Review

Ghost in the Shell (2017)

Hollywood kembali mencoba mengutak-atik manga klasik Jepang . Dalam upaya teranyarnya kali ini, adalah Rupert Sanders, sutradara film Snow White and the Huntsman yang lebih dikenal karena skandal pribadinya, didapuk sebagai kapten film adaptasi  Ghost in the Shell, manga buah tangan Masamune Shirow yang rilis 28 tahun silam. Memakai Scarlett Johansson sebagai bintang utamanya, Ghost in the Shell sayangnya tak lebih dari pameran gula-gula mata yang kopong dalam bercerita.

Alkisah di masa depan sebuah negeri yang terlihat seperti Jepang, mayoritas masyarakatnya telah familiar dengan teknologi mutakhir. Sebegitu canggihnya hingga teknologi tersebut juga terintegrasi dalam tubuh mereka, menciptakan banyak manusia semi robot hingga robot sintetis yang dicangkoki otak manusia. Adalah Major (Johansson) salah satu kreasi terbaik robot dengan cangkok otak manusia yang bekerja sebagai agen sebuah dinas intelijen pemerintah, Section 9. Kini, bersama timnya Major harus menyelidiki kasus pembunuhan yang melibatkan korporasi besar yang menciptakannya, Hanka Robotics.

Sulit untuk tidak membayangkan film kultusnya Ridley Scott, Blade Runner kala menyaksikan Ghost in the Shell ini. Dari kisah dan pembawaannya yang tech-noir, hingga tampilan cyberpunk-nya sampai iringan musik electro yang serasa Vangelis sekali. Dan memang Sanders seakan menduplikasi nuansa hingga tata artistik film yang dibintang utamai Harrison Ford tersebut sebagai inspirasinya. Dengan sumber yang mendukung, sayangnya tampilan canggih dan suram-tapi-elok Ghost in the Shell tidak seiring dengan naskahnya. Memulai plot dengan cukup baik, dalam penuturan selanjutnya Ghost in the Shell terjerembab dalam rangakaian alur yang miskin pengembangan cerita. Pemelintiran konspirasinya begitu mudah ditebak, klise dan sangat sederhana. Dengan materi sebuah kisah manga yang kompleks dan menjadi fondasi sebuah kultur pop di Jepang dan dunia, Ghost in the Shell tak lebih dari film yang dieksekusi dengan malas-malasan dan jauh dari kata pionir ala fiksi ilmiah terbaik layaknya Blade Runner atau The Matrix.

Hal ini mungkin diperparah dengan whitewashing ala Hollywood. Meskipun latarnya dibuat seperti Tokyo, tetap saja karakter-karakter utamanya diubah menjadi vanila. Lakon yang aslinya orang Jepang dibuat menjadi kulit putih. Johansson yang sudah fasih membawakan peran wanita tangguhnya di Lucy hingga rangkaian film Marvel, tentunya tak sukar membawakan peran utamanya yang gagah dalam beraksi. Disokong oleh tubuh molek dan paras ayunya, sulit untuk menolak pesona Johansson di layar. Pun demikian dengan Juliette Binoche, Peter Ferdinando, Michael Pitt hingga Pilou Asbæk yang cukup solid sebagai karakter-karakter pembantunya. Tapi yang patut diberi perhatian lebih adalah pemasangan aktor kawakan Jepang, Takeshi Kitano. Bintang legendaris Jepang yang dikenal luas di tanah air lewat acara televisi Benteng Takeshi ini memberikan warna di tengah pemutihan Hollywood di sini. Karakternya bisa jadi tipikal peran-peran Kitano yang dingin dan mematikan, tapi tetap tak biasa dibawakannya dalam film ini.

Dengan visual luar biasa yang seakan mengembalikan ingatan kita pada tampilan cyberpunk yang telah lama sirna dari banyak tampilan film-film fiksi ilmiah kontemporer, Ghost in the Shell sayangnya tak begitu berjiwa untuk meninggalkan landasan monumental yang patut dikenang darinya. Tapi sebagai sebuah penghiburan, tetap lumayan seru, walaupun menyia-nyiakan materi sumbernya. Dan semoga Blade Runner 2049 yang bakal dirilis beberapa bulan mendatang bisa mengobati lara para pencinta fiksi ilmiah di kemudian hari.

Ghost in the Shell (2017)
6.0 Movienthusiast's
Summary
Sebuah sajian tech noir dengan tampilan cyberpunk yang cukup otentik, sayangnya Ghost in the Shell hanyalah sejumput dari kompleksitas materi sumbernya yang rumit, sehingga terlampau jenerik dan sederhana dalam bertutur.
CERITA4
PENYUTRADARAAN6
AKTING6
VISUAL8
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top