Review

Passengers (2016)

Menyatukan dua nama bintang kelas satu Hollywood dan sutradara kaliber Oscar dalam satu paket film fiksi ilmiah terdengar begitu menjanjikan dan memiliki nilai jual yang tinggi. Apalagi jika pemainnya Jennifer Lawrence yang notabene berstatus America’s sweetheart  dan Chris Pratt yang sukses membintangi film-film laris belakangan ini. Passengers judul proyek besar tersebut dibesut oleh Morten Tyldum yang terakhir menggenggam banyak nominasi Oscar lewat film biografi Alan Turing, Imitation Game.

Alkisah jauh di masa depan, populasi bumi sudah begitu sesaknya, sehingga biaya hidup di planet biru ini menjadi begitu mahalnya. Pilihan lain yang bisa diambil adalah mengikuti program ekspedisi antar planet dan menjalani hidup sebagai koloni di tempat baru di tata surya berbeda. Dalam prosesnya, perjalanan antar galaksi ini ditempuh dalam waktu tempuh lebih dari satu abad dan para penumpang beserta awak pesawat dihibernasi selama proses perjalanan panjang tersebut. Sialnya, dalam misi menuju planet Homestead II, Jim Preston (Pratt) terbangun dari hibernasinya jauh lebih dini dari seharusnya. Terjebak dalam kesendirian selama lebih dari 365 hari dan frustasi karena bakal meninggal dalam proses perjalanan ke planet barunya, Jim akhirnya nekad membangunkan paksa satu penumpang lainnya, Aurora Lane (Lawrence). Mudah ditebak keduanya lantas jatuh cinta, dan konflik muncul tatkala Aurora yang mengira dirinya terbangun jauh terlalu awal karena malfungsi mengetahui fakta sebenarnya, hingga Avalon, pesawat luar angkasa yang mereka tempati mengalami gagal sistem yang membahayakan nyawa ribuan penumpang lainnya yang masih lelap dalam tidur panjangnya.

Passengers harus diakui memiliki konsep fiksi ilmiah yang cukup orisinil dan menjanjikan film tegang dan isolasi yang menarik untuk diikuti. Paruh awal film yang menceritakan kesendirian Jim terasa begitu personal dan digulirkan dengan baik oleh Tyldum, begitupun dengan proses kefrustasiannya yang lantas memicunya bertindak nekad dan sedikit psikotik dapat ditampilkan dengan logis. Memasuki paruh kedua ketika Aurora terbangun dan menemaninya, naskah tulisan Jon Spaiths (Prometheus dan banyak film-film blockbuster tahun-tahun mendatang) mulai terasa mengendur, masuk ke bagian romansa Passengers makin terpuruk kala Tyldum menyajikannya bak kisah romansa ala Nicholas Sparks lengkap dengan musik latar cheesy hingga pada klimaks yang juga begitu gampang ditebak dan terasa Hollywood sekali.

Di luar plotnya yang terjun bebas di setengah durasinya, Passengers untungnya memiliki chemistry lumayan padu dari Lawrence dan Pratt. Keduanya selain sedap dipandang di layar juga memberikan performa yang baik dan cukup meyakinkan sebagai dua orang yang terisolasi dan berinteraksi dengan sewajarnya hingga berakhir dengan rasa cinta, pun seperti sudah diterangkan sebelumnya, percintaan keduanya digambarkan dengan begitu standar dan klise oleh Tyldum. Satu hal lagi yang menonjol dari Passengers adalah visualnya yang tak perlu diragukan terlihat begitu megah dan mewah akibat sokongan bujetnya yang besar. Adegan tanpa gravitasi yang menyertakan Lawrence  berenang dalam gumpalan air yang melayang-layang juga cukup spektakuler dan menegangkan untuk dinikmati.

Diperkuat juga oleh Michael Sheen yang mencuri perhatian sebagai android bartender bernama Arthur, Passengers mungkin gagal tampil sebagai film fiksi ilmiah memikat, akibat salah jalur dan lemahnya skenario di paruh kedua filmnya. Pun demikian, masih tetap menghibur dengan padu padan Lawrence dan Pratt sebagai dua bintang utamanya yang tidaklah mengecewakan.

 

Passengers (2016)
5.5 Movienthusiast's
Summary
Walaupun bisa tampil jauh lebih baik, Passengers yang sebenarnya sudah baik bercerita di paruh awalnya, harus terjun bebas akibat romansa klise dan klimaks standar yang juga mudah ditebak. Untungnya nama besar Jennifer Lawrence dan Chris Pratt serta visual filmnya yang megah dan futuristis masih layak untuk dinikmati.
CERITA4.5
PENYUTRADARAAN6
AKTING7
VISUAL7.5
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top