Review

Jason Bourne (2016)

Ketika Matt Damon memutuskan untuk tidak lagi memerankan karakter Jason Bourne setelah  The Bourne Utlimatum, para penontonnya yang kecewa kemudian dikejutkan dengan kehadiran installement ke-4 Bourne tiga tahun sesudahnya dengan bertajuk The Bourne Legacy, tetapi bukan berarti kemunculan Legacy bisa membuat para fansnya senang, toh, Damon bergeming dengan ucapannya untuk tidak lagi terlibat di sana dan tentu saja mengecewakan melihat posisi sang jagoan digantikan aktor lain meski itu sekaliber Jeremy Renner sekalipun, tidak sampai di sana, kualitas Legacy pun terbilang sama mengecewakannya mengingat Paul Greengrass yang membuat Supremacy dan Utlimatum bisa begitu memesona tidak lagi ikut campur di belakang ‘kemudi’, digantikan oleh Tony Gilroy.

Tetapi namanya manusia siapa yang bisa menebak, Damon kemudian menarik kata-katanya, ia hanya mau tampil lagi sebagai mantan agen CIA amnesia rekaan Robert Ludlum dengan kemampuan tempur luar biasa itu hanya jika Paul Greengrass kembali duduk di bangku sutradara. Dan gayung pun bersambut, Damon dan Greengrass pun kembali bersatu untuk kemudian melahirkan seri ke-5 Bourne dengan judul yang lebih simpel, Jason Bourne.

Jujur saja, Jason Bourne bisa dibilang adalah sekuel yang sama maksanya dengan Legacy. Utlimatum sebenarnya sudah menjadi trilogi penutup segala kisah pencarian masa lalu  David Webb a.k.a Jason Bourne dengan sempurna, tetapi tentu saja sebagai sebuah perusahaan besar, Universal punya rencana lain agar salah satu franchise-nya itu tidak mati begitu saja, toh, saya sebagai salah satu penggemar seri Bourne tetap menyambut dengan tangan terbuka karena faktor kembalinya Greengrass dan pastinya, Damon. Ya, Jason Bourne kali ini benar-benar kembali.

Kamu bisa membuang Legacy dari sini, anggap saja itu seri yang tidak pernah ada. Narasi garapan Greengrass dan Christopher Rouse kembali mengisahkan petualangan Jason Bourne yang kembali lagi ke permukaan setelah tujuh tahun pasca Ultimatum. Semua bermula ketika Nicky Parsons (Julia Stiles) kembali menghubunginya untuk memberi tahu ada sebuah rahasia besar CIA tentang masa lalunya yang masih disembunyikan bersama proyek-proyek top secret lain. Tentu saja CIA yang dipimpin oleh Robert Dewey (Tommy Lee Jones) tidak tinggal diam mengetahui rahasianya di obok-obok oleh mantan agen mereka. Dibantu oleh kepala bagian cyber, Heather Lee (Alica Vikander) dan  agen lapangan mematikan,  Dewey kembali melakukan perburuan besar-besaran untuk sekali lagi menangkap dan membinasakan Jason Bourne untuk selamanya.

Plot Jason Bourne terasa sangat familiar, ia nyaris bergerak serupa dengan tiga pendahulunya dengan hanya sedikit menawarkan sesuatu yang baru. Tetapi itu jelas bukan masalah besar, toh, naskah Greengrass dan Rouse cukup cerdas untuk masih membawa Jason Bourne kembali ke thriller aksi spionanse modern yang kita kenal. Intinya masih sama, Bourne tidak hanya harus berhadapan kembali dengan rahasia masa lalu yang kerap mengganggunya, namun juga pihak CIA dengan segala aset dan peralatan super canggih mereka untuk meringkus Bourne. Yang sedikit berbeda adalah setting waktu yang kemudian di sesuaikan dengan era yang lebih modern timbang nyaris sedekade silam bersama  segala isu tentang privasi internet dan kebocoran rahasia penting negara macam peristiwa Snowden dan Wikileaks serta segala konspirasi tingkat tinggi yang mengatas namakan patriotisme dan keamanan negara.

Narasinya memang tidak mampu berinovasi besar dan terasa seperti mengulang dari pakem seri pendahulunya, namun fokus utamanya adalah bagaimana meleburkan kisahnya bersama momen aksinya yang harus diakui masih terasa luar biasa mendebarkan ketika berada di tangan Greengrass. Trademark Greengrass dengan segala editing cepat dan pengunaan shaky cam kembali mendominasi setiap pergerakan Bourne ketika beradu pintar dengan para agen CIA. Setiap adegan kejar-kejaran digarap dengan sangat baik, setiap adu fisik dan senjata menghadirkan lecutan adrenalin tingkat tinggi bersama dentuman scoring familiar dari John Powell dan David Buckley. Pemilihan lokasi seperti biasa, eksotis, dari Reykjavik ke Athena, dari Berlin ke London hingga klimaks yang melibatkan momen car chase seru di Las Vegas kemudian menutup kisahnya.

Seperti seri yang sudah-sudah, franchise Bourne selalu diisi dengan casting kuat, tidak terkecuali di Jason Bourne. Tentu saja jagoan utama kita, sang anti-hero Jason Bourne sendiri adalah daya pikat utama mengingat Matt Damon kembali memerankan salah satu karakter yang membesarkan namanya. Damon masih fantastis mengisi peran Bourne seperti tujuh tahun silam, bahkan secara fisik ia malah terlihat lebih baik dan lebih tangguh. Narasinya juga memberi masa lalu lebih jauh tentang awal operasi rahasia Treadstone dan bagaimana ia sampai terlibat di dalamnya . Sementara Tommy Lee Jones mengisi slot antagonis yang sayang tidak ada bedanya dengan musuh-musuh Bourne sebelumnya yang dimainkan Brian Cox dan Chris Cooper, mereka adalah orang-orang tua dari CIA yang jahat. Senang melihat Vincent Cassel didapuk menjadi karakter Asset, sayang lagi-lagi ia juga nyaris sama dengan para pendahulunya sebagai agen tanpa jiwa yang hanya mondar-mandir mengejar target. Tetapi selalu ada perbedaan ketika kamu memasukkan casting seperti Alicia Vikander yang selalu tampil, tidak hanya cantik namun solid memerankan peran-perannya, termasuk menjadi Heather Lee, agen baru divisi cyber CIA yang cerdas bersama motif yang susah ditebak.

 

Jason Bourne (2016)
7.8 Movienthusiast's
Summary
Jason Bourne mungkin akan terasa familiar dengan tiga seri pendahulunya. Tidak ada yang terlalu baru di sini, bahkan bisa dibilang ia bukan sekuel yang perlu ada, tetapi bukan berarti ia tidak bertaji. Di bawah asuhan Paul Greengrass dan kembalinya Matt Damon, Jason Bourne masih tampil prima sebagai sebuah gelaran thriller aksi spionase berkecepatan tinggi yang sanggup menggoyang adrenalinmu.
CERITA7.3
PENYUTRADARAAN8.2
AKTING7.7
VISUAL8.1

 

 

 

 

 

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top