apocalypse terbaik yang pernah dibuat perfilman Korea Selatan. Train to Busan tidak hanya memberikan pertunjukan teror yang penuh kengerian dan ketegangan namun di saat bersamaan ia juga menghajar emosimu dengan banyak kejutan serta melodrama kemanusiaannya yang menghenyak.
CERITA7.3
PENYUTRADARAAN8.2
AKTING7.7
VISUAL7.8

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top