Review

Logan (2017)

Bukan hanya mengingat fakta bahwa ini akan menjadi yang (benar-benar) terakhir Hugh Jackman memerankan karakter X-Men paling ikonis yang kemudian menjadikan seri pemungkas dari trilogi The Wolverine ini namun faktanya Logan lebih dari sekedar ucapan perpisahan buat Jackman dan juga Patrick Stewart sebagai Professor X karena karena ini adalah film Wolverine yang sudah dicari-cari oleh para fans beratnya sejak X-Men Origins: Wolverine 2009 silam.

Diisi dengan dosis tinggi kekerasan berlabel “R-Rated” lengkap dengan segala atribut lisan-lisan kotor serta sebuah kenyataan pahit yang menggetarkan, Logan jelas bukan jenis superhero Marvel yang bisa kamu tonton nyaman bersama keluarga, terlebih anak-anakmu yang masih ingusan. Ya, pemilihan rating dewasanya memang punya risiko tinggi, terutama dalam penjualan yang menjadi terbatas, tetapi setelah apa yang dilakukan Watchmen, terlebih Deadpool, sepertinya itu bukan lagi menjadi masalah besar selama sang sineas pintar mengeksploitasi tema dewasanya dan James Mangold melakukan pekerjaannya dengan sangat luar biasa.

Naskah yang ditulis Mangold bersama Scott Frank dan Michael Green diadaptasi bebas dari komik Old Man Logan-nya Mark Millar dan Steve McNiven 2014 lalu. Mengambil set di  waktu di masa depan distopia, tepatnya tahun 2029 di mana populasi para mutan tengah berada di ujung kepunahan, yang tersisa memilih untuk bersembunyi dari keramaian termasuk di antaranya Logan dan Professor Xavier yang mulai menua. Baik Logan maupun Professor X tidak lagi seperti dulu. Logan tidak hanya terlihat lebih tua secara fisik dengan segala janggut dan rambut yang penuh uban namun usia rupanya juga berpengaruh pada kekuatan mutannya yang mulai memudar. Kekuatan penyembuhannya kini tidak lagi secepat dulu, bahkan butuh waktu berhari-hari memulihkan diri dan itu pun meninggalkan bekas luka. Sementara Professor X bisa dibilang lebih parah. Menginjak usia 90, otak supernya digerogoti Alzheimer yang membuatnya susah untuk mengendalikan kekuatan telekinesisnya yang mengerikan itu tanpa bantuan obat-obatan, karena terlambat minum obat akibatnya akan fatal, sangat fatal. Khusus untuk karakter Professor X, saya senang ketika akhirnya Patrick Stewart memutuskan memainkan satu lagi perannya sebagai pemimpin X-Men untuk terakhir kalinya. Di Logan, ia tidak hanya menjadi sekedar karakter sampingan seperti di tiga seri awal X-Men, namun kehadirannya menjadi penting buat narasi Logan. Mangold melakukan sesuatu yang berbeda, menghadirkan tragedi, humor dan keputusasaan, ini adalah sosok Charles Xavier yang belum pernah kamu lihat sebelumnya.

Keduanya kemudian kedatangan Laura (Dafne Keen), si gadis kecil misterius yang kemudian menjadi awal perjalanan sebenarnya dari hidup Logan ketimbang sekedar mengumpulkan uang dari pekerjaannya menjadi sopir Limo. Masalahnya Laura bukan gadis biasa ketika para tentara bayaran mengejarnya hidup atau mati.

