Review

Split (2017)

Mungkin saya adalah satu dari sedikit orang yang masih dan akan selalu percaya dengan kualitas seorang  M. Night Shyamalan sekalipun ia sempat membuat dosa-dosa besar dalam kariernya di adaptasi The Last Airbender, dan After Earth. Ya, The Last Airbender dan After Earth, bukan The Village, Lady the Water atau The Happening yang meski dicap buruk dan katanya tidak berada di level maha karyanya seperti The Sixth Sense dan Unbreakable atau Signs mungkin, tetapi bagi saya itu tetap adalah film-film yang masih sangat Shyamalan banget.

Dua tahun setelah bencana After Earth, Shyamalan melahirkan The Visit, horor “haunted house” tentang dua orang cucu mengunjungi kakek-nenek mereka yang aneh bisa dibilang adalah seperti sebuah tanda awal kembalinya sang raja twist, tanda awal yang kemudian diikuti dengan comeback sebenarnya setahun kemudian dalam thriller psikologis Split. Ya, Split, thriller tentang tiga orang remaja putri, Casey Cooke (Anya Taylor Joy), Claire Benoit (Haley Lu Richardson) dan Marcia (Jessica Sula) yang diculik dan disekap di sebuah rubanah oleh seorang pria pengidap DID (Dissociative Identity Disorder) parah alias kepribadian ganda untuk sebuah ritual aneh bisa jadi adalah karya terbaik Shyamalan setelah Signs.

Premisnya memang bukan barang baru dalam dunia thriller, dari klasik Dr Jekyll And Mr Hyde, The Three Faces Of Eve sampai yang lebih modern seperti Identity dan Shutter Island, cerita-cerita tentang masalah kejiwaan yang berhubungan dengan kepribadian ganda akan selalu menjadi tontonan menarik, dan akan menjadi semakin menarik ketika M. Night Shyamalan membawa tema ini ke dunianya yang dipenuhi belitan dan kejutan.

Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui siapa pengidap DID di sini. Ya, ada James McAvoy menjadi Kevin Wendell Crumb, Dennis, Patrica, Hedwig, Barry dan……ah,  saya tidak akan menyebutkan lagi sisa 19 dari kepribadiannya. Yup! ada 23 kepribadian terpisah yang tinggal dalam kepala yang sama, setiap kepribadian membentuk karakter yang benar-benar berbeda, di satu waktu ia adalah Dennis yang dingin lengkap dengan kelainan COD-nya, di waktu yang lain ia adalah Hedwig, bocah 9 tahun penggemar Kanye West, belum saya menyebut Patricia yang anggun, Barry si perancang busana atau Jade yang mengidap diabetes. Mungkin dari segi medis para dokter dan psikiater akan menertawakan teori gila Shyamalan di sini, bahkan konon Split sempat menimbulkan kontroversi di kalangan para peneliti DID. Tetapi sepertinya sutradara India-Amerika ini seperti tidak terlalu memusingkan soal tetek bengek medisnya yang rumit, sebaliknya dalam balutan tema thriller penculikan dengan elemen berbau fantasi dan supranatural, Shyamalan menciptakan sendiri dunia kepribadian ganda miliknya bersama kualitas narasinya yang cerdas.

Seperti premisnya itu sendiri, Shyamalan membelah plotnya dalam dua bagian besar. Di satu sisi ada cerita tentang penculikan dan penyekapan tiga remaja dalam sebuah set sempit dan permainan “kucing-kucingan” yang didominasi oleh Kevin bersama kepribadian gandanya serta Casey Cooke sebagai satu-satunya korban paling cepat mengerti tentang kondisi Kevin dan mencoba memanipulasinya. Sementara di satu sisi lain ada investigasi menarik tentang mental Kevin yang dikupas perlahan namun pasti melalui relasinya dengan seorang psikiater senior, Dr. Fletcher (Betty Buckley). Dua plot terpisah ini punya kekuatannya tersendiri di mana sedikit banyak sudah memberi penjelasan tentang apa yang terjadi pada Kevin, dari masa lalunya termasuk masa lalu Casey Cooke yang turut diekspos, motif Kevin menculik dan bagaimana setiap kepribadiannya bekerja yang nantinya berujung pada sebuah klimaks pencarian jati diri mengerikan dan twist ending yang dijamin membuat setiap fans Shyamalan akan bersorak kegirangan.

Shyamalan begitu kesengsem dengan DoP Mike Gioulakis ketika ia menonton It Follows, jadi tidak heran kemudian ia membawanya untuk memberikan sentuhan teknis di Split, terutama untuk sinematografi, dan hasilnya benar-benar mengagumkan. Kombinasi Shyamalan-Gioulakis memberikan penontonnya sebuah pengalaman klaustrofobik mencekam, di dominasi dengan teknis kamera jempolan yang direkam dalam tone gelap dan suram , dunia Split siap memberi rasa tidak nyaman sekaligus rasa penasaran yang terus mengganggumu sedari awal hingga akhir yang mengguncang.

Tentu saja tidak sah ketika sebuah thriller tentang kepribadian ganda tidak ditunjang dengan performa apik dari cast-nya. Dalam kasus ini pujian pantas diberikan kepada McAvoy yang tampil gemilang sebagai antagonis mengerikan nan misterius sekaligus terasa komedik, bergantian membawakan banyak peran dalam satu tubuh yang jelas jauh dari kata mudah. Memang pada akhirnya Shyamalan tidak mengeluarkan semua kepribadian Kevin yang sampai berjumlah 24, ada alasan mengapa tidak semuanya keluar, namun melalaui kemampuan apik McAvoy kita langsung bisa tahu siapa-siapa saja yang muncul dalam sebuah transformasi yang mulus. Namun tidak hanya McAvoy yang bersinar, bintang muda The Witch dan Morgan, Anya Taylor-Joy sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah talenta muda yang potensial. Shyamalan memberi Taylor-Joy porsi penting untuk karakter Casey termasuk guliran masa lalu dalam rangkaian flashback yang memberi pengaruh tidak hanya pada karakternya namun pada narasi secara keseluruhan.

Split (2017)
7.9 Movienthusiast's
Summary
M. Night Shyamalan sudah kembali saudara-saudara! Split membuktikan bahwa Shyamalan masih punya taji tajam untuk menghadirkan sajian horor-thriller psikologis mencekam yang cerdas dan penuh belitan kuat yang siap mencekikmu, serta tentu saja tidak ketinggalan, twist ending.
CERITA7.7
PENYUTRADARAAN8.1
AKTING7.8
VISUAL7.8

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top