Review

Crazy little Thing Called Love (2010)

Crazy little Thing Called Love membuktikan bahwa tidak selamanya ke-chessy-an dan ke-klise-an itu menjadi sebuah ‘kejahatan’ besar, yang terpenting selama sang sutradara mampu mengemasnya dengan baik, menarik dan mampu memberikan hiburan kepada penontonnya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Crazy little Thing Called Love menjadi sebuah kisah percintaan remaja yang manis.

Ada yang bilang masa-masa SMU adalah masa-masa terbaik dalam hidup kita. Masa-masa dimana kita belajar mengenal arti sebuah persahabatan sejati. Masa-masa dimana gejolak hormon pubertas mengiring kita untuk mulai tertarik dengan lawan jenis, merasakan sensasi yang orangtua kita biasa menyebutnya dengan istilah ‘Cinta Monyet”. Yup, mungkin kurang lebih seperti itu juga yang dialami Nam (Pimchanok Lerwisetpibol). Nam bisa jadi mewakili sebagian dari kita,  siswa/siswi yang menempati kasta terbawah dalam urusan penampilan.

Ia seorang gadis dekil, dengan kacamata dan kawat gigi menghiasi wajahnya yang pas-pasan. Dengan gambaran  ‘kumuh’ seperti itu sepertinya terlalu muluk-muluk jika Nam kemudian bermimpi besar  untuk dapat menaklukan hati  Chon (Mario Maurer), siswa senior yang notabene paling tampan dan populer seantero sekolahnya.  Masalahnya apa dengan segala usaha keras yang dilakukan Nam bersama ketiga sahabatnya, termasuk dengan merubah penampilan fisiknya dapat menarik perhatian pangeran tampannya itu ?

Sungguh iri rasanya melihat bagaimana perfilman Thailand mampu berkembang dinamis dengan sangat baiknya akhir-akhir ini. Jika sedekade lalu negeri gajah putih ini hanya mampu berbicara banyak melalui sugguhan horror dan aksi baku hantamnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, perlahan namun pasti kini sienas-sineas mereka mulai berani menggeser halauan  ke genre komedi romantis atau biasa kita sebut romcom yang notabene masih tergolong baru disana, lihat saja   Bangkok Traffic Love Story (2009) atau Hello Stranger (2010). Hebatnya lagi tidak kesuksesan tren baru tersebut tidah hanya ditanggapi positif oleh masyarakat lokal, namun juga diapresiasi banyk oleh para penonton di belahan Asia Tenggara lain, termasuk Indonesia, negara yang saat ini lagi didera dengan banyaknya sugguhan tontonan memalukan.

Kembali ke Crazy little Thing Called Love. Jujur saja film besutan duo sutradara Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong ini sama sekali tidak menawarkan premis baru. Tema ‘Cinderella story‘, ‘from nothing to something‘ atau apalah anda menyebutnya yang kemudian dibalut dengan aroma percintaan remaja jelas bisa dibilang usang, banyak ditemui di puluhan judul film Hollywood, bahkan lihat saja sinetron-sinetron ‘tercinta’ kita. Lantas apa yang kemudian menjadikan film ini masih begitu enak untuk dinikmati oleh penontonnya, khususnya buat mereka para penonton muda? Jawabannya sederhana, karena Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong sukses mengemasnya dengan sangat bersahabat, sederhana dan membumi, membuat anda para pemuda dan yang pernah muda dan merasakan pahit manisnya cinta monyet akan kembali mengenang masa-masa indah itu tanpa harus  banyak disugguhkan konflik-konfik yang terlampau pelik dan berlebihan di luar batasan anak-anak SMU, apalagi terlihat jika kelakuan siswa-siswi Thailand ternyata tidak berbeda jauh dengan para muda mudi Indonesia menjadikan Crazy little Thing Called Love terasa familiar, kecuali mungkin efek dari kehadiran Mario Mauer yang kelawat tampan, atau guru bahasa Inggris yang keterlaluan genitnya yang terihat terlalu mengada-ada ha..ha..ha.

Jujur saja saya kurang begitu bisa menikmati paruh pertama film ini. Selain kelewat cheesy tidak ada sesuatu yang terlampau istimewa, disini, termasuk guyonan-guyonannya yang hanya mampu membuat saya sedikit tersenyum simpul. Apalagi momen transformasi Nam yang seharusnya bisa lebih didramatisir, ternyata hanya lewat begitu saja, sampai-sampai memaksa saya harus menekan tombol rewind kalau-kalau saya tertinggal menyaksikan momen menarik tersebut. Tapi bagaimanpun saya harus mengacungan jempol pada para tim make-up yang sanggup membuat wajah  cantik Pimchanok Lerwisetpibol bisa menjadi sedekil itu.

Menginjak paruh kedua bisa dibilang segalanya menjadi lebih baik. Ya, memang kisah terkesan menjadi lebih serius dan melankolis, meninggalkan segala kelucuannya dibelakang. Mengajak para penontonnya untuk turut melebur dalam kegundahan yang dirasakan Nam kepada Chon. Tidak peduli jika Nan sudah berhasil tampil sempurna dari segi fisik, toh tidak membuat kisah cintanya menjadi lebih mulus, karena bagaimanapun Nan tetap adalah Nan, gadis lugu yang masih belajar bagaimana merasakan cinta. Menariknya lagi meskipun pada akhirnya kisah cinta ini akan berakhir seperti yang sudah diduga, namun Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong sepertinya tidak ingin mengakhirinya menyudahinya begitu saja dengan menyelipkan kejutan manis nan sentimentil di penghujung kisahnya.

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top