Review

That Thing Called Tadhana (2015)

Versi tagalog dari Before Sunrise, That Thing Called Tadhana tampil memesona sebagai sebuah romcom indie dengan kesederhanaanya bertutur, kecakapan sutradara Antoinette Jadaone mengolah naskahnya dengan segala isu-isu percintaan sehari-hari yang berhasil digerakan oleh pesona dua cast utamanya yang tampil solid.

Tidak banyak film-film produksi Philipina yang saya tonton, namun beruntung, saya selalu sukses mendapatkan film-film bagus ketika mencoba menontonnya, misalnya, seperti komedi romantis indie milik sutradara pemula Antoinette Jadaone yang direkomendasikan oleh teman dan suhu saya dari Movievora. Ya, Jadone mungkin saja bisa kamu anggap sebagai sutradara amatiran, tetapi berdasarkan pengalaman justru sutradara-sutradara kelas rookie ini yang kebayakan berhasil memberi kejutan tersendiri, dan That Thing Called Tadhana bisa dibilang adalah kejutan yang benar-benar menyenangkan.

Jika banyak romcom cheesy mengakhiri ceritanya dengan momen klise di airport, That Thing Called Tadhana malah memulainya dari sana. Ada Mace (Angelica Panganiban) tengah bersedih, bukan hanya karena barang bawaannya yang kelebihan beban itu teracam gagal masuk ke dalam bagasi pesawat yang membawanya pulang ke Philipina dari liburannya di Roma, namun ia juga karena ia baru saja putus dengan kekasihnya setelah 8 tahun pacaran. Melihat situasi tidak menyenangkan yang dihadapi Mace, Anthony (JM de Guzman) pemuda 29 tahun yang kebetulan juga mau pulang ke Philipina lalu menawarkan bantuan untuk berbagi barang bawaan. Tetapi bukannya berpisah setelah sampai di tanah air, dari pertemuan yang disatukan takdir itu, keduanya memilih untuk menghabiskan waktu bersama, ngobrol banyak tentang banyak hal, khususnya kehidupan pribadi dan percintan masing-masing sembari melakukan perjalanan ke luar kota.

Dimulai dengan pertemuan dan perkenalan tak sengaja di sebuah momen liburan serta didominasi oleh romansa intim yang dipenuhi dengan obrolan panjang, tentu saja mudah buat penontonnya untuk merasakan sensasi de javu tersendiri yang mengingatkan That Thing Called Tadhana dengan duet maut Ethan Hawke dengan Julie Delpy dalam trilogi Before-nya RIchard Linklater yang melegenda itu, atau mungkin contoh yang lebih lokal seperti Hari untuk Amanda dan 3 Hari untuk Selamanya (kebetulan semua contoh film itu adalah drama romantis favorit saya sepanjang masa). Ya, membuat sebuah romantika ‘banyak bacot’ macam ini jelas penuh resiko dan tingkat taruhannya sangat tinggi, salah-salah ia malah menjadi tontonan membosankan ketimbang romantis apalagi lucu, tetapi Antoinette Jadaone bisa dibilang sudah berhasil melakukan tugasnya dengan sangat baik ketika berhasil mengkombinasikan premis sederhanannya  dalam presentasi rileks, asik dan sangat jauh dari kesan melodrama mendayu-dayu berlebihan bersama dukungan kekuatan chemistry tangguh dari dua pemain utamanya.

Ya, untuk jenis romansa macam ini yang hampir seluruh durasinya dihabiskan dengan adegan jalan-jalan dan percakapan ceplas-ceplos, Jadaone mencoba memasukan tema-tema sensitif dalam masalah percintaan yang mungkin sering dialami setiap korban cinta, dari bagaimana rasanya sakit hati pasca putus sampai kapan kamu harus move-on dari masa lalu yang menyakitkan. Namun isu menarik seputar masalah romantika saja tidaklah cukup untuk membuat That Thing Called Tadhana tampil baik. Seperti yang sudah saya singgung di atas, keintiman dan chemistry tangguh adalah senjata utama yang berhasil menghidupkan kekuatan romansanya. Baik Angelica Panganiban dan JM de Guzman memang adalah sosok-sosok manusia rupawan secara fisik, sebuah kesan pertama yang mungkin akan terlihat klise untuk menarik perhatian, namun dalam perjalannya, kedekatan keduanya yang terbangun secara natural berhasil sedikit demi sedikit membuat penontonnya tidak lagi terlalu peduli pada pesona ragawi keduanya, sebaliknya kita akan diajak menjadi pendengar yang baik, diajak untuk tercebur dalam masalah-masalah mereka yang beberapa terdengar cengeng beberapa terdengar lucu dan beberapa terdengar begitu manis, terutama kisah busur panah dan hati milik Mace yang seperti sudah mewakili kisah kedua insan yang dirundung kegalauan akan cinta ini. Dan satu hal terakhir lagi, saya senang dengan bagaimana Jadaone memilih untuk mengakhiri kisahnya bersama sebuah closing yang sukses mempermainkan emosimu.

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top