Review

The Finest Hours (2016)

The Finest Hours sesungguhnya punya cukup bekal untuk menjadi tontonan menarik, apalagi ketika melebeli dirinya sebagai sebuah disaster movie  yang diangkat dari peristiwa nyata. Ya,  kisah heroik para penjaga pantai Amerika pemberani dalam usaha mereka menyelamatkan lebih dari 30  awak kapal tanker minyak SS Pendleton yang terbelah dua karena di hantam badai nor’easter  di lepas pantai New England  64 tahun silam dengan hanya bermodal kapal motor boat penyelamat kecil; CG 36500 mestinya bisa menjadi sajian besar yang menggugah emosi, sayang ia tidak mampu bercerita dengan baik.

Sutradara Craig Gillespie (Lars and the Real GirlMillion Dollar Arm)  bisa saja membuang segala elemen-elemen romansa melodramatis yang terlalu banyak dan tidak perlu itu, tetapi nyatanya ia sama seperti karakter Bernard Webber yang memilih untuk melakukan segalanya sesuai dengan buku pedoman, dalam kasus ini buku pedoman Gillespie adalah novel biografi The Finest Hours: The True Story of the U.S. Coast Guard’s Most Daring Sea Rescue buah pena Michael J. Tougias dan Casey Sherman. Hasilnya, 117 menit The Finest Hours terasa begitu sangat panjang dan melelahkan.

Jangan salah, dari segi teknis, The Finest Hours sama sekali tidak buruk. Gillespie cukup piawai mengolah beberapa momennya dengan baik besama bantuan CGI yang bagus dan sinematografi cantik Javier Aguirresarobe. Lihat saja misalnya ketika adegan Bernard Webber dan timnya nekat mempertaruhkan nyawa berusaha menembus gosong pasir dahysat dengan CG 36500 terasa begitu mendebarkan. Kamera Aguirresarobe bergerak dinamis menangkap momen-momennya dramatisnya, baik dari atas maupun bawah laut yang mampu menghadirkan sisi mencekam tersendiri. Sementara di tempat lain Gillespie memperlihatkan wajah-wajah putus asa dari kru SS Pendleton yang terombang-ambing tak menentu di kapal minyak yang buntung separuh. Dan guna memperkuat melodramanya lebih jauh lagi, ditambahlah sosok Holliday Grainger sebagai Miriam calon istri Webber yang menunggu cemas.

Cinta, keberanian serta keajaiban dari sebuah peristiwa nyata bersejarah, begitu banyak benih-benih melodramatis berpotensi meletupkan emosi, tetapi nyatanya, The Finest Hours nyaris bergerak  terlalu datar dan menjemukan, terlebih di bagian akhir yang berasa antiklimaks. Tidak peduli setinggi dan sedahsyat apa gelombang yang menghajar, meski terasa intens di beberapa bagian, namun karena ketidak becusan Gillespie mengolah emosi dari para cast-nya membuat kita tidak pernah bisa peduli dengan karakternya, tidak ada simpati yang hadir meski mereka bertaruh nyawa dan untuk film macam ini. Ya, faktanya The Finest Hours memang diisi oleh nama-nama besar macam Chris Pine, Ben Foster, Casey Affleck sampai Erick Bana, tetapi tidak ada satu pun yang mampu bersinar.

The Finest Hours (2016)
6.6 Movienthusiast's
CERITA6.6
PENYUTRADARAAN6.5
AKTING6.2
VISUAL7

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top