Review

The Great Wall (2016)

Kamu bisa saja menganggap The Great Wall adalah karya terburuk yang pernah dibuat oleh seorang Zhang Yimou dalam tiga dekade kariernya sebagai salah satu sutradara hebat yang pernah dipunyai negeri tirai bambu, lihat saja bagaimana para kritikus dari situs review yang terkenal itu kemudian ramai-ramai melemparnya dengan “tomat busuk” dengan hanya memberi poten 40% buat film dengan biaya produksi terbesar dalam sejarah yang pernah dibuat perfilman Cina ini. Tetapi terkadang kamu tidak bisa terlalu mempercayai kumpulan para tukang kritik yang tidak tahu rasanya bersenang-senang itu, karena jujur saja meski menderita banyak di narasinya, The Great Wall adalah salah satu pengalaman menonton, seperti kata wikipedia; “epic historical fiction action-adventure monster” yang sangat menyenangkan.

Memulai dirinya dengan penampakan CGI dari Tembok Cina yang kesohor itu dengan beberapa fakta dan mitosnya, The Great Wall menghadirkan Matt Damon dalam balutan penampilan lusuh dengan rambut dan janggut yang sama gondrongnya. Damon adalah William Garin, satu dari sedikit tentara bayaran yang berhasil bertahan hidup dalam ekspedisi mencari bubuk hitam (yang kini kita kenal sebagai mesiu) yang dipercaya bisa menjadi senjata paling mematikan yang pernah ada. Bersama rekannya, Pero Tovar (Pedro Pascal), keduanya berhasil kabur dari kejaran bandit-bandit Khitan di gurun Gobi sampai akhirnya mereka ditangkap oleh pasukan penjaga tembok pimpinan jenderal Shao (Zhang Hanyu) dan komandan Lin Mae (Jing Tian). Tidak butuh waktu lama buat keduanya  kemudian menjadi saksi dan terlibat langsung dalam invasi gila-gilaan monster Taotie yang hendak menerobos tembok dan menguasai dunia.

Lupakan saja fakta sejarah apalagi mitos-mitos fiksi yang serba ngawur di sini, toh, The Great Wall sejatinya memang memosisikan dirinya sebagai sebuah gelaran petualangan fantasi kolosal yang hanya meminjam set Tembok Cina sebagai daya tarik ketimbang repot bermain-main dengan keakuratan sejarah. Ya, dengan bujet raksasa yang sampai menyentuh 150 juta Dolar, memang sangat pantas kita memberi gelar The Great Wall sebagai proyek film terbesar yang pernah dibuat Cina. Kolaborasi para taipan-taipan perfilman barat dan timur jelas memberi Yimou banyak sumber daya untuk membuat karya berbahasa Inggris pertamanya ini menjadi tontonan yang memiliki segala yang dibutuhkan untuk sebuah proyek epik fantasi blockbuster, ya, semuanya, kecuali menyewa penulis naskah yang bagus meski sebenarnya ada nama sekaliber Tony Gilroy di jajaran penulis naskah yang sebelumnya pernah mendapatkan nominasi Oscar buat Michael Clayton.

Narasi adalah dosa paling besar dari The Great Wall, jadi jika kamu datang jauh-jauh ke bioskop dengan harapan besar untuk mendapatkan suguhan kolosal fantasi sehebat trilogi Lord of The Ring mending urungkan saja niatmu. Tidak ada cerita kuat tentang latar belakang setiap karakternya, tidak ada penjelasan mendalam tentang para monster apalagi menjadikannya sebagai pelajaran sejarah tentang Tembok Cina yang merupakan bagian dari keajaiban dunia itu, belum lagi saya menyebut konklusi akhirnya yang serba maksa dan sebagainya, dan sebgainya. Ya, The Great Wall seperti memilih praktik ketimbang banyak mengumbar teori dan harus diakui itu terkadang bisa menyenangkan, coba saja tanya para murid-murid di sekolah dasar maupun tingkat lanjut, dan untuk hal ini saya senang ternyata Yimou tahu rasanya untuk bersenang-senang menjadi guru seni dengan segala praktiknya yang serba cepat dan to the point tanpa mengumbar banyak basa-basi.

