Review

Osama (2003)

Hidup sebagai wanita memang tidak mudah di Afghanistan apalagi disaat Taliban berkuasa. Di bawah rezim yang kejam tsb dimana hukuman mati adalah hal yang biasa bagi yang melanggar peraturan, kaum wanita terpaksa kehilangan kebabasannya untuk bekerja, mengekspresikan diri bahkan untuk berjalan keluar rumah saja dilarang jika tidak ada laki2 “legal” yang mendampingi mereka.Salah satu yang mengalaminya adalah seorang gadis berusia 12 tahun dan Ibunya yang harus kehilangan mata pencaharian mereka karena Taliban menutup paksa rumah sakit tempat mereka bekerja. Akibatnya sebagai seorang janda yang ditinggal mati suaminya, Ibu tersebut tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan hidup putri dan Ibunya. Maka satu2nya jalan ia terpaksa menyamarkan putrinya menjadi laki2 bernama Osama dengan memotong rambut putrinya menjadi pendek, dan memakainkannya baju laki2 untuk dapat menggantikannya bekerja. 

Menjadi seorang laki2 ternyata bukanlah hal yang mudah dilakukan. Osama harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi “baru” nya agar tidak dicurigai orang lain, khususnya pasukan Taliban yang setiap hari melakukan patroli di kotanya. Benar2 sebuah perjuangan dan pengorbanan yang berat harus dihadapi gadis muda ini, karena jika sampai ketahuan, hukuman mati jelas sudah menantinya.

Satu lagi contoh film sederhana namun memiliki pesan yang luar biasa. Ya, Osama bisa dibilang sebuah drama yang mampu ‘menyentil’ emosi dan moral penontonnya tentang nilai2 kemanusian, dan hak2 asasi manusia khususnya kaum perempuan tanpa harus digarap dengan berlebihan. Hanya dengan melihat sinopsisnya saja sudah membuat penontonnya penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film arahan Siddiq Barmak ini.

Terlepas ada tidaknya propaganda politik dan benar atau tidaknya fakta yang menaungi film ini, Osama setidaknya mampu menunjukan kepada dunia bagaimana nasib kaum perempuan di negara konfilk tersebut dimana mereka hidup mereka benar2 terkekang dengan peraturan2 Taliban yang memang terkenal sangat menjunjung tinggi hukum2 Islam, bahkan disini mereka tidak digambarkan sangat kejam dengan tanpa ampun melakukan hukuman mati bagi siapa saja yang melanggar. Adegan demi adegan ditampilkan secara real, tanpa adanya trak musik film berbahas Persia ini berjalan sangat alami, bahkan para pemain2nya dimana seluruhnya merupakan amatiran yang diambil dari jalan2 kota Kabul pun bermain sangat meyakinkan. Beberapa adegan simbolis juga tidak lupa disisipkan oleh Barmak sebagai bahan perenungan di akhir film nanti.

Sebagai tambahan, Film ini adalah film pertama yang dapat melakukan pengambilan gambar di Afghanistan sejak tahun 1996, seperti yang sudah diketahui Afghanistan di bawah rezim taliban melarang keras segala bentuk hiburan termasuk film. Film yang hanya menghabiskan biaya US$46,000 juga banyak mendapatkan berbagai penghargaan di ajang festival film dunia, termasuk memenangkan Best Foreign Language Film dalam ajang Golden Globe 2004.

[xrr rating=7,5 /10]

Review: Satu lagi contoh film sederhana namun memiliki pesan yang luar biasa. Ya, Osama bisa dibilang sebuah drama yang mampu ‘menyentil’ emosi dan moral penontonnya tentang nilai2 kemanusian, dan hak2 asasi manusia khususnya kaum perempuan tanpa harus digarap dengan berlebihan. Hanya dengan melihat sinopsisnya saja sudah membuat penontonnya penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film arahan Siddiq Barmak ini.Terlepas ada tidaknya propaganda politik dan benar atau tidaknya fakta yang menaungi film ini, Osama setidaknya mampu menunjukan kepada dunia bagaimana nasib kaum perempuan di negara konfilk tersebut dimana mereka hidup mereka benar2 terkekang dengan peraturan2 Taliban yang memang terkenal sangat menjunjung tinggi hukum2 Islam, bahkan disini mereka tidak digambarkan sangat kejam dengan tanpa ampun melakukan hukuman mati bagi siapa saja yang melanggar. Adegan demi adegan ditampilkan secara real, tanpa adanya trak musik film berbahas Persia ini berjalan sangat alami, bahkan para pemain2nya dimana seluruhnya merupakan amatiran yang diambil dari jalan2 kota Kabul pun bermain sangat meyakinkan. Beberapa adegan simbolis juga tidak lupa disisipkan oleh Barmak sebagai bahan perenungan di akhir film nanti. 

Sebagai tambahan, Film ini adalah film pertama yang dapat melakukan pengambilan gambar di Afghanistan sejak tahun 1996, seperti yang sudah diketahui Afghanistan di bawah rezim taliban melarang keras segala bentuk hiburan termasuk film. Film yang hanya menghabiskan biaya US$46,000 juga banyak mendapatkan berbagai penghargaan di ajang festival film dunia, termasuk memenangkan Best Foreign Language Film dalam ajang Golden Globe 2004.

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top