Film Indonesia

Night Bus (2017)

Susah untuk menemukan tontonan thriller berkualitas di stock pasar perfilman lokal kita, kalaupun ada biasanya tema yang ditawarkan yah itu-itu saja, tidak pernah jauh dari tema misteri, pembunuhan, romansa dan psikopat bercampur kekerasan dan darah. Lalu datanglah Night Bus-nya Emil Heradi bersama nama besar Darius Sinathrya yang memulai debutnya sebagai produser, membawa sesuatu yang berbeda, sesuatu yang menyegarkan bahkan juga bisa dibilang ambisius ketika menawarkan sebuah konsep thriller ruang sempit dengan sumber daya terbatas bersama balutan muatan konflik yang sebelumnya tidak pernah terpikir oleh sineas-sineas lain.

Seperti judulnya, ada Bus Babad menjadi aktor utama sebenarnya dari Night Bus. Berangkat menuju sebuah daerah fiktif di Sumatera yang bernama Sampar. Disupiri oleh Amang Zakaria (Yayu A.W. Unru) dan kernetnya, Bagudung (T. Rifnu Wikana). Bus trans kota itu membawa tumpangan manusia-manusia dari bermacam latar belakang, profesi dan tujuan. Ada seorang nenek tua (Laksmi Notokusumo) bersama cucu perempuannya, ada pasangan kekasih (Rahael Ketsia & Arya Saloka), wartawan (Edward Akbar), orang kaya sombong (Torro Margens), penyair buta (Agus Nuramal), aktivis LSM (Abdurrahman Arif) dan gadis pendiam (Hana Prinantina). Yang mereka tidak pernah tahu bahwa perjalanan itu akan menjadi perjalanan 12 jam terlama dan paling mengerikan dalam hidup mereka.

Ruang lingkup sempit dan disesaki karakter yang berjubel, Night Bus bisa saja menjadi versi lain Ten Little Indians dengan segala misteri pembunuhannya, tetapi narasi garapan Rahabi Mandra yang juga turut dibantu  T. Rifnu Wikana memilih jalan lain, jalan berbeda yang juga terinspirasi dari pengalaman Wikana sendiri ketika 1999 silam ia terjebak dalam bus selama 12 jam, pengalaman yang juga sempat tertuang dalam cerpen “Selamat”. Saya suka konsepnya, menyegarkan. Memanfaatkan bus antar kota sebagai set utamanya dan perjalanan panjang berliku bersama konflik horizontal yang akrab di telinga sebagai pemantik permasalahan. Ancaman bukan datang dari pembunuh berdarah dingin, monster atau setan, namun sesuatu yang jauh lebih masuk akal macam gerakan separatisme yang tentu saja mengingatkan kita pada konflik TNI dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang sempat panas beberapa tahun silam.

Konsep thriller terjebak dalam ruang sempit pada situasi mengerikan adalah premis sederhana yang ditawarkan Night Bus, tetapi siapa yang mengira bahwa proses lahirnya film ini ternyata tidak sesederhana premisnya. Butuh waktu sekitar tiga tahun untuk benar-benar mewujudkannya ke layar lebar dengan segala benturan sumber daya terbatas, namun perjuangan itu bisa kita lihat hasilnya sekarang. Night Bus adalah salah satu thriller terbaik yang pernah diproduksi perfilman lokal.

Hampir semua elemen yang kamu cari dalam sebuah gelaran thriller ada di Night Bus. Mood mencekam yang didominasi atmosfer kelam dan scoring eerie menjadi nada dasar film ini, intensitas terjaga di sepanjang kurang lebih dua jam durasinya, sangat efektif memberi euforia kecemasan dan perasaan tidak nyaman bersama balutan kekerasan dan darah dalam porsi yang tidak berlebihan meski sedikit disayangkan konflik yang muncul terkesan repetitif dan kurang variasi namun secara keseluruhan berhasil disampaikan dengan menyengat. Sementara teknisnya memang tidak sempurna terutama ketika berbicara soal spesial efek yang terlihat masih kasar di beberapa bagian, visual yang terlalu bergoyang, sementara di bagian lain warna yang dihadirkan cenderung terlalu gelap dengan kualitas audio yang memaksa telinga kita bekerja ekstra keras untuk mendengar percakapan penting karakternya yang berbisik pelan. Hal-hal teknis ini yang mungkin akan berdampak pada kenikmatan penonton terutama buat para audiens yang terlalu cerewet.

Kekuatan terbesar dari Night Bus bukan hanya terletak pada konsep thrillernya yang beda, namun juga bagaimana ia menghantarkan kisahnya melalui eksposisi yang datang dari setiap penumpang di dalamnya. Setiap penumpang punya cerita tersendiri yang berhasil diolah dengan jatah berimbang, membentuk sebuah cerita besar yang kepingan-kepingan yang saling berkaitan satu sama lain termasuk memberi berbagai unsur dari komedi, horor sampai melodrama. Tidak ada karakter utama di sini, semua mendapatkan tempat sebagai penggerak utama narasinya dan itu yang harus diacungi jempol. Tidak pernah mudah membuat film dengan banyak karakter di mana setiap karakternya bisa terasa penting. Setiap dialog yang terucap memberi kilasan latar belakang kisah dari masing-masing penumpangnya, bagaimana kehidupan mereka, bagaimana pandangan mereka atas konflik yang tengah terjadi, belum lagi saya menyebut performa kuat ensemble cast-nya yang bermain ciamik dalam usahanya mendekatkan diri dengan penontonnya, menghadirkan simpati dan kepedulian sekaligus menjadi roda penggerak narasinya itu sendiri.

Night Bus (2017)
7.7 Movienthusiast's
CERITA7.8
PENYUTRADARAAN8.2
AKTING7.7
VISUAL6.9

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top