Review

Power Rangers (2017)

Lima pahlawan bertopeng, kostum warna-warni dan robot raksasa yang siap membela bumi kapan saja dari kejahatan, ya, para penghuni era 90’an tentu saja mengenal dengan baik siapa itu Power Rangers yang sedikit banyak sudah mengisi hari-hari di masa kecil mereka dengan kebahagiaan melalui layar televisi mereka setiap minggunya. Mungkin jika menonton serial televisinya yang sampai sekarang masih terus berusaha untuk dibuat, adaptasi dari Tokusatsu Super Sentai Series Jepang milik Haim Saban ini akan terlihat sangat konyol, campy dan cheesy, ya, faktanya memang begitulah Power Rangers yang kita cintai, sesuatu yang sepertinya tidak pernah berubah, bahkan sampai di reboot terbarunya.

Bukan pertama kali ini Power Rangers tampil di layar yang lebih besar dari televisi, usaha untuk membuat versi filmnya sudah pernah dilakukan dua kali, pertama ada Mighty Morphin Power Rangers: The Movie dan Turbo: A Power Rangers Movie yang rilis kurang lebih dua dekade silam. Tetapi untuk ukuran film layar lebar, keduanya bisa dibilang terlihat seperti salah satu comotan dari seri televisinya dengan durasi lebih panjang. Jadi tentu saja ketika proyek terbaru Power Rangers diumumkan 2014 lalu dengan nada yang lebih serius dan bujet lebih besar, tentu saja menjadi kabar gembira buat para fansnya yang sudah menanti lama buat Power Rangers mereka mendapatkan perlakuan yang lebih layak untuk tampil di layar lebar dari usaha-usaha sebelumnya yang mengecewakan itu

Ditukangi oleh Dean Israelite, sutradara yang pernah mengajak kita dalam sebuah petualangan perjalanan waktu seru di 2015 lalu dalam Project Almanac, Power Rangers versinya mencoba melakukan pendekatan yang lebih menyegarkan dan lebih kekinian. Dengan memulai segalanya dari awal yang berarti baik penonton veteran maupun penonton baru akan diperkenalkan pada dunia Power Rangers yang baru. Diawali dengan sebuah flash back yang memberi dasar segalanya, kita kemudian diperkenalkan kepada lima pemuda Angel Grove terpilih, si ranger merah; Jason Scott (Dacre Montgomery),  ranger pink; Kimberly Hart (Naomi Scott), Billy Cranston (RJ Cyler) si ranger biru, ranger hitam; Zack (Ludi Lin) dan ranger kuning; Trini (Becky G). Kelimanya mendapatkan kekuatan alien dari Zordon (Bryan Cranston) untuk mencegah si jahat Rita Repulsa (Elizabeth Banks) menghancurkan dunia.

Dunia baru, karakter baru, kostum baru, megazord baru dan Rita Repulsa baru, Power Rangers versi Israelite benar-benar menepati janjinya untuk melakukan pembaharuan besar-besaran untuk bisa disesuaikan dengan generasi digital dan juga tentu saja merebut perhatian penonton barunya. Namun apa pun upgrade yang diberikan Power Rangers, ia masih terasa sama murahan dan dangkal, sama seperti para pendahulunya, tidak peduli sekeran apa  spesial efek visualnya yang mahal, tidak ada sesuatu yang benar-benar “wah” yang bisa membuatmu untuk mengingat lama versi ini, kecuali mungkin kostum Rita Repulsa yang seperti membuat Elizabeth Banks susah untuk bergerak.

Jika memang tujuan Israelite membuat Power Rangers versinya untuk tetap punya nada campy dan chessy dengan sengaja, ya, ia memang berhasil menjalankan tugasnya dengan baik, tetapi ia lupa bahwa penonton veterannya bukan lagi anak kecil yang masih berjingkrak-jingkrak kegirangan ketika mendengar jingle “Go Go Power Rangers” berkumandang, mereka kini sudah dewasa, termasuk memandang dunia yang tidak lagi hitam dan putih. Memang saya melihat ada usaha Israelite untuk menghadirkan nostalgia dengan beberapa pendekatan, termasuk salah satu momen terbaik yang melibatkan jingle legendaris itu (yang sayang hanya sekelebat), menghadirkan kembali Zordon dan pembantu setianya,  Alpha 5 (yang disuarakan Bill Hader) atau cameo dari para pemain lawasnya, tetapi kamu tidak membuat Power Rangers yang baru ini hanya untuk mengenang masa lalu, ada penonton baru yang mesti dibuat terkesan, mesti ada dasar kuat untuk bisa membentuk masa depan franchise ini ke depannya dan itu bisa dibilang gagal dimaksimalkan Israelite.

Ya, ya, ya, mencoba membungkusnya dengan tone yang lebih gelap dengan detail-detail lebih dewasa yang meliputi tema-tema LGBT, ras dan autisme, toh, ujung-ujungnya ia tidak lebih dari sekedar pemanis buat narasinya yang setengah matang, padahal jujur saja screenplay John Gatins punya potensi untuk bisa berkembang lebih jauh dan lebih dalam, misalkan saja pengenalan setiap karakternya. Israelite terlihat mencoba menjabarkan problematika setiap karakternya, sayang pada akhirnya hanya Dacre Montgomery, Naomi Scott dan RJ Cyler yang hanya mendapatkan porsi layak sementara Becky G dan Ludi Lin tidak lebih hanya sekedar pelengkap member yang tokohnya terasa datar, tidak menarik dan membosankan, sama membosankannya dengan 3/4 pertama filmnya yang berjalan terseok-seok sebelum ditutup dengan akhir yang spektakuler. Khusus untuk Rj Cyler, karakter kharismatik Billy miliknya harus diakui menjadi pusat perhatian terbesar di sini. Diplot sebagai pengidap autisme dan anti sosial dari ras minoritas, senang melihat karakternya berkembang di sepanjang film lengkap dengan segala humor dan aksinya.

Alurnya berantakan, karakterisasi yang tidak berimbang, narasi yang lemah dan momen penyatuan megazord yang dipaksakan bukan menjadi hal-hal yang terlalu mengganggu jika dibandingkan dengan penampilan Elizabeth Banks sebagai Rita Repulsa. Menjadi salah satu bagian yang dipermak habis-habisan, karakter Rita Repulsa mungkin akan terlihat lebih sangar ketimbang versi televisinya hanya jika ia diam, namun susah untuk tidak mengerutkan dahi bahkan tertawa ketika ia sudah beraksi. Kostum hijau ketat yang membuat Banks seperti terkena sembelit di balik penampilannya yang rada over the top alias berlebihan menjadikan Rita Repulsa versi Banks adalah bencana, kebodohan terbesar yang kamu temukan dalam versi anyar Power Rangers.

 

Power Rangers (2017)
5.1 Movienthusiast's
Summary
Tentu saja Power Rangers versi baru ini terlihat sangat cantik dengan polesan 100 juta dollar nya jika dibandingkan versi televisinya yang cemen, tetapi bukan berarti ia menjadi sajian yang lebih baik, tidak, tidak sama sekali. Punya potensi besar untuk menjadikannya sebagai reboot hebat namun sayang sutradara Dean Israelite memilih untuk membuatnya terlihat campy dan cheesy, termasuk naskahnya semata-mata untuk menghormati pendahulunya dan fans service tanpa pernah peduli dengan penonton baru yang berharap bisa dibuat terkesan.
CERITA4.5
PENYUTRADARAAN5
AKTING5
VISUAL6

 

 

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top