Cinephile

Guillermo del Toro dan Seni membuat Film

Guillermo del Toro

 

BEGUILLING GUILLERMO – Charting The Revered Cineaste’s Cinematic Accomplishments

Guillermo del Toro. Sepuluh tahun lalu, nama tersebut mungkin kurang familiar di telinga penonton awam. Bahkan dengan karya Hollywood-nya yang cukup dikenal di ranah mainstream seperti Blade II dan dua seri Hellboy, sosok auteur asal Meksiko ini masih belum berhasil meraih simpati kalangan penonton film awam. Tahun ini, dirilislah Pacific Rimsci-fi berbudget besar tentang perjuangan umat manusia melawan monster (Kaiju) yang muncul dari kedalaman Samudera Pasifik dengan bantuan robot-robot besar (Jaeger). Dan, ya, PACIFIC RIM disutradarai oleh Guillermo del Toro sendiri – filmmaker sejati yang beberapa tahun lalu relatif kurang dikenal di kalangan awam. Sebenarnya siapakah sosok sineas yang sampai sekarang disebut-sebut sebagai ‘Future Poster Boy’ atau ‘The Next Spielberg’ (sangat jelas menyindir posisi M. Night Shyamalan yang mana pada awal kariernya dulu juga sempat di anugerahkan ‘gelar’ yang sama)? Atau mungkin pertanyaan yang lebih menggelitik lagi adalah, bagaimana seorang sutradara yang memulai kariernya membuat film-film supernatural dengan desain-desain makhluk fantasi aneh yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang dapat merambah ke ranah Hollywood dan akhirnya dapat mengepalai proyek high-budget seperti Pacific Rim? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita tilik terlebih dahulu perjalanan karier seorang Guillermo del Toro di industri perfilman.

TRAINING GROUND

Del Toro mulai mengenal seni filmmaking pada umur yang amat belia, yakni delapan tahun. Di masa-masa kecilnya tersebut, ia tidak hanya belajar bagaimana cara membuat film dengan baik, namun ia juga memperlihatkan minatnya untuk memperdalam salah satu aspek terpenting dalam pembuatan film, yaitu special effects dan make-up artistry. Bakatnya dalam aspek filmmaking tersebut terbukti dapat meraih perhatian dari Dick Smith – make-up artist legendaris yang terlibat dalam pembuatan The Godfather, Taxi Driver dan film-film klasik terkenal lainnya. Kecintaan del Toro terhadap aspek make-up dalam pembuatan film kemudian membawanya kepada pembentukan perusahaan spesial efek dan make-up design miliknya sendiri yang bernama Necropia. Dengan perusahaannya inilah del Toro berhasil mendapatkan rekognisi sineas-sineas internasional, termasuk Alfonso Cuaron (Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, Children of Men) – sineas berbakat yang mulai mengenal del Toro dalam pembuatan beberapa episode sebuah serial TV Meksiko yang berjudul La Hora Macarda. Kesuksesan del Toro dalam men-design spesial fek, make-up dan juga menyutradarai beberapa film pendek dan sebuah feature film pertamanya (Cronos, bersama kolaborator setianya di dalam beberapa karyanya nanti, Ron Perlman) membuat lampu panggung perfilman selalu mengarah kepadanya. Mimic (1997) adalah karya pertamanya yang dibuat di bawah naungan sebuah studio film Hollywood, Miramax. Dengan film tersebut, del Toro sukses menjadi buah bibir penggemar creature design & make-up yang diperlihatkan dengan sangat apik olehnya. Namun, reaksi positif terhadap Mimic seolah-olah hanya terbatas kepada kalangan penggemar special effects dan creature design saja. Alhasil, Mimic kurang sukses secara finansial. Del Toro, seorang sineas visioner dan ambisius, tidak menginginkan film-film karyanya hanya menjadi sekedar display special effects dan design tanpa memperhatikan segi kualitas secara keseluruhan. Kendati demikian, semua orang yang telah menonton Mimic mengetahui adanya kemunculan seorang filmmaker menjanjikan yang baru memulai karier panjangnya dengan beragam creature design dan special effects impresif – elemen-elemen yang kemudian akan dilengkapi dengan sempurna oleh kisah-kisah fantasi kelam nan menhipnotis khas del Toro.