Ya, seperti yang saya katakan di atas, Logan memberikan sebuah kenyataan pahit yang tak nyaman buat penonton yang mencari tontonan superhero aman.  Tidak ada kostum norak, tidak ada hingar bingar CGI mewah dan mahal, sebaliknya Mangold memberikan pendekatan berbeda, mencoba mendorong kisah dan karakter Wolverine lebih jauh dari apa yang pernah dibuatnya dalam The Wolverine empat tahun silam, melebihi batasan kebanyakan film tentang pahlawan super, bahkan mempertanyakannya, lihat saja momen ketika Logan mengejek komik X-Men yang dibaca Laura. Bagaimana dengan universe-nya? Kita tahu setelah X-Men: Days of Future Past garis waktu telah berubah, Professor X tidak mati di tangan Jean Grey seperti pada X-Men: The Last Stand. Kisah baru terbentuk, namun dalam Logan alih-alih menceritakan apa yang terjadi pada anggota X-Men yang lain, Mangold langsung memberi akhir  pedih buat X-Men, pertanyaan mengapa hanya tersisa Logan dan Professor X akan dijawab di sini, itu pun hanya melalui kilasan berita yang terdengar di televisi. Ya, meski begitu, Mangold seperti tidak terlalu peduli dengan time-line dari cerita-cerita X-Men sebelumnya atau mungkin bahkan masa depan para mutan sekalipun. Ia seakan-akan membentuk sendiri kisahnya yang terpisah, namun bisa jadi ini yang kemudian membuat Logan terasa spesial karena ia tidak pernah terikat dan menjadi lebih personal.

Bergerak dalam alur yang cukup lambat, Mangold memanfaatkan durasinya untuk membangun relasi antar karakternya. Menguatkan hubungan Logan dan Charles Xavier ke batas terjauh, menghadirkannya sebagai relasi ayah-anak yang sama kuatnya dengan relasi antara Logan dan Laura. Logan berasa seperti sebuah drama keluarga dengan elemen road movie ketimbang film superhero sejati. Berlatar dunia distopia barat yang gersang namun terasa tidak pernah jauh dari dunia saat ini dengan segala isu tentang imigran dan kehancuran ekonomi. Suram dan penuh debu seperti film western legendaris yang ditonton Xavier dan Laura di hotel. Tentu saja salah satu highlight utamanya adalah kemunculan Laura a.k.a X-23. Seperti yang kamu lihat dalam trailernya, ia adalah sosok mutan kecil dengan kemampuan cakar adamantium mengerikan yang mengingatkan pada seseorang, seperti kata Charles “She’s like you…… Very much like you”.

Mangold memang memperkenalkan Laura sebagai mutan kecil yang mengerikan di awal film, namun dalam perjalanannya ia membangun karakternya, memberi dosis humor masam, khususnya pada interaksinya dengan Logan. Ada kehangatan terbentuk dari hubungan keduanya yang tidak hanya menjadikan Laura hanya sebagai karakter pelengkap namun lebih dari itu ketika ia mampu memperkaya karakter Logan dan memberi kita cukup emosi untuk bersimpati kepadanya.

Pada akhirnya Logan mungkin terasa terlalu sentimentil dengan segala drama dan relasi ayah-anaknya yang kuat dan emosional, tetapi Mangold tidak pernah melupakan bahwa ia masih sebuah film superhero yang berarti kamu masih akan menemukan rentetan parade aksi seru. Bedanya dengan bendara “R-Rated”, Mangold bisa bersenang-senang dengan lebih banyak kebrutalan, yang berarti lebih banyak darah muncrat, potongan tubuh dan kepala-kepala yang hancur yang kadar kesadisannya mungkin hanya bisa disandingkan dengan Deadpool. Setiap momen aksinya terasa berkesan, bukan hanya karena kandungan gore-nya yang tinggi namun bagaimana DoP John Mathieson menghadirkannya dengan cantik membuat setiap momennya mampu memberi emosi tersendiri, terutama pada adegan puncaknya.

 

Logan (2017)
7.8 Movienthusiast's
Summary
Logan adalah akhir sempurna untuk menutup perjalanan trilogi Wolverine. Dibungkus dengan kadar kebrutalan tingkat tinggi tidak semerta-merta membuat Logan menjadi buas dan tak terkendali, sebaliknya sutradara James Mangold dengan cerdas menginjeksinya dengan dosis drama yang sama kuatnya dengan relasi antara karakternya, membuatnya menjadi sajian yang brutal dan emosional sekaligus.
CERITA7.8
PENYUTRADARAAN8.2
AKTING7.6
VISUAL7.7

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top