Review

Terpana (2016)

Siang itu, Rafian terpana sebegitu hebatnya, saat kedua matanya menatap sesosok gadis jelita yang sedang duduk dan mencoret-coret buku skestsanya di sebuah kafe terbuka. Ada, nama perempuan itu, juga dirasa Rafian menyelamatkan hidupnya, tatkala dalam perangahnya, sebuah truk nyaris menyambar tubuh sang pemuda, namun karena ia tak bergeming sesaat kala menatap Ada, maut gagal meraihnya. Pertemuan pertama keduanya tadi lantas membawa Ada dan Rafian dalam perbincangan dalam mendalam mengenai filsafat kehidupan, teori relatifitas, hingga cinta.

Terpana yang dalam judul internasionalnya disebut Transfixed adalah film teranyar dari sutradara Richard Oh setelah tahun lalu sempat merilis Melancholy is a Movement. Dibanding dengan Melancholy is a Movement yang menyertakan banyak karakter dan plot yang cukup jelas di tiga perempat alurnya, Terpana serasa lebih sepi dan personal. Hanya memajang dua karakter utama yang terus berdialog panjang sepanjang film hingga berargumen, Terpana juga memiliki inti cerita yang sederhana namun cukup rumit dalam detilnya. Bisa jadi, Richard terinspirasi film-film sejenis laiknya trilogi Before-nya Richard Linklater dan Certified Copy-nya Abbas Kiarostami. Bedanya, Richard lebih membuat filmnya terkesan ilmiah dengan menebar banyak tanya jawab ilmu fisika yang sulit dimengerti penonton awam. Bukan hal yang keliru memang, namun penonton yang datang ke bioskop lalu memilih film ini yang mungkin dianggap sebagai film komedi romantis biasa bisa jadi benar-benar terpana dan bingung dengan perbincangan Ada dan Rafian yang terlampau berat. Mungkin Richard ingin agar filmnya terlihat jenius, barangkali. Entahlah. Di luar isu bincang-bincang dua protagonisnya yang terkadang terlalu pintar, Terpana juga kerap memainkan persepsi dan ruang logika yang bisa dilewatinya dengan sesuka hati. Jangan heran jika karakternya bisa berpindah-pindah lokasi dalam sekejap, hingga konsep pertukaran pemain yang cukup membingungkan dan mungkin masuk dalam fantasi karakter utamanya. Ah, bagi yang pernah mencicipi film Richard Oh sebelumnya mungkin agak terbiasa dengan gaya tutur sineas yang satu ini, yang kerap menawarkan film-film “berbeda” yang bisa jadi tak bisa dinikmati banyak orang.

Menebar banyak ide-ide dan pemikiran kontemplatif yang jatuhnya malah tendensius, Terpana untungnya berhasil menampilkan akting baik dari para pelakonnya. Raline Shah dan Fachry Albar terlihat cukup padu menjalankan alur film sebagai dua bintang utamanya. Keduanya cukup sukses memerani peran mereka dengan baik di layar, mengingat porsi mereka yang sangat besar. Sedang aktor aktris pendukungnya juga cukup mencuri perhatian, dari Reza Rahadian yang kebagian beberapa adegan namun tetap bermain apik walu terkadang berasa berlebihan, Poppy Sovia yang numpang lewat dan terlihat laiknya Sienna Miller di film Burnt, hingga Aghi Narottama yang menggganggu dan konyol sebagai penguntit aneh.

Ditutup dengan adegan di lapangan golf, Terpanan mungkin hanya menawarkan tontonan alternatif yang berbeda dan mengundang banyak kernyit di dahi dengan temanya yang ganjil dan penuturan Richard Oh yang tak biasa. Namun, visualnya yang cukup sedap di mata dan para pemainnya yang berakting baik, paling tidak bisalah menjadi hal positif dari film yang memiliki ide besar namun dieksekusi dengan tidak maksimal ini.

Terpana (2016)
5.5 Movienthusiast's
Summary
Memiliki gagasan dan tema yang terlampau besar, Terpana hanya meninggalkan kesan pada gambar-gambarnya yang lumayan elok di mata serta akting baik dari para aktornya.
CERITA5
PENYUTRADARAAN5
AKTING7
VISUAL6.5
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top