Review

Rogue One: A Star Wars Story (2016)

Tidak ada Luke Skywalker, tidak ada Han Solo dan Putri Leila, tidak ada perang lightsaber dan pertarungan Jedi dan The Dark Side, bahkan crawl opening legendaris dengan scoring abadi  John Williams itu pun lenyap, lantas apakah kamu masih pantas menyebut Rogue One adalah Star Wars yang kita kenal? Tentu saja. Memang kamu tidak akan menemukan hal-hal ikonis ala saga Star Wars di sini, tetapi percayalah, Rogue One tetap menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari wara laba space soap opera terbesar di jagat raya ini. Rogue One sendiri adalah bagian pertama dari proyek antologi Star Wars yang terdiri dari cerita-cerita lepas yang tidak berkaitan langsung dengan seri-seri utamanya meski faktanya semua cerita-cerita dari seri stand-alone ini masih berada dalam universe yang sama.

Memosisikan dirinya sebagai sebuah prekuel dari seri awal, Star Wars: Episode IV – A New Hope, Rogue One memulai kisahnya sedikit ke belakang, jauh sebelum Luke Skywalker bertemu Obi-Wan Kenobi yang berujung dengan kehancuran Death Star. Di Rogue One, Death Star (Stasiun luar angkasa raksasa berbentuk bola dengan kekuatan yang mampu menghancurkan sebuah planet) sendiri tengah dalam tahap pembuatan. Pihak Empire membutuhkan orang-orang terbaik agar proyek besar mereka itu dalam usaha menguasai jagat raya bisa cepat selesai. Untuk itu Orson Krennic yang memimpin proyek Death Star kemudian memaksa mantan ilmuwan terbaiknya, Gake Ersi (Mads Mikkelsen) untuk kembali bergabung. Masalahnya, Gake Ersi yang sudah hidup tenang bersama istri dan putrinya, Jyn Erso (Felicity Jones) emoh untuk kembali, tetapi tentu saja kamu tahu pihak Empire tidak senang ditolak. Singkat cerita, Gake Ersi dengan sangat terpaksa harus kembali bekerja buat Empire, namun beruntung Jyn Erso kecil berhasil melarikan diri dengan bantuan Saw Gerrera (Forest Whitaker) veteran Clone Wars yang juga sahabat dari Gake Ersi. 15 tahun kemudian Rebel Alliance meminta bantuan Jyn Erso untuk mencuri cetak biru Death Star dengan bantuan pilot tempur pemberontak, Cassian Andor (Diego Luna) bersama teman robotnya, K-2SO, serta dua pejuang Jedha, Chirrut Îmwe (Donnie Yen) dan Baze Malbus (Jiang Wen).

Universe Star Wars yang begitu luas memungkin dirinya memunculkan cerita-cerita baru yang seperti tidak pernah berujung, dari tiga prekuel yang masih memiliki benang merah dengan tiga seri pertamanya, tiga sekuel lagi yang dimulai oleh Episode VII: The Force Awakens sampai versi animasi Star Wars: The Clone Wars, itu saya belum lagi menyebut varian dari video game dengan seri-seri The Old Republic-nya. Rogue One sendiri bisa dibilang hanya bagian kecil, bagian yang lebih besar, bagian yang mungkin tidak diceritakan pun tidak masalah,  namun tetap saja menarik mengetahui bagaimana semuanya bermula, bagaimana Putri Leia berhasil mendapatkan blue print penting yang kemudian berujung dengan kemunculan Luke sebagai Jedi baru dan kehancuran Death Star oleh pasukan pemberontak.

