Review

Review – The Silent House / La Casa Muda (2010)

” Real Fear In Real Time “

Sore itu, Laura (Florencia Colucci) dan ayahnya baru saja tiba di sebuah rumah milik kerabatnya yang terletak di suatu tempat di pendalaman Uruguay. Di sana mereka akan menginap satu malam sebelum keesokan harinya ditugaskan untuk membersihkan rumah yang sudah lama tak terurus itu sebelum nantinya akan dijual oleh sang pemilik, sebelumnya sang pemilik juga sudah memperingati mereka untuk tidak pernah menginjak lantai dua rumah itu. Ya, Awalnya semua tampak berjalan normal, tapi segalanya mendadak berubah seketika disaat Laura mulai mendengar suara-suara berisik dari luar dan terutama dari lantai dua rumah itu yang semakin keras dan keras, hingga kemudian ia nekad melanggar peringatan si pemilik dan mulai menaiki tangga menuju lantai dua rumah itu.

Selalu menyenangkan jika melihat ada filmmakerfilmmaker di luar sana, apalagi di luar ‘kerajaan besar’ Hollywood yang selalu berani melalukan hal-hal baru dalam menghadirkan sebuah sajian horor berkualitas dan berbeda tentunya. Ya, ada Gustavo Hernández, sineas asal Uruguay ini memang luar biasa, lihat saja dengan hanya dengan budget 6.000 dollar, 3 orang pemain, 4 hari pengambilan gambar, tidak ada spesial efek sama sekali dan satu lokasi ia sudah berhasil menjadikan The Silent House a.k.a La Casa Muda suguhan horor yang tidak hanya menakutkan tapi juga ‘out of the box‘, khususnya dari bagaimana ia mempresentasikan setiap adegan didalamnya yang konon 78 menit dari total 86 menit durasinya di shoot secara real time tanpa ada cut sekalipun dengan hanya satu kamera genggam yang mampu bergerak dinamis dan setia mengikuti setiap tindak tanduk Laura di sepanjang film, luar biasa! Menjadikannya satu-satunya horor di dunia yang menggunakan teknik sinematik komplek itu. Efek dari pengunaan teknik full ‘long take‘ tersebut tentu saja memberikan saya sebuah sensasi menonton horor berbeda namun sangat efektif meneror mental  seakan-akan mengajak kita untuk hadir di rumah itu disetiap menit, disetiap detiknya bersama Laura, merasakan setiap emosi perempuan malang itu, setiap ketakutannya, mendengar setiap detak jantungnya serta melihat apa yang ia lihat. Dan untuk menambah elemen spooky-nya, Hernández membuat segalanya seminimalis mungkin dari mulai pencahayaannya remang-remang dari lampu penerangan kecil yang sebagai alat bantu untuk melihat lorong-lorong dan ruangan rumah angker itu sampai pengunaan musik latar sederhana yang kesemuanya sukses berpadu dengan sempurna menghasilkan sebuah horor atmosferik yang dahsyat.

Tidak ada yang terlalu istimewa pada plotnya, standar kebanyakan horor-horor bertema rumah hantu lainnya lengkap dengan embel-embel diangkat dari kisah nyata yang entah benar atau tidak, tentu seperti yang saya singgung diatas adalah penyajiannya yang kemudian mampu mendukung  premis usang itu menjadi terlihat fresh. Sayang twist di penghujung cerita bisa dibilang menjadi bumerang buat film yang juga ditayangkan dalam festival film Cannes 2010 lalu ini. Bukan karena kandungan twist itu sendiri yang cenderung basi dan membuat The Silent House langsung berubah wujudnya, saya masih bisa memaklumi hal itu namun dikarenakan model twist seperti itu tampaknya tidak cocok bersanding dengan gaya eksekusi real time yang diusung Hernandez, menjadikan segalanya absurd dan terkesan dipaksakan, ya, bisa dibilang sedikit banyak sudah merusak semuanya yang sudah susah payah dibangun Hernandez sejak awal.

Pengunaan teknik ‘long take’ yang rumit dari awal hingga akhir tentu saja dibutuhkan dedikasi luar biasa dari pemainnya, dan Florencia Colucci sudah mengemban tanggung jawab sulit itu dengan fantastis. Ini adalah sebuah ‘one (wo)man show’ dari Colucci, aktingnya sempurna, emosinya keluar secara natural membuat penontonnya dengan mudah merasakan apa yang dirasakannya bahkan transformasi karakternya di penghujung cerita juga luar biasa

Tagline di atas, ” Real Fear In Real Time ” tampaknya bukan sekedar tulisan pemanis semata karena apa yang dibuat seorang Gustavo Hernández dalam The Silent House ini memang mencerminkan apa itu yang dinamakan kengerian sebenarnya yang tersaji secara real time melalui sebuah teknis sinematik tingkat tinggi yang belum tentu dapat dilakukan oleh sineas-sineas lain, bahkan kaliber Hollywood sekalipun. Sayang ‘cacat’ di ujung kisahnya bisa jadi merusak kesempurnaan film ini.

[xrr rating=7.5/10]

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top