Review

Hello, My Name is Doris (2016)

Tidak ada yang pernah meragukan kekuatan akting dari seorang gaek macam Sally Field. Dua piala emas Oscar, masing-masing dari Norma Rae dan Pieces of My Heart dan segudang penghargaan bergengsi lain di lebih dari lima dekade kariernya dalam dunia perfilman adalah bukti bahwa aktris kelahiran Pasadena, California 70 tahun silam itu memang selalu tampil maksimal, baik itu hanya sekedar menjadi karakter pendukung maupun peran utama. Hello, My Name is Doris lagi-lagi menguatkan alasan mengapa kita (harus) terus mencintai Field.

Field menjadi Doris Miller, akuntan 60 tahunan, penyendiri, nyentrik dengan dandanan norak. Praktis setelah kematian ibu yang dirawatnya sendiri di hampir separuh hidupnya meninggal dunia, Doris hanya punya Roz (Tyne Daly) sebagai teman dekatnya. Di tempat kerjanya ia seperti tak terlihat. Duduk di ruang kotak sempit sembari memasukkan angka-angka dan data-data yang sama membosankan dengan dirinya, sampai suatu hari ia kedatangan rekan kerja baru, John (Max Greenfield) yang langsung membuatnya terpana pada pandangan pertama. Masalahnya, John itu jelas jauh dari jangkauannya, Doris tahu persis bahwa ia tidak mungkin bisa mendapatkan cinta seorang pemuda 30 tahunan yang super tampan dengan rambut bagus, tetapi seorang motivator (Peter Gallagher) berhasil meyakinkannya untuk terus mengejar impiannya, maka dari sini dimulailah perjalanan cinta Doris mengejar mas-mas ganteng dengan segala cara.

Premis romcom garapan sutradara The Baxter, Michael Showalter yang merupakan adaptasi dari film pendek Doris & the Intern yang juga ditulis oleh salah satu screenwriter nya, Laura Terruso memang menarik meski tidak lagi baru. Konsep romansa ala Harold and Maude nya mungkin tidak terlalu ekstrem, tetapi tetap saja melihat bagaimana nenek-nenek peyot dengan busana hippe ala 70’an  berusaha mendapatkan cinta seorang pemuda ganteng yang lebih pantas menjadi anak, atau bahkan mungkin cucunya jelas bisa menjadi tontonan komedi romantis unik yang menghibur. Tetapi harus diakui, meski menarik, naskah Hello, My Name is Doris tidak akan bisa bekerja maksimal tanpa dukungan penampilan hebat Sally Field dalam satu akting terbaiknya.

Field adalah alasan mengapa Hello, My Name is Doris bisa berfungsi dengan sangat baik menghadirkan pengalaman menonton komedi romantis yang kuat. Bagaimana Field secara konsisten mampu menggerakkan naskah Showalter dan Terruso melalui perannya sebagai Doris Miller yang di satu sisi terlihat menyedihkan dengan segala kehidupannya sebagai “cat lady” yang terlupakan sementara di sisi lain menimbulkan kelucuan akibat tingkah lakunya yang kekanak-kanakan ketika berusaha menarik perhatian pujaan hatinya. Ya, mudah untuk kemudian tertawa melihat bagaimana Field mampu menguatkan sisi komedinya, lihat saja tingkah anehnya dari khayalan tingkat tinggi sampai nekat menghadiri konser grup musik elektronik bersama balutan busananya yang serba norak. Field juga tampil sama hebatnya ketika ia juga mampu membuat penontonnya bersimpati dengan konflik drama pribadi dan kehidupan Doris. Kita bisa memaklumi apa yang dilakukan Doris mengingat hampir separuh hidupnya dihabiskan untuk merawat ibunya, membuatnya terpaksa harus berkorban besar, termasuk mengubur setiap cinta yang datang kepadanya. Sementara di sisi lain, adik laki-lakinya terus memaksanya untuk menjual rumah keluarga dan move on dengan hidupnya.

Hello, My Name is Doris (2016)
7.8 Movienthusiast's
Summary
Komedi romantis yang menyenangkan dan unik, seunik karakter utamanya, Doris yang dimainkan sempurna oleh Sally Field dalam salah satu penampilan terbaik dalam kariernya.
CERITA7.5
PENYUTRADARAAN7.7
AKTING8.6
VISUAL7.2

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top