Review

The Girl on The Train (2016)

Kenyataannya, memang tidak pernah mudah memindahkan setiap lembar halaman novel ke media film, tidak peduli sebagus apa pun isi novel tersebut sampai kemudian ia berhasil dilabeli sebagai “Best Seller”, jatuh ke tangan sineas yang kurang kompeten hasilnya malah akan menjadi sebuah bencana. Ini yang kemudian terjadi dalam kasus The Girl on Train. Sebelum rilis, adaptasi Paula Hakwins ini sempat digadang-gadang bakal menyaingi kehebatan adaptasi novel kriminal populer “tentang perempuan” lain, Gone Girl yang juga sukses mendapatkan banyak pujian hebat baik dari para kritikus maupun penonton ketika dibuatkan versi live action-nya oleh David Fincher. Namun pada akhirnya, kita hanya bisa mengerutkan dahi menonton thriller kriminal bikinan Tate Taylor ini.

Perempuan di atas kereta itu adalah Rachel Watson (Emily Blunt), seorang alkoholik parah dengan emosi tak stabil yang tidak pernah bisa pulih pasca mantan suaminya, Tom (Justin Theroux) meninggalkannya demi seorang agen real estate cantik, Anna (Rebecca Ferguson). Susah buat Rachel untuk bisa move on, termasuk untuk tidak melirik  rumah di mana ia pernah hidup bahagia dulu jendela kereta komuter yang ditumpanginya setiap hari ketika pergi dan pulang kerja. Namun bukan bekas rumahnya yang sekarang ditinggali Tom, Anna dan seorang bayi perempuan itu saja yang kemudian menarik perhatiannya.  Rachel pun terobsesi dengan tetangga sebelah rumah Tom yang ditinggali oleh Megan Hipwell (Haley Bennett) dan suaminya, Scott (Luke Evans). Bagi Rachel yang malang, Megan dan Scott, terutama Megan adalah idolanya, mereka seperti mewakili mimpi-mimpinya yang hilang untuk bisa hidup bahagia, sampai suatu hari ia menjadi saksi kasus hilangnya Megan secara misterius, namun karena pengaruh alkohol, Rachel yang mabuk berat tidak pernah bisa benar-benar apa yang sebenarnya terjadi di terowongan kecil tempat Magan raib di telan bumi itu.

Kalau mau jujur, Tate Taylor sebenarnya sudah memulai segalanya dengan baik di sini. Berusaha setia dengan pendekatan novelnya, Taylor yang sebelumnya pernah sukses membesut adaptasi lain dalam The Help  2011 silam membuka The Girl on Train dalam tiga bab terpisah yang masing-masing diberi judul dari nama-nama tokohnya, Rachel, Megan dan Anna. Dari sini ada harapan cukup besar bahwa The Girl on Train akan menjadi gelaran thriller misteri kriminal psikologis yang kuat dan kompleks, mengingat begitu banyaknya lapisan cerita dengan narasi non linear yang berbelit, meliputi masalah pernikahan, alkoholisme, kekerasan rumah tangga, kehilangan, kehancuran sampai masalah depresi,  termasuk kompleksitas setiap karakternya sendiri yang tertuang melalui sudut pandang orang pertama. Namun sepertinya sumber asli The Girl on Train mungkin terlalu rumit untuk diterjemahkan ke media film bagi seorang Erin Cressida Wilson, atau mungkin Wilson belum mencapai kualitas Gillian Flynn yang mampu membuat naskah Gone Girl bisa terasa sama bagusnya baik di novel maupun film. Narasi Wilson terkesan dua dimensi, seperti menggampangkan dan meringkas segala detail pada novelnya, banyak menghilangkan esensi utama, terutama pengolahan karakter yang membuat halaman novelnya begitu menarik untuk terus dibuka lembar demi lembar.

Ya, susah sebenarnya untuk bisa benar-benar menyalahkan Wilson atau Taylor, toh, ini memang bukan novel yang gampang dibuatkan versi live action-nya. Dengan penjabaran plot berliku melalui banyak karakter yang nanti terhubung dalam satu benang merah cerita, The Girl on The Train jelas bekerja di 400 halaman novel atau ia mungkin lebih cocok untuk dibuatkan sebuah mini seri televisi 10 episode untuk bisa benar-benar bisa menangkap semua kesenangan pada novelnya. Banyak karakter, banyak sudut pandang dan konflik tentu saja tidak sebanding dengan durasinya yang hanya terbentur di 112 menit. Jadi apa yang terjadi di versi filmnya seperti sebuah versi ringkas novelnya dengan kecepatan yang tidak konsisten serta tanpa kandungan misteri dan ketegangan yang cukup untuk sebuah film dengan cap “thriller” dan “misteri”. Tampil cukup baik di separuh awal dengan plot yang bergerak seperti siput, Taylor kemudian membawa The Girl on The Train menukik tajam dengan cepat ke wilayah yang familiar dengan segala twist yang bisa dibilang cukup mudah untuk dilihat dari kejauhan, membuat The Girl on The Train sekejap berubah dari tontonan berkelas menjadi sebuah thriller medioker.

Jika ada yang bisa dipuja dalam The Girl on The Train mungkin adalah jajaran ensemble cast-nya yang bermain bagus. Tiga aktris dengan tiga akting kuat, terutama Blunt yang mendapatkan jatah paling banyak sebagai karakter utama meski sebenarnya dalam novel karakter Rachel punya porsi yang sama besarnya dengan dua lainnya, tetapi di sini Blunt mendapatkan banyak waktu untuk bisa mengeksplorasi karakternya dengan segala konflik internal psikologis yang kompleks membuatnya susah untuk bisa benar-benar dipercaya. Sayang Taylor tidak banyak memberi kesempatan buat Bennet dan Ferguson mengingat kualitas naskah yang pas-pasan dan durasi untuk bisa membuat penontonnya mengenal mereka lebih dalam seperti yang dijabarkan dalam novelnya, hasilnya kita hanya melihat mereka dengan segala karakter yang terlalu stereotip. Megan adalah tetangga sebelah pirang yang cantik dan menawan dengan segala pesona fisiknya yang menggoda sementara Anna hanya digambarkan sebagai ibu yang insecure dan terlalu sibuk dengan bayinya, tidak ada kedalaman, tidak ada sesuatu yang spesial yang bisa membuat narasinya bisa menjadi lebih menarik.

The Girl on The Train (2016)
6.2 Movienthusiast's
Summary
Digadang-gadang sebagai pesaing Gone Girl, apa daya The Girl on The Train tidak mampu menangani materi novelnya yang kelewat kompleks, hasilnya ia hanya sekedar menjadi sebuah thiller misteri kriminal medioker dengan naskah menyedihkan yang sedikit diselamatkan oleh penampilan menawan Emily Blunt.
CERITA5.3
PENYUTRADARAAN5.9
AKTING7
VISUAL6.7
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top