Review

Review – Morning Glory (2010)

Mike Pomeroy: ” You know what I’ve noticed, people only say “lighten up” when they’re gonna stick their fist up your ass “

Bak tersembar petir di siang bolong, Becky Fuller (Rachel McAdams) mungkin tidak pernah meyangka bahwa kerja keras dan dedikasi luar biasanya sebagai produser acara televisi pagi, Good Morning New Jersey selama ini ternyata tidak cukup membuat dirinya terhindar dari pemecatan. Membuat karier yang tadinya tampak begitu cemerlang mendadak menjadi suram, sesuram kehidupan asmaranya.

Yah, untung saja tidak butuh waktu lama bagi Becky untuk mendapatkan pekerjaan barunya setelah  Jerry Barnes (Jeff Goldblum), pimpinan IBS Televison memperkerjakannya sebagai produser eksekutif untuk menangani acara televisi pagi miliknya, ‘DayBreak’. Masalahnya, DayBreak sendiri bukanlah morning show populer. Ia menduduki peringkat buncit diantara acara serupa yang ada. Dan untuk mendongkrak rating acara tersebut  Becky akan melakukan beberapa perubahan. Langkah pertama  adalah  memecat pembawa acara lama dan berencana menggantikannya dengan anchor legendaris, idolanya sejak kecil, Mike Pomeroy (Harrison Ford) untuk  kemudian disandingkan dengan sesama anchor senior lain, Colleen Peck (Diane Keaton) yang juga mantan ratu kecantikan. Yang menjadi problem  besar, Pomeroy ternyata tidak mudah untuk diajak kerjas sama. Selain keras kepala, angkuh dan susah diatur, pria paruh baya yang terjebak dalam bayangan kesuksesan masa lalunya itu juga merasa dirinya terlalu penting untuk membawakan morning show sekelas DayBreak yang notabene hanya menyajikan berita-berita ringan. Jadi tugas penting Becky selain haruskan untuk dapat menaikan pamor DayBreak, wanita cantik yang menjalin hubungan asmara dengan Adam Bennett (Patrick Wilson) sesama produser, juga harus mampu menjinakan ‘kuda ‘ tua yang lupa bahwa era kejayaannya sudah berlalu.

Sepertinya tidak terlalu mengeherankan jika tulisan Devil Wears Prada dan Notting Hill terpampang begitu jelasnya di tengah-tengah salah satu versi poster Morning Glory, karena bisa dibilang selain sederetan nama para pemainnya grade “A” nya, juga diharapkan  dengan kemunculan dua judul drama  populer yang ditulis oleh Aline Brosh McKenna (Devil Wears Prada) dan disutradarai Roger Michell (Notting Hill) dapat lebih membuat para penontonnya menjadi semakin tertarik untuk menonton film yang didistribusikan oleh Paramount Pictures ini.

Gaya peyutradaraan manis ala Mithcell kemudian disandingkan dengan naskah kuat McKenna rupanya sukses menjadikan Morning Glory sebuah chick lit yang tampil cukup menawan dan cerdas. Entah apa yang  diharapkan para kritikus-kritikus luar sana yang sepertinya memandang sebelah mata drama komedi satu ini. Premis yang ditawarkan mungkin disini akan sedikit terlihat mirip dengan Devil Wears Prada dimana keduanya sama-sama mencoba menyajikan kerja keras seorang wanita muda dalam memperjuangkan karier profesionalnya sembari harus berhadapan dengan rekan kerja, dalam kasus Morning Glory, dengan bawahan yang ‘bandel’. Yang mungkin menjadi perbedaan besar adalah ‘seragam’ luar yang dikenakan keduanya. Jika Devil Wears Prada berlatar belakang keglamoran dunia fashion, Morning Glory mengambil  ruang lingkup industri showbiz pertelevisian, lengkap dengan segala ‘tetek bengek’ belakang layarnya yang menariknya secara tidak langsung banyak memberikan banyak pengetahuan baru bagi para penontonnya, khususnya saya tetang suka duka dalam dunia broadcasting.

Morning Glory sungguh menjadi sebuah sajian feel good movie yang mengalir empuk sepanjang 107 menit. Konfliknya yang tidak serumit yang saya bayangkan sebelumnya mampu di mix dengan baik dengan elemen komedi satirnya yang cukup mengena plus rangkaian dialog-dialog cerdas   tanpa harus berlebih-lebihan. Jika ada kekurangan yang dibilang cukup menganggu mungkin kehadiran bumbu percintaan antara Becky dan  yang saya rasa tidak perlu, bahkan jika bagian tersebut dihilangkan juga tidak akan berdampak besar pada keseluruhan kisahnya yang memang sudah menarik.

Kehadiran jajaran cast papan atas nya juga secara tidak langsung menjadi daya jual terbesar Morning Glory. Rachel McAdams tidak hanya cantik seperti biasa, namun juga mampu mengisi karakternya yang naif dengan penuh semangat dan daya juang luar biasa dalam usahanya untuk mengejar impianya, tidak lupa  dengan sedikit humor yang membuat karakternya menjadi lebih bewarna. Di sisi lain ada aktor gaek Harrison Ford yang jarang-jarang mendapatkan kesempatan untuk membawakan karakter semenyebalkan dan sekeras kepala Mike Pomeroy. Ya, usahanya untuk membuat penontonnya jengkel dan sebal bisalah dibilang berhasil, sedikit banyak mengingatkan saya pada karakter annoying lainnya, Miranda Priestly dalam Devil Wears Prada yang dibawakan dengan fantastis oleh seorang Maryl Streep. Sayang karakter lain seperti Diane Keaton,  Jeff Goldblum tampak hanya sebagai penggembira yang kebagian porsi sedikit, terlebih lagi Patrick Wilson yang sebenarnya juga tidak perlu ada selain untuk membuat Morning Glory semakin ramai semata.

Jadi ingin mencari tontonan drama komedi ringan namun tetap memiliki cerita berbobot dan masih menghibur? Morning Glory bisa jadi pilihan tepat untuk mengisi waktu santai anda. Tidak hanya mampu memberikan sajian yang enjoyable, disisi lain Morning Glory juga memberikan anda sedikit pengetahuan tentang bagaimana suka duka dibalik layar sebuah acara televisi. So, relax and enjoy the show!

Gabby Hakim

 
RT @: Review: HEREAFTER
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top