Review

Hardcore Henry (2016)

Memberi judulnya dengan embel-embel “Hardcore” bukan tanpa alasan atau hanya sekedar buat gaya-gayaan agar terdengar keren, Hardcore Henry sungguh pantas menyandang segala sebutan yang merujuk pada istilah ekstrem, eksplisit dan lebih dari biasanya. Ya, action Rusia garapan Ilya Naishuller ini memang tidak ada duanya sejauh ini ketika mengemas hampir 95% adegannya dalam balutan presentasi yang sering disebut dalam dunia video game sebagai FPS (First-Person Shooter), sebuah penyajian yang mengambil langsung dari sudut pandang orang pertama, ambil contoh judul-judul game populer macam Counter Strike, franchise Call of Duty atau Battlefield.

Mungkin kamu bisa menyebut Hardcore Henry sebagai Crank dalam versi FPS. Sebuah sajian action gila-gilaan yang semuanya tersaji dengan semburan adrenalin tingkat tinggi dan penggunaan sedikit otak. Memulai kisahnya dari sebuah laboratorium canggih, Henry begitu ia kemudian disebut terbangun dari tidurnya tanpa memori masa lalu tanpa kemampuan berbicara. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa Henry adalah objek dari sebuah eksperimen cybernetic tentara super yang menjadikan tubuhnya separuh mesin separuh manusia. Di sana ada ia disambut istrinya, Estelle (Haley Bennett) yang juga seorang ilmuwan. Selang beberapa menit kemudian terjadi penyerbuan yang dipimpin oleh Akan (Danila Kozlovsky). Henry berhasil selamat namun Estelle diculik Akan. Dari sini segalanya baru dimulai.

Jarak antara benci dan cinta begitu tipis di sini. Jika kamu adalah non-gamer dan asing dengan segala dunia FPS dan segala tetek bengek pergerakan kamera yang tidak biasa (baca: bikin muntah), mudah sekali untuk meludahi Hardcore Henry dengan pandangan penuh jijik. Tetapi lain kasusnya jika kamu sudah menghabiskan sebagian hidupmu bercokol di depan layar komputer atau konsol, membantai musuh-musuhmu dengan berbagai jenis sejata, maka ini adalah duniamu. Ya, bagi para FPS mania, Hardcore Henry adalah mimpi basah yang terwujud. Begitu banyak referensi dari game-game FPS dijejeli di sini yang bisa membuatmu melompat kegirangan. Lupakan saja ceritanya, pengembangan karakter dan rasionalitas, meski sebenarnya naskah yang juga digarap Naishuller juga tidak sampai jelek-jelek amat, tetapi mengingat ini adalah jenis brainless action, maka wajib hukumnya kamu untuk menyimpan 96 menit logikamu di laci meja, duduk saja dan nikmati segala kegilaan maksimal dari Hardcore Henry yang benar-benar hardcore!

Tentu saja penggunaan sudut pandang orang pertama adalah jualan utama Hardcore Henry, terlepas itu kemudian menjadi gimmick semata atau tidak yang pasti ini adalah pengalaman menonton film aksi yang seru dan menyenangkan. Seperti yang saya katakan di atas, hampir 95% presentasi visualnya didominasi oleh perspektif langsung dari mata karakter utamanya. Set pieces-nya brilian,  jika kebanyakan video game ingin terlihat seperti film mungkin baru Hardcore Henry yang berlaku sebaliknya, ia ingin terlihat semaksimal mungkin menghadirkan pengalaman menonton yang benar-benar berbeda, seperti menonton video game dengan segala elemen-elemennya. Dari kejar-kejaran mobil, adu tembak dengan berbagai senjata termasuk sniper sampai bos fight di atap gedung dengan iring-iringan Don’t Stop Me Now-nya Queen itu luar biasa keren, semua terasa video game banget yang dikemas dengan teknis sinematis dan editing tingkat tinggi, belum saya menyebut kualitas spesial efeknya yang tidak malu-maluin untuk film yang hanya berbujet 2 juta Dolar ini. Segala pergerakan kameranya berasal dari sudut pandang Henry. Menggunakan kamera GoPro yang dimodifikasi sedemikian rupa dengan penutup kepala khusus dan beberapa kali mengganti pemain utamanya yang sakit leher, Naishuller terus memborbadir penontonnya dengan gerakan-gerakan cepat, aksi-aksi ajaib bersama kebrutalan tanpa ampun, jadi jika kameranya tidak membuatmu mual mungkin melihat kepala pecah dan tubuh hancur akan menggerakan isi perutmu.

Henry memang adalah karakter utama di sini, kita melihat melalui pandangannya, tetapi di sepanjang filmnya kita nyaris tidak pernah melihat wajah asli dan suaranya. Untuk menambal karakternya yang pasif, Naishuller menggandengnya dengan dukungan cast yang bagus dari Sharlto Copley sebagai Jimmy yang sukses menghadirkan sisi komedi tersendiri di setiap kehadirannya. Sementara tidak banyak yang bisa digali dari karakter lain. Haley Bennett tetap cantik dan seksi sejak saya pertama kali melihatnya dalam horor The Hole 2009 silam, lalu ada Tim Roth yang tampil sebentar sebagai ayah Henry, sisanya Danila Kozlovsky tampil cukup oke sebagai villain utama, Akan meski tidak terlalu meneror juga.

Hardcore Henry (2016)
7.3 Movienthusiast's
Summary
Tentu saja ini adalah sebuah ajang coba-coba, namun siapa sangka membuat sebuah action movie dengan presentasi yang full FPS bisa sehebat dan semenyenangkan ini. Hardcore Henry menghadirkan pengalaman menonton yang luar biasa. Sebuah brainless action yang beda yang mudah dicintai dan dibenci sama besarnya, tergantung dari sudut mana kamu melihat.
CERITA6.2
PENYUTRADARAAN8.5
AKTING6
VISUAL8.3
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top