Tag Archives: Perancis

Review – Bel Ami (2012)

Charles Forestier: ” You couldn’t have come at a better time.Paris is filthy with money, even the whores are getting rich “

Robert Pattinson sedang berada di Paris pada tahun 1890 dengan stelan mahal dan topi tingginya, tapi ini jelas bukan prekuel Twilight, tidak ada cerita soal bagaimana asal muasal ia menjadi vampir bergliter abadi. Dari novel klasik Perancis milik Guy de Maupassant, Pattison memerankan Georges Duroy, mantan tentara dan social climber yang berambisi untuk mendapatkan segalanya dengan menggunakan kelebihan fisik dan daya tarik seksualnya dalam memanipulasi kaum hawa, terutama istri-istri dari orang-orang penting yang paling berpengaruh di Paris.

Read more »

Review – The Intouchables (2011)

” celebrates the power of friendship “

Drama terlaris kedua sepanjang masa Perancis ini punya kesamaan dengan film-film lain macam The Sea Inside, The Diving Bell and The Butterfly atau Guzaarish, sama-sama menghadirkan karakter penderita tetraplegic atau quadriplegia atau kelumpuhan nyaris total sebagai subjek utamanya. Tetapi tidak seperti ketiga film di atas yang mungkin terasa lebih berat dan depresif,  The Intouchables punya aura yang jauh lebih menyenangkan tanpa harus kehilangan segala momen inspiratifnya, ya, kamu juga bisa menyebut film yang disutradarai dan ditulis Olivier Nakache dan Éric Toledano dari kisah nyata ini sebagai sebuah feel-good drama tentang persahabatan tidak biasa antara dua anak manusia,  Philippe ( François Cluzet) si lumpuh yang kaya raya dan Driss (Omar Sly), imigran asal Senegal  dari strata sosial berbeda yang kemudian menjadi pengasuh sekaligus sahabat Philippe. Read more »

Review – A Brand New Life (2009)

Jinhee: “You’ll never know how much I love you. You’ll regret it one day when time has passed “

Salah satu mimpi buruk anak-anak mungkin adalah ditelantarkan orangtuanya  dan harus menjalani hidupnya seorang diri, seperti yang terjadi pada si kecil Jinhee (Kim Sae Ron) yang ‘dibuang’ ayah kandungnya sendiri ke sebuah panti asuhan Katolik. Tentu saja Jinhee tidak pernah menyangka bahwa ayahnya setega itu, padahal malam sebelumnya ia mengalami hari-hari terbaiknya bersama sang ayah. Jadi disinilah Jinhee, di sebuah rumah baru dengan teman-teman baru dan kehidupan baru sebagai anak panti asuhan, berusaha untuk sebisa mungkin beradaptasi sembari memendam sedikit harapan bahwa suatu saaat ayahnya akan menjemput dirinya. Read more »

Review – Tomboy (2011)

Lisa: “You look good as a girl”

Tomboy itu bisa dideskripsikan sebagai  sikap seorang wanita yang menyerupai lelaki, baik dari segi penampilan maupun perangainya, sama halnya ketika kita mendeskripsikan Laure (Zoe Heran). Lihat saja penampilannya, jika bukan karena judulnya yang secara tidak langsung sudah ‘membocorkannya’ mungkin kita tidak akan pernah tahu, setidaknya sampai beberapa menit kemudian bahwa bocah 10 tahun itu adalah seorang perempuan dibalik potongan rambut pendeknya, wajahnya yang tampan dan bagaimana ia memilih pakaian. Yang terjadi kemudian adalah tanpa sepengetahuan orangtuanya Laure kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Mikael, menyembunyikan rapat-rapat identitas perempuannya sebagai imbas prasangka dari  teman-teman barunya, kebetulan ia dan keluarganya baru saja pindah ke rumah baru di pinggiran kota Paris. Read more »

Review – The Artist (2011)

George Valentin:  ” If you want to be an actress, you need to have something the others don’t “

Tidak ada hal yang lebih luar biasa dari membuat sebuah film bisu hitam putih di era hingar bingar sinema dengan teknologi 3D canggih saat ini, dan jika ada  orang yang berani melakukannya pasti ia sudah gila. Tapi sutradara Perancis Michel Hazanavicius jelas bukan orang gila, buat saya ia adalah seorang sineas sekaligus pecinta film sejati yang mungkin merindukan bagaimana sensasi menonton silent movie penuh nostalgia yang sudah mulai terlupakan itu. Read more »