Film Indonesia

Siti (2015)

Film yang powerfull itu tidak selamanya datang dari karya dengan bujet besar dengan segala kemewahannya. Siti adalah contoh bagaimana sebuah kesederhanaan mampu memberikan efek ‘tampar’ yang luar biasa bagi para penontonnya. Setelah berkesempatan untuk bisa menyaksikannya sendiri, saya mengerti mengapa sampai para dewan juri FFI yang terhormat memilihnya sebagai pemenang utama piala Citra tahun lalu sebagai film terbaik, termasuk naskah dan musik terbaik, ya, itu adalah sebuah keputusan  tepat, meski bisa dibilang saingannya, Mencari Hilal jelas juga film yang buruk.

Drama garapan Eddie Cahyono itu jelas bukan jenis film yang mampu meraup jutaan tiket, bahkan ia hanya ditayangkan di segelintir bioskop dengan layar dan jam tayang yang terbatas pula. Saya tidak menyalahkan pihak bioskop, toh, film hitam putih dengan aspek rasio sempit plus 90% karakternya berdialog Jawa yang disajikan dengan aroma arthouse kental jelas bukan bahan jualan yang bagus. Premisnya pun simpel, sesuai judulnya, ini adalah cerita dari pantai Parangtritis, Yogyakarta tentang Siti, seorang istri dan ibu muda yang harus berjuang memenuhi hidup keluarganya setelah sang suami mengalami kecelakaan di saat bekerja sebagai nelayan. Lihat, begitu simpel, begitu sederhana, tetapi siapa yang menyangka di balik kebersahajaan ceritanya ia memberikan pertunjukan emosi yang luar biasa.

Ini adalah cerita tentang kehidupan, bagaimana setiap pilihan adalah dilema menyakitkan seperti pisau bermata dua, bagaimana setiap kesempatan besar yang datang diiringi pula dengan pengorbanan yang sama besarnya. Siapa yang menyangka bahwa kita akan turut terjebak untuk merasakan apa yang dirasakan Siti melalui penyajiannya yang begitu membumi, tanpa harus memaksakan melodrama yang lebay. Presentasi natural ini digarap dengan sangat baik oleh Eddie Cahyono, bahkan sejak menit-menit pertama ia bergulir ada rasa keintiman yang langsung memikat hati melalui akting luar biasa debutan Sekar Sari yang tampil begitu jujur, lengkap dengan dialog-dialog Jawa Tengah kental yang membuatnya segalanya semakin nyata. Sementara kamera Eddie Cahyono tidak bosan-bosannya menyorot keseharian karakter Siti melalui rangkaian take panjang, menghasilkan sebuah pengalaman sinematik yang menggetarkan.

Disesaki dengan filosofi kehidupan yang memang tidak selamanya adil, terutama buat para kaum marginal, tetapi itulah hidup. Di satu sisi  kebahagiaan dari janji suami untuk membelikan cincin pernikahan baru dan mainan yang banyak buat putra mereka  harus dengan sekejap sirna, digantikan dengan pahitnya hidup. Berjualan peyek jinking di tengah teriknya matahari pantai Parangtritis dan profesi ‘tabu’ sebagai pemandu karaoke di saat malam tiba mendadak menjadi pekerjaan keseharian Siti, belum lagi hutang menumpuk yang harus dibayar dalam tempo yang sesingkat-singkatnya sementara uangnya baru saja dibelikan seragam baru buat putra semata wayangnya, Bagas (Bintang Timur Widodo).

Aroma yang dihembuskan Siti memang terasa depresif, termasuk bagaimana Eddie Cahyono memilih jalan tak populer dengan ‘menelanjangi’ warna-warnanya, menggantinya dengan palet monokrom yang membuatnya semakin murung sekaligus menebalkan konflik abu-abu yang penuh renungan di sepanjang 86 durasinya. Tetapi bukan berarti Siti tidak bisa tampil cantik di balik tema muramnya.  Siti bak sebuah puisi hitam putih yang indah sekaligus menyakitkan di saat bersamaan. Gambar-gambar yang dihadirkan mampu menghantui dan menghadirkan emosi tersendiri. Ada tawa yang getir dari balik guyonan-guyonan yang terlontar, ada rasa sakit di balik senyuman-senyuman palsu di hingar bingar dan temaram ruang karaoke sempit beraroma asap rokok dan miras oplosan memabukkan.

Siti (2015)
8 Movienthusiast's
Summary
Jangan pernah meremehkan kesederhanaan dan tampilan monokromnya yang jauh dari menjual, karena ketika kamu masuk lebih dalam susah untuk keluar tanpa memikirkannya. Ya,Siti adalah drama kemanusiaan yang sangat kuat dalam menyampaikan pesannya secara simpel namun menampar keras bersama dukungan hebat teknis penyutradaraan dan akting para pemainnya.
CERITA7.6
PENYUTRADARAAN8.4
AKTING8
VISUAL7.8

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top