Semua yang kamu cari dari seorang Yimou, kecuali narasi drama yang kuat ada di sini. Desain produksi yang megah meliputi pemilihan kostum cantik dengan warna-warna kontras ada, semburan CGI mahal termasuk anak panah terbang yang didramatisir sebagai bagian dari rangkaian momen aksi spektakulernya juga ada, dan untuk kasus The Great Wall, Yimou mencoba melakukan pendekatan yang lebih kebarat-baratan meski setnya murni 100% di Cina. Tidak perlu lama untuk dapat melihat bagaimana megahnya The Great Wall, kurang lebih 15-20 menit pertama setelah perkenalan karakter yang apa adanya, kamu sudah langsung bisa melihat bagaimana Yimou bersama sinematografer kawakan Stuart Dryburgh (The Secret Life of Walter Mitty, Alice Through the Looking Glass) mempersembahkan sebuah adegan penyerbuan yang luar biasa hebat. Melihat bagaimana monster-monster Taotie dengan jumlah masif menyerbu tembok itu seperti merasakan kembali momen invasi di fantasi hebat lain seperti Starship Troopers milik Paul Verhoeven  dan Battle of Helm’s Deep-nya Peter Jackson. Tidak cukup dengan penyerbuan monsternya saja, Yimou juga membuat para prajurit-prajurit penjaga tembok itu dengan polesan sama fantastisnya. Dari armor yang didesain keren sampai pertunjukan bertahan yang luar biasa, meliputi aksi bela diri dari pasukan khusus elang, bangau, beruang, rusa serta harimau dan momen bungee jumping paling sinting yang pernah ada. Rentetan aksi itu benar-benar berhasil ditangkap dengan visual dan editing jempolan, sukses membuat penonton pecandu aksi kolosal terperangah dengan kualitas yang disajikan.

Ketimbang mengandalkan kualitas akting hebat, The Great Wall bisa dibilang lebih menjual kharisma dan pesona para aktor dan aktrisnya. Matt Demon sebagai sosok hero dan penyelamat jelas adalah daya tarik utamanya meski pemilihan karakter bulenya kemudian menimbulkan kontroversi sindrom “white savior ” alias karakter barat yang mengambil peran penting/utama di bukan budayanya. Mungkin kemudian menjadi tidak terlalu bermasalah jika Yimou mau sedikit lebih banyak mengeksplorasi karakter Willaim Garin dengan segala latar belakangnya, seperti misalnya yang pernah dilakukan Tom Cruise dalam The Last Samurai. Sementara untuk tuan rumah sendiri hanya karakter komandan Lin Mae yang benar-benar bersinar. Kudos buat penampilan Jing Tin, baik secara fisik maupun akting aktris cantik yang akan bermain di dua film besar produksi Legendary itu harus diakui memang paling menonjol. Patut disayangkan memang bagaimana Yimou tidak benar-benar bisa memanfaatkan cast besar lainnya macam Andy Lau yang kebagian peran tak penting sebagai Wang sang ahli strategi dan Willem Dafoe sebagai Ballard yang….ah, sudahlah.

The Great Wall (2016)
6.5 Movienthusiast's
Summary
Film terburuk Zhang Yimou ini bisa menjadi sebuah pengalaman menonton epik fantasi yang seru dan menyenangkan selama kamu tidak pernah berharap macam-macam. Desain produksi yang megah dan casting memesona berbanding lurus dengan bujet raksasa yang berhasil dimaksimalkan penuh oleh Yimou menjadi sajian yang pertempuran besar manusia melawan monster menghibur.
CERITA5
PENYUTRADARAAN7.5
AKTING5.5
VISUAL7.8

 

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top