Review

Free Fire (2017)

Bayangkan adegan klimaks dari film legendaris Quentin Tarantino, Reservoir Dogs sebagai alur utama sepanjang filmnya. Maka itulah Free Fire. Sebuah film aksi kriminal teranyar besutan sineas asal Inggris, Ben Wheatley yang sebelumnya pernah membuat film-film bertema suram High-Rise, Kill List dan Sightseers.

Plotnya sendiri dimulai dari transaksi jual beli senjata yang belakangan berakhir buruk, penuh baku tembak dan luka-luka menyakitkan bagi para karakter utamanya. Didukung jajaran pemain yang sudah memiliki nama, laiknya Brie Larson, Armie Hammer, Cillian Murphy hingga Sharlto Copley, Free Fire mungkin memiliki tema yang sederhana. Dengan memanfaatkan mayoritas adegannya di satu lokasi monoton, sebuah gudang tua, sayangnya alurnya tidak berkembang dengan baik. Memang cukup menyenangkan melihat bagaimana Wheatley menggulirkan alurnya. Konflik pemicunya dibuat cukup masuk akal dan sempilan komedinya pun mengena. Dengan materi yang terbatas, Wheatley ternyata terjebak dalam adegan repetitif dan narasinya yang tidak beranjak kemana-mana. Sebuah konspirasi memang dihadirkan, tapi itupun bisa diakhiri dengan begitu saja (dan cukup tertebak serta klise). Tidak ada perluasan cerita yang berarti dan kita seakan terjebak bersama tokoh-tokohnya di situasi menyebalkan tersebut terus menerus hingga usai.

Jajaran pemainnya memang bisa tampil dengan cukup padu dan solid. Aktris peraih Oscar, Larson lumayan pas sebagai karakter wanita tunggal di filmnya yang awalnya terlihat simpatik namun belakangan diberi sentuhan femme fatale. Begitu pula dengan Hammer yang terlihat bagai gula-gula mata nan bergaya dan suka memerintah. Copley juga masih tampil eksentrik khas pembawaannya selama ini. Murphy pun bisa berlakon kuat sebagai sosok utama yang awalnya membuat kita berpihak padanya. Karakter-karakter pendukungnya juga rata-rata diberi waktu tampil yang berarti. Tapi kembali lagi naskah tulisan Wheatley dan istrinya, Amy Jump tak memberi banyak ruang gerak kecuali bagi intrik Harry (Jack Reynor) dan Stevo (Sam Riley) yang menjadi titik penting alurnya. Dan Wheatley mengalirkan narasinya secara ringan dan mungkin itulah tujuannya. Menampilkan aksi kriminal dengan bumbu komedi tanpa tujuan menjadikannya pretensius dan hanya ajang bersenang-senang penuh tembak-tembakan dan sempilan kekerasan yang cukup berdarah-darah.

Dengan visual dekade 70an yang menarik di mata, Wheatley bisa jadi ingin mengkreasi film-film kriminal kultus khas Tarantino, Martin Scorsese atau Guy Ritchie di awal kariernya. Wheatley yang sebelumnya pernah bermain-main di genre drama thriller depresif hingga distopia satir mungkin berhasil memberikan suguhan berbeda nan sederhana  serta tak terlalu serius dalam Free Fire ini. Walaupun dalam pengembangannya terjebak dalam kesederhanaannya itu sendiri. Tapi harus diakui dengan latar yang sama di sepanjang filmnya, Wheatley bisa menunjukkan kekuatan sinematik dalam set monoton dan didukung dengan pemain yang berlakon apik, sehingga Free Fire menjadi pengalaman berbeda di layar lebar.

Free Fire (2017)
7.0 Movienthusiast's
Summary
Terjebak dalam set monoton, Free Fire untungnya didukung pemain-pemain yang mumpuni dan pengarahan Wheatley yang dinamis. Sebuah film yang cukup berbeda dan menyenangkan untuk dinikmati, walaupun alurnya relatif sederhana dan repetitif.
CERITA6
PENYUTRADARAAN7
AKTING7
VISUAL7
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top