Review

Review – The Yellow Sea / Hwang hae (2010)

The Chaser, thriller kriminal luar bisa itu sungguh telah membuat nama Na Hong-jin langsung melesat bak anak panah lepas sebagai salah satu sutradara muda Korea Selatan berbakat 2008 lalu. Saya masih ingat jelas bagaimana nyaris setiap adegan kejar-kejaran, kucing-kucingan dan adu pintar dalam The Chaser sudah sukses memompa adrenalin dan emosi saya sampai ke titik paling puncak. Ya, harus diakui memang debut film Na Hong-jin itu memang epik, salah satu thriller terbaik yang pernah saya tonton, imbasnya tentu membuat proyek Na Hong-jin selanjutnya sudah pasti dinatikan oleh banyak penontonnya dari jauh-jauh hari, pensaran  kira-kira apa yang dilakukan Na Hong-jin dalam film keduanya, The Yellow Sea.

The Yellow Sea, drama thriller yang judulnya diambil dari nama laut yang memisahkan dataran Cina dan semenanjung Korea ini mengajak kita bertemu dengan Ku-Nam (Ha Jung-Woo), imigran Korea Utara yang menetap di Yanbian, salah satu daerah di Cina yang berbatasan langsung dengan Rusia, dan Korea Utara. Gu-Nam sendiri mengisi hari-harinya dengan bekerja sebagai supir taksi, pria satu ini juga diilit utang besar, uang yang dipinjamnya dari para rentenir itu diberikan kepada istrinya yang kemudian pergi meninggalkannya pergi bekerja ke Korea Selatan tanpa kabar berita sejak enam bulan lalu. Gu-Nam tentu saja kesal dengan perlakuan istrinya yang sudah pergi begitu saja hingga kemudian membentuk prasangka buruk di kepalanya bahwa istri yang dicintainya itu sudah berselingkuh dan melupakan dirinya serta putri mereka yang masih kecil. Untuk menambah kesengsaran hidup Gu-Nam, ia kemudian di pecat dari pekerjaanya, terjerumus dalam dunia perjudian, sementara itu disaat bersamaan ia juga dikejar-kejar lintah darat yang menginginkan uang mereka kembali. Hingga pada suatu hari Ku-Nam bertemu dengan Myung-Ga (Kim Yun-Seok),  juragan anjing yang juga dikenal reputasinya sebagai bos kriminal, yang menawarkannya sebuah tawaran mengiurkan. Myung-Ga akan memeberikannya uang untuk melunasi semua hutang Gu-Nam, tentu dengan sebuah syarat, Gu-Nam diperintahkan untuk menyeberangi Laut Kuning, menuju Seoul, Korea Selatan dan disana ia harus membunuh seorang. Ah, jelas sebuah tawaran yang tidak mudah dikerjakan dan juga tidak mudah ditolak, Gu-Nam tidak ada pilihan lain selain menyanggupinya karena ia juga punya misi lain disana, mencari sang istri yang ‘hilang’.

The Yellow Sea tentu saja berbeda dengan The Chaser meskipun keduanya sama-sama berada di bawah lebel ‘thriller’, khususnya dalam hal tema yang diusung. Sebagai sutradara sekaligus orang yang bertanggung jawab dibalik penulisan naskahnya,  Na Hong-jin punya ambisi besar membawa film yang memiliki judul lain The Murderer ini dapat melebihi karya terdahulunya. Premisnya sendiri lebih besar dan lebih luas dari sekedar seorang mucikari yang harus berhadapan dengan psikopat yang menculik dan membunuhi para PSK miliknya, walaupun harus disayangkan pada akhirnya The Yellow Sea tidak mampu memberikan kadar ketegangan sedahsyat The Chaser. Saya sebenarnya menyukai kisahnya, tentang imigran yang notabene hanya seorang supir taksi biasa yang kemudian ditugaskan untuk membunuh demi melunasi hutangnya, semetara disisi lain ia juga memiliki agenda tersendiri, namun menjadi kurang menarik ketika Na Hong-jin menyajikan porsi dramanya ini dengan tempo cukup lambat, terutama pada paruh pertamanya, bahkan The Yellow Sea akan terasa membosankan mereka yang tidak terbiasa dengan alur pelan plus durasi 2 setengah jam yang pasti melelahkan,  jadi saya sarankan anda untuk lebih bersabar karena Na Hong-jin sudah mempersiapkan sebuah turning point menjelang paruh keduanya. Ya, pada bagian ini film yang sempat nangkring di puncak box-office Korea Selatan desember tahun lalu ini mulai menunjukan wujud aslinya. Semuanya bermula ketika Na Hong-jin menyelipkan sebuah twist mengejutkan, efeknya langsung merubah segalanya. Tensi mulai merangkak naik, konflik meluas dan memunculkan beberapa karakter baru yang saling berkonfrontasi antara satu dengan yang lain, dan yang paling menarik tentu dipenuhi dengan rentetan momen memorable yang merefleksikan ciri khas seorang Na Hong-jin seperti adegan kejar-kejaran baik on foot maupun dengan kendaraan yang melibatkan mobil sampai truk kontainer atau adegan baku hantam brutal nan sadis, tusuk menusuk dengan pisau dapur, parang bahkan tulang hewan pun bisa menjadi senjata mematikan disini. Memang beberapa adegan mungkin akan terlihat dihasi dengan beberapa kejadian kebetulan yang  tidak masuk akal, terutama melihat bagaimana ketahanan fisik para karkakternya yang kelewat tangguh apalagi untuk ukuran manusia biasa.

