Review

Kong : Skull Island (2017)

Perlukah King Kong, film ikonik Merian C. Cooper dibuat ulang hingga ketiga kalinya? Dari tahun rilisnya di warsa 1933, King Kong pernah direka kembali ke layar lebar di tahun 1976, 2005 hingga sekarang di 2017 ini, yang berarti selang dua belas tahun dari tangan Peter Jackson lalu untuk menghidupkan kembali kedigdayaan primata raksasa ini. Ditangani oleh sineas yang namanya baru terdengar via film coming of age, The Kings of Summer, Jordan Vogt-Roberts, film versi anyar King Kong yang ditajuki Kong : Skull Island ini juga disokong banyak bintang tenar dari pemain idola asal Inggris, Tom Hiddleston, aktris peraih Oscar, Brie Larson hingga pemain veteran John Goodman, Richard Jenkins, sampai aktor Samuel L. Jackson.

King Kong mungkin menjadi simbol kekuatan alam yang merusak tapi di sisi lain juga melindungi habitatnya hingga akhirnya jatuh oleh keelokan wanita dan tangan serakah manusia. Tema tersebut coba diangkat oleh Cooper di era depresi Amerika Serikat, sampai tema kapitalis di remake tahun 70annya, lalu Jackson yang baru mereguk sukses dengan trilogi The Lord of the Rings-nya mencoba melakukan retrospeksi ke versi orisinilnya dengan hasil yang lebih epik dan mahal. Lantas di percobaan terbarunya ini, Vogt-Roberts malah membawa nuansa perang nan puitis sekaligus brutal ala Apocalypse Now-nya Francis Ford Coppola. Sulit untuk tak merasa demikian ketika plot filmnya dibawa pada latar awal 70an, dimana sekelompok tentara yang baru saja usai bertempur dalam Perang Vietnam diperintahkan untuk mengawal sekelompok ilmuwan meneliti kepulauan misterius, Skull Island di samudra lepas Pasifik. Latarnya menyorot Asia Tenggara dengan begitu kental, sampai pemilihan warna yang begitu kusam keemasan nan elok dari tangan sinematografer, Larry Fong dan adegan-adegan dramatis tentara memainkan senjata hingga suar yang memberikan efek pertempuran mencekam melawan mahluk-mahluk ganjil penghuni pulau tersebut.

Mungkin versi Jackson yang edar lebih satu dekade lalu masih sedikit lekat di benak, di situ Jackson sebegitu setianya dengan pakem Cooper dan seakan melakukan tribut bagi versi klasiknya dengan bujet fantastis dan durasi panjang yang kian mengesankan keepikannya. Nah, Vogt-Roberts seakan ingin membawa filmnya ini ke arah yang berbeda, sebuah film brutal, peperangan dengan adegan aksi yang cukup memilukan dan sebuah bagian dari MonsterVerse (yang dimulai dari Godzilla dua tahun silam) yang bakal besar di kemudian hari. Jika Jackson memakai aktris Naomi Watts sebagai pendamping sang monster dengan karakter yang kaya dan akting meyakinkan, maka di film terbarunya ini, ada Larson, sebagai fotografer anti perang yang karakternya begitu dangkal. Sebelas dua belas dengan Hiddleston yang didapuk sebagai tentara bayaran yang terlihat hanya sebatas pemanis layar untuk peran utama manusianya. Sosok-sosok menarik justru hadir dari karakter-karakter pembantunya, Goodman, C. Reilly hingga Toby Kebbell terlihat lebih kaya secara emosional namun dengan waktu tampil yang irit di layar, lakon mereka tidak tergali dengan seharusnya. Pun L. Jackson yang semakin menjengkelkan dan seharusnya berhenti memainkan peran antagonis di masa mendatang.

Secara visual, Kong : Skull Island ini harus diakui tampil cantik, dan adegan-adegan aksinya cukup mutakhir dan terlihat berbeda dari tampilan banyak film-film sejenisnya. Vogt-Roberts juga pintar memainkan tensi filmnya sehingga tampil seru dan menegangkan di sepanjang durasinya. Tapi apa daya, naskah tulisan Dan Gilory, Max Borenstein, serta Derek Connolly ini harus mengorbankan banyak isi pesan humanisme, hinga karakterisasi manusianya demi kegagahan bintang utamanya, Kong. Jika memang itu tujuan utamanya maka Vogt-Roberts berhasil. Kong : Skull Island harus diakui cukup menghibur dan tak memberikan banyak ruang menjemukan selama durasinya.

Dihiasi musik-tembang jempolan era 70-an, Kong : Skull Island mungkin terasa menyenangkan, namun di lain hal juga terasa hampa dalam bercerita. Akibat dijejali banyak efektifitas gula-gula mata, sehingga mengorbankan banyak talenta pelakon di dalamnya tak lebih sebagai tempelan belaka. Dibanding King Kong warsa 2005, Kong; Skull Island memang terasa singkat dan cetek tapi jauh lebih menghibur dengan efek visual masa kininya dan jelas lebih baik dari versi Jessica Lange tempo hari.

Kong : Skull Island (2017)
7.0 Movienthusiast's
Summary
Film Kong teranyar ini harus diakui memiliki visual memikat, musik yang jempolan hingga adegan aksi yang mutakhir. Namun karakter manusianya dan naskahnya harus dikorbankan demi kedigdayaan sosok ikonik Kong.
CERITA5
PENYUTRADARAAN7
AKTING5.5
VISUAL8
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top