Review

Land of Mine (2016)

Dari penyerbuan pantai Omaha, Normandia  sampai cerita tentang seorang pianist Yahudi yang bertahan hidup dari invasi Nazi, begitu banyaknya film-film berlatar perang dunia ke-2 yang pernah diproduksi, kemudian timbul pertanyaan,  apa masih ada cerita besar yang masih belum tersentuh? Jawabannya, masih! Sutradara sekaligus penulis asal Denmark, Martin Zandvliet rupanya berhasil menemukan satu lagi cerita hebat dari PD 2 yang masih belum tersentuh, sebuah cerita gelap yang datang dari negerinya dulu, cerita tentang para tahanan serdadu muda Nazi yang dipaksa untuk menemukan dan menjinakkan dua juta ranjau darat yang tersebar di sepanjang pantai barat Denmark dengan tangan kosong dan tanpa atribut perlindungan sama sekali.

Narasi tentang penjinak bom atau ranjau memang pernah memenangkan Oscar sebagai film terbaik dalam The Hurt Locker 2009 silam, tetapi Land of Mine adalah cerita yang jauh berbeda. Ini adalah sebuah essay anti perang yang mencekam dengan caranya sendiri. Menjadi saksi bagaimana para bocah ingusan yang terkena wajib militer oleh Nazi dan kemudian tertangkap untuk dipaksa melakukan pekerjaan bunuh diri dengan menjadi pembersih ranjau saja sudah terdengar mengerikan, apalagi kemudian Zandvliet mampu mendramatisir adegannya, membuat setiap proses penjinakan ranjau terasa begitu mendebarkan tanpa harus terlihat berlebihan. Ya, ada perasaan tidak tenang setiap kali para tentara kecil itu merangkak di atas pasir, dengan tangan bergetar berusaha melepas sumbu ledak, salah sedikit nyawa taruhannya. Momen-momen itu terasa begitu menyesakkan karena kita benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tetapi Land of Mine bukan sekedar pertunjukan horor tentang para penjinak bom muda yang bertaruh nyawa, ada sisi kemanusiaan yang coba dihadirkan oleh Zandvliet di sini yang kemudian sukses menciptakan emosi dan rasa simpati luar biasa. Semua dimulai dari karakter utama kita. Adalah Sersan Rasmussen (Rolland Moller), tentara Denmark yang ditugaskan untuk mengawasi para tahanan perang tersebut. Kita langsung tahu bagaimana bencinya Rasmussen pada Jerman yang kemudian dilampiaskannya pada para prajurit-prajurit yang tertangkap, lihat saja di adegan awal ketika ia menghajar hidung salah satu tentara Jerman ketika mengambil sebuah bendera atau bagaimana kemudian ia mengurung para bocah itu setiap malam di sebuah rumah kecil pinggir pantai tempat mereka bertugas tanpa diberi makan selama berhari-hari. Meski terlihat menyebalkan kita dapat memahami perasaan Rasmussen setelah apa yang dilakukan Jerman dan Nazi-nya di PD 2.

Tetapi di sisi lain susah untuk dapat benar-benar bisa sepaham dengan Rasmussen mengingat para tahanan itu adalah para bocah yang sebenarnya tidak tahu apa-apa selain dipaksa untuk berperang. Ya, ada momen dilematis di sini yang kemudian berperan penting dalam menguatkan narasinya. Bagaimana interaksi antara karakter yang berhasil ditunjukkan dengan sangat baik oleh Zandvliet, bagaimana perjalanan emosi yang diwakili transformasi moral karakter Rasmussen atau pertunjukan dari para pemain cilik yang tampil gemilang, menunjukkan kenaifan sekaligus spirit luar biasa dalam mimpi-mimpi mereka untuk bisa pulang ke rumah dan bertemu keluarga nantinya.  Semua drama itu digarap secara halus tanpa harus bersentimentil ria bersama bungkusan visual cantik pinggir pantai dari sinematografer Camilla Hjelm Knudsen yang tidak lain tidak bukan adalah istri dari Zandvliet sendiri.

Pada akhirnya narasinya kemudian mungkin bisa ditebak ke mana arahnya namun susah untuk benar-benar bisa memprediksi setiap kejutan yang datang, setiap ledakan yang  tiba-tiba merenggut salah satu atau mungkin beberapa dari mereka yang kemudian turut menghancurkan hati kita yang turut merasakan kehilangan. Namun pesan lebih besar tentang anti perang begitu tebal dan efektif di sini tanpa harus menjadi guru yang cerewet. Bagaimana menjadi manusia, tidak peduli siapa kamu, siapa lawanmu, selama kamu punya hati yang besar kamu selalu bisa menyelamatkan dunia. “Whoever saves one life saves the world entire.”

Land of Mine (2016)
8 Movienthusiast's
Summary
Wajar jika kemudian Oscar memilih Land of Mine sebagai salah satu kandidat film asing terbaik mereka. Ini adalah drama anti perang yang sangat efektif dan powerfull untuk menggoyang emosimu. Kudos buat premisnya yang fresh, penyutradaraan gemilang, visual cantik dan performa hebat dari para pemainnya.
CERITA8
PENYUTRADARAAN8.2
AKTING7.8
VISUAL7.8
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top