Tidak seperti The Force Awakens yang bisa dibilang lebih bersahabat dengan penonton baru, Rogue One mungkin lebih ditujukan buat para fans dan penonton veterannya yang tentu saja sudah mengerti bagaimana nanti ceritanya berujung. Materi prekuel yang sebenarnya punya potensi ini sayang sekali tidak digarap dengan maksimal oleh Gareth Edwards (Monsters, Godzilla), ya, mungkin saja bukan sepenuhnya salah Edwards, toh, secara penyutradaraan Rogue One sama sekali tidak buruk, malah bisa dibilang Edwards berhasil menghadirkan fisik dunia Star Wars seperti yang kita kenal, lengkap dengan segala detail planet dan luar angkasa, termasuk adegan perang bintang yang seru dan Star Wars banget, khususnya yang terletak pada bagian klimaks.

Mungkin kamu bisa lebih menyalahkan ke duo penulisnya, Chris Weitz dan Tony Gilroy yang tidak becus menggarap narasi Rogue One dengan baik, Keduanya seperti terlalu memfokuskan segalanya ke bagian lebih besar untuk bisa menyambungkan Rogue One dengan New Hope namun melupakan detail-detail penting termasuk bagaimana mereka membuat karakter-karakter di dalamnya terasa kosong dan tidak punya ikatan kuat, baik ikatan kepada karakter lain ataupun kepada penontonnya. Ya, tidak seperti seri-seri Star Wars pendahulunya yang punya kekuatan pada penokohannya, karakterisasi bisa dibilang menjadi salah satu kelemahan fatal Rogue One. Tokoh Jyn Erso yang notabene adalah karakter sentral tidak pernah benar-benar bisa menonjol, jangankan seperti Luke Skywalker, menandingi pesona Rei dari The Force Awakens saja susah, tidak peduli meski Weitz dan Gilroy sudah memberinya narasi masa lalu dan motifnya untuk mencari sang ayah yang hilang. Susah memang untuk benar-benar bisa bersimpati dan peduli dengan Jyn Erso, sementara relasi antar satu sama lain, misalnya dengan Cassian Andor tidak pernah benar-benar terasa romansanya, tidak ada emosi berlebih ketika ia kemudian bertemu ayahnya kembali, malah ironisnya, karakter non-human seperti K-2So bisa lebih terasa manusiawi, mencuri perhatian dengan segala lelucon dan tingkah lakunya. Sementara penampilan duo warrior Jedha yang dimainkan Donnie Yen dan Jiang Wen yang kehadirannya tidak lain tidak bukan untuk merebut pangsa penonton Tiongkok yang potensial tidak lebih dari sekedar karakter penggembira semata, keren sih memang tetapi mudah terlupakan.

Dari dosa besar pada kualitas narasi dan penokohannya yang mubazir serta gagal memberikan kesan, beruntung Rogue One masih punya third act yang kuat guna mengobati 2/3 awal yang membosankan. Di sini Edwards berhasil menyajikan pertempuran ala Star Wars yang megah, klasik dan spektakuler, baik itu pertarungan di darat maupun luar angkasa, duel antara Rebel Alliance dan Galatic Empire benar-benar memukau, membangkitkan sensasi dan kenangan ketika pertama kali seri Star Wars memesona penontonnya, belum lagi saya menyebut banyaknya referensi dan cameo yang muncul dari New Hope guna memberi sambungan benang merah, termasuk kemunculan ikonis Darth Vader dan karakter kejutan di akhir film dan bagaimana kemudian Rogue One kemudian bisa menyambung sempurna dengan New Hope yang luar biasa itu.

Rogue One: A Star Wars Story (2016)
6.9 Movienthusiast's
Summary
Rogue One tidak lebih dari sekedar fans service yang tidak terlalu penting kehadirannya, bisa mengesankan buat sebagian penggemarnya namun jelas bukan untuk penonton awam yang bisa dipastikan merasa asing dengan seri satu ini. Bisa dibilang Rogue One adalah seri terburuk setelah Phantom Manace, tetapi ini tetap Star Wars yang kita kenal, besar, megah dan spektakuler.
CERITA6
PENYUTRADARAAN7.5
AKTING6
VISUAL8

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top