Review

A Man Called Ove (2016)

Mudah saja untuk menghakimi sosok Ove (Rolf Lassgård) sebagai pria tua yang brengsek, pelit dan menjengkelkan di 20 menit pertama drama yang mewakili Swedia di ajang Oscar tahun depan dalam kategori film asing terbaik ini. Lihat saja bagaimana ia berargumen soal harga diskon untuk dua ikat bunga, bagaimana ia memperlakukan tetangga-tetangganya di lingkungan perumahannya dengan kasar lengkap dengan kata-kata “Idiot”. Namun sutradara Hannes Holm yang juga turut menuliskan naskah adaptasi novel Swedia laris milik Fredrik Backman juga memberi sisi melankolis pada karakter Ove yang keras ketika setiap hari ia mengunjungi makam istri tercintanya, Sonya (Ida Engvoll) yang baru saja meninggal enam bulan silam. Merasa hidupnya hampa tanpa belahan jiwanya, Ove memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sampai kemudian ia kedatangan tetangga baru yang mengubah segalanya.

A Man Called Ove punya jenis plot yang sebenarnya sudah cukup familiar, misalnya saja seperti About Schmidt atau Grand Torino. Cerita-cerita tentang grumpy old man yang kehidupan di masa senjanya yang suram dicerahkan oleh sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Seperti yang saya katakan di atas, mudah  menjudge Ove. Ia memang menyebalkan, pemarah, pelit dan kasar, tidak ada simpati ketika ia memutuskan untuk bunuh diri yang kemudian secara komedik selalu digagalkan oleh situasi-situasi yang tak terduga, seperti salah satunya kedatangan, Parvaneh (Bahar Pars) dan keluarganya sebagai tetangga seberang rumah. Seperti kata pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang” atau “Don’t Judge the Book by it’s Cover”, Holm kemudian mengajak mengenal lebih intim Ove melalu rangkaian flachback untuk melihat bagaimana Ove kecil tumbuh besar melalui rangkaian tragedi dan cinta yang nantinya membentuk dirinya di saat ini sekaligus memberikan alasan mengapa kita harus bersimpati dengan orang tua menjengkelkan satu ini.

Materinya memang familiar dan  terkesan manipulatif, toh, semua film memang punya tujuan memanipulasi penontonnya, namun bagaimana Holm mengolahnya dengan berkelas itu yang kemudian menjadikan film berjudul asli En man som heter Ove ini menjadi lebih istimewa. Holm berhasil menghadirkan sebuah emosi nyata melalui pendekatan yang tidak hanya kuat di protagonis yang dimainkan apik oleh aktor veteran Swedia, Rolf Lassgård namun juga lewat sisi melodrama yang disisipi oleh elemen komedi gelap, tragedi dan romantika yang semua bersinergi dengan sangat baik melalui perjalanan hidup Ove, bagaimana ia tumbuh, bagaimana pertemuannya dengan Sonya bagaimana ia melewati masa-masa susah. Interaksi dan transformasi Ove menjadi pribadi yang lebih baik memang formulaik, tetapi tetap saja menarik karena kekuatan penyutradaraan lembut Holm yang berhasil mengawinkan setiap elemen dengan sangat baik.

Meski berpusat pada karakter Ove yang kompleks namun tokoh-tokoh lain pun tidak kalah memberikan pengaruh penting dalam usaha pengembangan diri Ove. Kedatangan Parvaneh dan keluarga kecilnya ke lingkungan Ove memberi pengaruh besar. Tidak mudah menjinakkan “kuda tua” seperti Ove, tetapi Parvaneh dengan segala kebaikan dan kepeduliannya memberikan Ove kehangatan di tengah kesendirian dan keputus asaan pasca kematian Sonja. Beberapa tetangga lain termasuk bekas murid Sonja sampai  kucing liar  pun berhasil didapuk untuk menguatkan karakter Ove dalam usaha untuk move on serta berdamai dengan diri dan masa lalunya.

 

 

 

 

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top