Dan berbicara soal karakternya, The Yellow Sea dipenuhi dengan performa apik dari para pemainnya, termasuk didalamnya Ha Jung-Woo yang sukses mengemban tugasnya dalam membawakan karakternya dengan sangat baik, dari seorang manusia biasa yang harus terjepit oleh sebuah keadaan sampai menjadi buronan yang pada akhirnya berjuang untuk menyelamatkan dirinya sendiri, seperti melihat versi ‘manusiawi’ Harrison Ford dalam The Fugitive. apalagi kemudian Na Hong-jin dipertemukan kembali dengan lawan mainnya Kim Yoon-seok, yang sebelumnya juga pernah beradu akting dengannya dalam The Chaser, bedanya kali ini keduanya bertukar posisi, Ha Jung-Woo kebagian peran jagoan sedangkan Kim Yoon-seok mendapat peran antagonis.

The Yellow Sea mungkin tidak sebaik The Chaser yang notabene mengambil ruang lingkup lebih sempit, terutama dalam menghadirkan sensasi thriller nya, apalagi dengan durasi yang melelahkan itu kemudian bercampur dengan alurnya yang lambat berpotensi untuk menjenuhkan sebagian penontonnya. Namun dari segi teknis harus diakui Na Hong-jin sudah belajar banyak bagaimana harusnya mengeksekusi rangkaian adegan aksinya dengan baik, dan bagian itulah yang kemudian menjadikan The Yellow Sea terasa istimewa, apalagi pada akhirnya Na Hong-jin menutup rangkaian kisahnya ini dengan sebuah ending yang ‘sempurna’.

[xrr rating=7.7/10]

The Chaser, thriller kriminal luar bisa itu sungguh telah membuat nama Na Hong-jin langsung melesat bak anak panah lepas sebagai salah satu sutradara muda Korea Selatan berbakat 2008 lalu. Saya masih ingat jelas bagaimana nyaris setiap adegan kejar-kejaran, kucing-kucingan dan adu pintar dalam The Chaser sudah sukses memompa adrenalin dan emosi saya sampai ke titik paling puncak. Ya, harus diakui memang debut film Na Hong-jin itu memang epik, salah satu thriller terbaik yang pernah saya tonton, imbasnya tentu membuat proyek Na Hong-jin selanjutnya sudah pasti dinatikan oleh banyak penontonnya dari jauh-jauh hari, pensaran  kira-kira apa yang dilakukan Na Hong-jin dalam film keduanya, The Yellow Sea.

