Review

The Jungle Book (2016)

Novelis asal Inggris Rudyard Kipling mungkin akan terus tersenyum lebar di dalam kuburnya. Sebelumnya ia tidak pernah menyangka bahwa ketika pertama kali membuat sebuah kisah tentang bocah manusia yang dibesarkan serigala di hutan India 1894 silam ternyata bisa begitu sangat populer di masa depan, bahkan setelah 122 tahun kemudian, The Jungle Book masih menjadi salah satu kisah abadi yang selalu diceritakan kembali dan kembali, menyaingi ketenaran Tarzan yang punya konsep serupa. Tetapi Kipling sebenarnya juga patut berterima kasih pada Walt Disney yang sudah menjadikan The Jungle Book franchise abadi melalui berbagai macam adaptasi, mulai animasi rilisan 1967 yang begitu populer (sekuelnya dibuat 2003 silam),  serial televisi, video game dan tentu saja versi live action-nya yang sebelum kemunculan versi terbarunya tahun ini sudah ada dua pendahulunya dalam Rudyard Kipling’s The Jungle Book (1994) dan The Jungle Book: Mowgli’s Story (1998).

Seperti yang saya katakan di atas,  tidak peduli di era mana kamu berada, The Jungle Book itu abadi termasuk bikinan John Favreau ini yang masih menghadirkan kisah yang sama, cerita tetang Mowgli (Neel Sethi) bocah manusia yang diselamatkan Bagheera (Ben Kingsley) si macan kumbang, di besarkan oleh sekawanan serigala pimpimpan Akela (Giancarlo Esposito) dan Raksha (Lupita Nyong’o), bersahabat dengan beruang bernama Baloo (Bill Muray) yang kemudian harus berhadapan dengan Shere Khan (Idris Elba) si macan Bengal yang jahat.

Ya, secara keseluruhan kisahnya masih sama seperti animasi 1967 dan versi Rudyard Kipling sendiri  jadi ini bisa dibilang pekerjaan mudah untuk penulis naskah Justin Marks yang mungkin hanya sedikit melalukan modifikasi. Jika ada yang menonjol di The Jungle Book versi terbaru ini mungkin terlihat dari sisi teknisnya yang tentu saja melampaui para pendahulunya. Ya, berbicara soal kualitas teknis, Jon Favreau benar-benar dimanjakan dengan perkembangan teknologi CGI, 3D photography dan motion capture yang semakin canggih. Dunia artifisial  The Jungle Book sukses digambarkan dengan sangat cantik dan detil oleh tangan-tangan hebat dari Moving Picture Company (MPC) dan Weta Digital,  baik itu karakter para hewan yang digambarkan begitu hidup (hanya kalah dari Life of Pi) atau hanya sekedar vegetasi dari pohon-pohon besar dan fauna hutan hujan India yang eksotis. Semua kebesaran spesial efek itu dibungkus oleh sinematografi cakep Bil Pope yang mampu menerjemahkan visi penyutradaraan enerjik dan penuh humor Favreau menjadi sebuah kesatuan tak terpisahkan dalam usaha untuk menghadirkan sebuah konsep petualangan keluarga klasik dalam eksekusi yang lebih modern.

Narasinya sederhana dan bersahabat tanpa substansi macam-macam, humornya lucu dan enak dinikmati semua umur, petualangannya seru dan mendebarkan, sisi emosionalnya juga cukup mengena namun jika ada satu hal yang paling menonjol dari The Jungle Book selain visualnya yang ciamik itu adalah jajaran cast pengisi suaranya. Bukan hanya karena diisi oleh nama-nama besar saja namun bagaimana mereka memberi jiwa pada karakter-karakternya dengan sangat baik, lihat saja bagaimana Baloo bisa terasa sangat bersahabat dalam suara Bill Murray, suara lembut Lupita Nyong’o membentuk sisi keibuan dari Raksha, nada bijaksana dari Bagheera-nya Beng Kingsley, Christopher Walken dengan King Louie yang tamak, suara menggoda nan seksi dari Scarlett Johansson berwujud Kaa yang sayang hanya tampil sebentar sampai ancaman besar dari sosok harimau Bengal yang di alih suarakan Idris Elba.

The Jungle Book (2016)
7.9 Reviewer
Summary
Tidak ada cerita yang berubah, ini masih The Jungle Book yang sama yang kita kenal hanya saja di bawah arahan John Favreau, versi terbarunya berhasil dibuat dalam balutan yang lebih menyegarkan baik dari spesial efek, penyutradaraan sampai jajaran cast bintang lima yang sukses mengisi jiwa karakter-karakter artifisialnya.
Cerita7.2
Penyutradaraan8
Visual8.3
Alih Suara8

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top