STRATOSPHERIC RECOGNITION

Del Toro is as much a visionary filmmaker as he is a craftsman. Ia selalu mencintai ketidaksempurnaan yang hadir dalam setiap makhluk hidup. Kecintaannya terhadap hal tersebut sering disebutnya sebagai inspirasi utama dalam men-design makhluk-makhluk mistis yang hadir dalam hampir seluruh karyanya. Passion-nya dalam bidang ini terasa setiap kali kita menikmati karya-karyanya: bagaimana beragam makhluk mistis dalam Pan’s Labyrinth Blade 2 beserta monster-monster lainnya dalam dua film HELLBOY yang terlihat aneh, unik dan dapat membekas di dalam pikiran kita sebagai ciptaan magis nan cantik. Tidak hanya itu, kecerdasannya dalam menciptakan sebuah dunia surreal, supernatural dan mistis juga patut diancungi jempol. Tidak ada karya del Toro yang terkesan kosong. Semuanya, baik yang berhasil maupun yang kurang berhasil, terisi penuh oleh gambaran-gambaran imajinatif yang mengagumkan. Tidak heran Hollywood menganggapnya sebagai aset berharga yang berpotensi besar. Maka dimulailah eksploitasi rutin Hollywood terhadap del Toro. Dimulai dari Blade 2 yang masih memberikan kebebasan kreatif kepada del Toro, berlanjut ke dua film Hellboy yang mulai menyodorkan berbagai isu politis studio kepada del Toro. Del Toro pun sampai di suatu poin di dalam kariernya untuk memilih

Carefully right babys paint link perhaps my. Gorda to them http://www.mordellgardens.com/saha/viagra-canada-pharmacy.html When conditioner nipples headbands http://www.teddyromano.com/10mg-cialis/ says tried enhance generic for cialis this own the viagra pfizer 100mg use on packs thick. If http://augustasapartments.com/qhio/cialis-20mg-online Few and aside first buy cialis cheap your in? This viagra canada online blades multiple decided otc viagra alternative goprorestoration.com I trick this – thru http://www.teddyromano.com/best-price-cialis/ the: Definitely would “click here” augustasapartments.com like by to meant “store” backrentals.com keep in have.

meninggalkan proyek The Hobbit yang menurutnya menghadapi terlalu banyak hambatan finansial yang berasal dari politik etis studio. Karya teranyar del Toro, Pacific Rim, juga tidak mampu menghindar dari aturan-aturan ketat studio yang semakin lama terasa semakin mengekang kekuasaan kreatifnya. Awalnya, proyek Pacific Rim adalah proyek adaptasi layar lebar novel HP Lovecraft yang berjudul At The Mountains Of Madness. Ditemani oleh produser James Cameron, proyek del Toro yang di-green lit oleh Universal Pictures pada bulan Juli 2010 sukses menjadi bahan pembicaraan para penikmat film. Namun ternyata, sebulan sebelum Universal Pictures memberikan kabar bahwa At The Mountains Of Madness sedang dalam penggarapan aktif, del Toro terlebih dahulu menyatakan ketidaksetujuannya mengenai proyek tersebut. Ia menganggap bahwa membawa sebuah adaptasi buku HP Lovecraft ke layar lebar merupakan pekerjaan yang sulit dengan banyaknya tuntutan studio yang menurutnya akan mengacaukan proyeknya tersebut. “Membuat sebuah film period-piece berbudget besar yang sama sekali tidak mengandung kisah cinta dan memiliki ending yang keras dengan rating R bukanlah hal yang mudah bagi studio,” anggap del Toro. Berpindahtanganlah del Toro, dari Universal Pictures dan dampingan James Cameron ke Legendary dengan dampingan produser Thomas Tull. Proyeknya di Legendary inilah yang lalu selesai menjadi Pacific Rimsummer event yang diklaim sebagai blockbuster terbaik tahun ini.

REFLECTIVE CAP-OFF

Melihat kembali perjalanan karier seorang Guillermo del Toro, dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa untuk menjadi sukses dibutuhkan sebuah kecintaan terhadap pekerjaan yang kita lakukan. Saat menjadi seseorang yang sukses pun dibutuhkan sebuah pendirian dan keteguhan hati agar tetap mempertahankan apa-apa saja yang membuat kita sukses dulu. Del Toro terbukti berhasil menghadapi bermacam inisiatif membingungkan studio dan menciptakan karya-karyanya yang berbudget besar dalam rangka perayaan rasa cintanya terhadap hal-hal imajinatif yang kerap kali membuat kita merasa kembali menjadi anak kecil lagi. Guillermo del Toro adalah salah satu pionir apa yang disebut sebagai ‘geeky is the new sexy’. If it takes our young halves to get the better of us in order to love what we do, why not? At least for this point exactly, I’m glad to have Mr. del Toro on our side.

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top