The Yellow Sea, drama thriller yang judulnya diambil dari nama laut yang memisahkan dataran Cina dan semenanjung Korea ini mengajak kita bertemu dengan Ku-Nam (Ha Jung-Woo), imigran Korea Utara yang menetap di Yanbian, salah satu daerah di Cina yang berbatasan langsung dengan Rusia, dan Korea Utara. Gu-Nam sendiri mengisi hari-harinya dengan bekerja sebagai supir taksi, pria satu ini juga diilit utang besar, uang yang dipinjamnya dari para rentenir itu diberikan kepada istrinya yang kemudian pergi meninggalkannya pergi bekerja ke Korea Selatan tanpa kabar berita sejak enam bulan lalu. Gu-Nam tentu saja kesal dengan perlakuan istrinya yang sudah pergi begitu saja hingga kemudian membentuk prasangka buruk di kepalanya bahwa istri yang dicintainya itu sudah berselingkuh dan melupakan dirinya serta putri mereka yang masih kecil. Untuk menambah kesengsaran hidup Gu-Nam, ia kemudian di pecat dari pekerjaanya, terjerumus dalam dunia perjudian, sementara itu disaat bersamaan ia juga dikejar-kejar lintah darat yang menginginkan uang mereka kembali. Hingga pada suatu hari Ku-Nam bertemu dengan Myung-Ga (Kim Yun-Seok),  juragan anjing yang juga dikenal reputasinya sebagai bos kriminal, yang menawarkannya sebuah tawaran mengiurkan. Myung-Ga akan memeberikannya uang untuk melunasi semua hutang Gu-Nam, tentu dengan sebuah syarat, Gu-Nam diperintahkan untuk menyeberangi Laut Kuning, menuju Seoul, Korea Selatan dan disana ia harus membunuh seorang. Ah, jelas sebuah tawaran yang tidak mudah dikerjakan dan juga tidak mudah ditolak, Gu-Nam tidak ada pilihan lain selain menyanggupinya karena ia juga punya misi lain disana, mencari sang istri yang ‘hilang’.

 

The Yellow Sea tentu saja berbeda dengan The Chaser meskipun keduanya sama-sama berada di bawah lebel ‘thriller’, khususnya dalam hal tema yang diusung. Sebagai sutradara sekaligus orang yang bertanggung jawab dibalik penulisan naskahnya,  Na Hong-jin punya ambisi besar membawa film yang memiliki judul lain The Murderer ini dapat melebihi karya terdahulunya. Premisnya sendiri lebih besar dan lebih luas dari sekedar seorang mucikari yang harus berhadapan dengan psikopat yang menculik dan membunuhi para PSK miliknya, walaupun harus disayangkan pada akhirnya The Yellow Sea tidak mampu memberikan kadar ketegangan sedahsyat The Chaser. Saya sebenarnya menyukai kisahnya, tentang imigran yang notabene hanya seorang supir taksi biasa yang kemudian ditugaskan untuk membunuh demi melunasi hutangnya, semetara disisi lain ia juga memiliki agenda tersendiri, namun menjadi kurang menarik ketika Na Hong-jin menyajikan porsi dramanya ini dengan tempo cukup lambat, terutama pada paruh pertamanya, bahkan The Yellow Sea akan terasa membosankan mereka yang tidak terbiasa dengan alur pelan plus durasi 2 setengah jam yang pasti melelahkan,  jadi saya sarankan anda untuk lebih bersabar karena Na Hong-jin sudah mempersiapkan sebuah turning point menjelang paruh keduanya. Ya, pada bagian ini film yang sempat nangkring di puncak box-office Korea Selatan desember tahun lalu ini mulai menunjukan wujud aslinya. Semuanya bermula ketika Na Hong-jin menyelipkan sebuah twist mengejutkan, efeknya langsung merubah segalanya. Tensi mulai merangkak naik, konflik meluas dan memunculkan beberapa karakter baru yang saling berkonfrontasi antara satu dengan yang lain, dan yang paling menarik tentu dipenuhi dengan rentetan momen memorable yang merefleksikan ciri khas seorang Na Hong-jin seperti adegan kejar-kejaran baik on foot maupun dengan kendaraan yang melibatkan mobil sampai truk kontainer atau adegan baku hantam, tusuk menusuk dengan pisau dapur, bahkan tulang pun bisa menjadi senjata mematikan disini. Memang beberapa adegan mungkin akan terlihat dihasi dengan beberapa kejadian kebetulan yang  tidak masuk akal, terutama melihat bagaimana ketahanan fisik para karkakternya yang kelewat tangguh apalagi untuk ukuran manusia biasa.

Dan berbicara soal karakternya, penampilan Kim Yoon-seok memang ciamik, ia sukses mengemban tugasnya dalam membawakan karakternya dengan sangat baik, dari seorang manusia biasa yang harus terjepit oleh sebuah keadaan sampai pada akhirnya berjuang untuk menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi kemudian ia ‘ditemani’ oleh

Harus diakui secara teknis Na Hong-jin sudah menghadirkan The Yellow Sea dengan baik, belajar banyak bagaimana menghadirkan rangkaian momen aksi spektakuler, lihat saja setelah memasuki paruh kedua, tensi langbeberapa sekuens kejar-kejaran digarap dengan

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top