Review

Metropolis (1927)

“Metropolis is the first true masterpiece of science fiction in film”

“Metropolis” mengambil setting di masa datang, tepatnya tahun 2026 dan mengangkat topik mengenai perbedaan keadaan hidup antara warga yang kaya dengan warga miskin para buruh. John Fredersen merupakan seorang pengusaha kaya raya, hidupnya sangat mewah ia tinggal di atas gedung pencakar  langit dengan taman yang indah bagaikan surga  namun jauh dibawah ia tinggal terdapat kehidupan yang berbeda jauh di sana di tinggali buruh pekerja yang miskin mereka bekerja dari pagi hingga sore tanpa henti kemudian dari sore hingga pagi.

John Fredersen mencoba memancing terjadinya pemberontakan oleh para buruh agar mendapatkan alasan untuk memberikan pelajaran kepada para buruh yang memang tidak berpuas hati dengannya.dengan bantuan Rotwang, seorang ilmuwan, sebuah robot bernama Maria yang di perankan oleh Brigitte Helm dibuat. Maria ini sengaja dibuat mirip dengan seorang wanita manusia yang mencoba menghentikan terjadinya pemberontakan yang juga bernama Maria. Menurut Maria, para buruh harus menunggu seorang “Mediator” yang akan menyatukan kedua kelompok tersebut. Maria asli sendiri didukung oleh anak Fredersen, Freder. Sang robot berhasil memicu pemberontakan besar. Para buruh dibuat menghancurkan pembangkit tenaga listrik di kota, yang ternyata mengakibatkan kota bawah tanah yang dihuni para buruh terserang banjir.

Menyadari tindakan mereka, para buruh menuju ke kota dan membakar sang robot. Freder yang melihat hal ini mengira Maria yang dibakar adalah Maria yang asli, namun sadar bahwa ia salah saat melihat Maria yang asli sedang dikejar-kejar oleh Rotwang di sekitar katedral kota.

Film “Metropolis” yang di produksi tahun 1927 ini merupakan film yang amat penting untuk sejarah perfilman Jerman. Dengan biaya produksi yang amat besar,  “Metropolis” menggambarkan imajinasi tentang masa depan, seperti gedung-gedung menjulang, kereta yang melaju cepat di jembatan layang, pesawat pesawat aneh yang melayang di antara pilar pilar jembatan bertumpuk, robot cyborg, dan teknologi lain yang belum ada pada masa itu. Sayangnya, film itu dianggap terlalu futuristik, bahkan aneh, hingga tidak laku ditonton saat diluncurkan pada penghujung tahun 1920-an.

Yang membuat film ini mendapat nilai tinggi bukan karena cerita dan plotnya tapi karena visi yang di sampaikan Firtz Lang kepada penonton  disebut-sebut sebagai salah satu film yang sangat berpengaruh, yang menginspirasi sebagian besar film-film sci-fi seperti Coruscant di Star Wars, Blade Runner, Dark City en The Fifth Element. Visual Effect yang di sajikan Firtz Lang begitu Brutal walau 83 Tahun lebih sudah umur film ini masih tetap terlihat inovatif dan memukau.

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top