<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Movienthusiast</title>
	<atom:link href="http://movienthusiast.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://movienthusiast.com</link>
	<description>Blogging and Discuss About Movies</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Jun 2013 08:32:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Review &#8211; World War Z (2013)</title>
		<link>http://movienthusiast.com/2013/06/review-world-war-z-2013/</link>
		<comments>http://movienthusiast.com/2013/06/review-world-war-z-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jun 2013 19:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafilova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Slide]]></category>
		<category><![CDATA[2013]]></category>
		<category><![CDATA[Action]]></category>
		<category><![CDATA[based on novel]]></category>
		<category><![CDATA[Brad Pitt]]></category>
		<category><![CDATA[Daniella Kertesz]]></category>
		<category><![CDATA[David Morse]]></category>
		<category><![CDATA[Horor]]></category>
		<category><![CDATA[James Badge Dale]]></category>
		<category><![CDATA[Marc Forster]]></category>
		<category><![CDATA[Matthew Fox]]></category>
		<category><![CDATA[Mireille Enos]]></category>
		<category><![CDATA[thriller]]></category>
		<category><![CDATA[Zombie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://movienthusiast.com/?p=14377</guid>
		<description><![CDATA[Apa arti &#8220;Z&#8221; di belakang judulnya? Jika anda kebetulan belum tahu apa-apa soal film terbaru sutradara Finding Neverland dan Quantum of Solace, Marc Foster ini kecuali ada sosok Brad Pitt di dalamnya yang sebelumnya berhasil memenangi proyek mega horor ini dari tangan Leonardo DiCaprio maka akan saya beritahu. &#8220;Z&#8221; itu kependekan dari &#8220;Zorro&#8221;, eh, maksud ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img alt="" src="http://i2.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/World-War-Z-Brad-Pitt-e1371668404182.jpg?resize=620%2C210" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">Apa arti &#8220;Z&#8221; di belakang judulnya? Jika anda kebetulan belum tahu apa-apa soal film terbaru sutradara <em>Finding Neverland</em> dan <em>Quantum of Solace</em>, Marc Foster ini kecuali ada sosok Brad Pitt di dalamnya yang sebelumnya berhasil memenangi proyek mega horor ini dari tangan Leonardo DiCaprio maka akan saya beritahu. &#8220;Z&#8221; itu kependekan dari &#8220;Zorro&#8221;, eh, maksud saya &#8220;Zombie&#8221; Ya, kamu mengenalnya sebagai salah satu mahluk penghuni dunia film horor yang paling lama bersama vampir dan <em>werewolf</em>, tetapi tidak seperti kedua koleganya sub genre zombie tidak banyak mengalami perubahan berarti kecuali ketika Jonathan Levine dengan &#8216;lancang&#8217; memberinya terlalu banyak romantisme dan hal-hal aneh lainnya dalam <a title="Review – Warm Bodies (2013)" href="http://movienthusiast.com/2013/02/review-warm-bodies-2013/" target="_blank"><em>Warm Bodies</em></a> bersama Nicholas Hoult dan Teresa Palmer di awal tahun. Tetapi meskipun <em>Warm Bodies</em> tergolong berani, fresh dan menyenangkan namun itu bukan film<em> zombie</em> yang kita cari, kita tidak membutuhkan invoasi besar-besaran untuk genre satu ini, semakin &#8216;membusuk&#8217; idenya itu semakin baik dan Foster tidak hanya mempertahankan segala elemen-elemen klasik yang dipinjamnya dari novel milik penulis <em>“The Zombie Survival Guide”</em>, Max Brooks namun ia juga mentransefer setiap lembar halamannya dalam skalatiga kali lipat dari film-film tentang para mayat hidup yang pernah kamu lihat, ini seperti <a title="Review – Contagion (2011)" href="http://movienthusiast.com/2011/12/review-contagion-2011/" target="_blank"><em>Contagion</em></a> bertemu Dawn of The Dead.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya jelas tidak akan membocorkan apa-apa saja keasikan yang terjadi di sepanjang kurang lebih dua jam durasinya namun satu hal yang pasti, <em>World War Z</em> itu bergerak sangat cepat, secepat gerakan para zombie di sini, bahkan sanking cepatnya ia tidak memberikan kesempatan buat Brad Pitt yang di sini menjadi mantan penyelidik PBB menyelesaikan tebak-tebakan bersama istri dan dua putrinya dan tiba-tiba saja BOOOM!! Kita sudah melihatnya berlari ke sana kemari ditengah-tengah kekacauan besar bersama ledakan dan jeritan-jeritan mengerikan yang kemudian mengatarkan kita ke tengah lautan bersama mantan bosnya yang menugaskannya kembali untuk menyelidiki asal muasal virus mematikan itu guna mencari solusi dari wabah ganas yang nyaris menguasai bumi.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" alt="" src="http://i1.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/url-15-e1371668952367.jpg?resize=620%2C350" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">Cepat dan menegangkan, dua elemen itu saja sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan situasi di <em>World War Z</em>, namun kesenangannya tidak hanya itu. Jika kamu merasa sudah pernah melihat zombie dalam jumlah yang banyak maka ini dipastikan akan membungkamu. Seperti yang saya katakan, <em>World War Z</em> mempersembahkan sebuah skala raksasa, menggabungkan sub genre zombie dan film bencana medis Dan seperti ingin menjelaskan judulnya ini memang benar-benar perang dunia melawan zombie yang melibatkan tidak hanya ratusan namun jutaan mayat hidup CGI yang tumpah ruah bak gelombang besar air bah kotor yang nyaris menyapu peradaban. Settingnya juga luas, dari lorong-lorong apartemen dan laboratorium sempit, pesawat udara sampai negara-negara besar (Amerika Serikat, Korea Selatan, Israel dan Wales) yang kesemuanya diinjeksi dengan ketegangan tingkat tinggi yang nyaris tidak memberikanmu  jeda untuk bernafas dan melupakan level <em>blood </em>dan<em> gore</em>-nya yang rendah.</p>
<p style="text-align: justify;">Naskah adaptasi garapan Matthew Michael Carnahan yang turut dipoles Drew Goddard (<em>The Cabin in The Woods</em>, <em>Cloverfield</em>) dan Damon Lindelof (Prometheus) mungkin sederhana, <em>it&#8217;s all about survival</em> namun hasil akhinya solid. Elemen-elemen lain yang mengkombinasikan klasik dan modern dari atmosfer mencekam dan scoring mengerikan Marco Beltrami sampai elemen keluarga yang hangat dan penyelidikan virus ala <em>spy movie</em> dan kejutan-kejutan kecil lainnya yang mampu membuat <em>World War Z</em> menjadi jauh lebih menyenangkan  karena ada sesuatu yang bisa kita simak ketimbang hanya melihat manusia-manusia di dalamnya semata-mata bertahan hidup dari gigitan <em>zombie.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" alt="" src="http://i1.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/brad-pitt-world-war-z-e1371669367610.jpg?resize=620%2C353" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;"><em>World War Z</em> jelas adalah kejutan yang menyenangkan di musim panas ini. Sampai akhir tahun lalu kita tidak merasakan kehadirannya namun traillernya memberikan kita sedikit gambaran apa yang ditawarkan dan coba lihat apa yang terjadi sekarang? Ini adalah salah satu film zombie terbaik yang pernah ada, bukan hanya karena menawarkan skala super besar, efek CGI canggih dengan budget raksasa serta disutrdarai sutradara sekaliber <a title="Marc Forster" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Marc_Forster">Marc Forster</a> dengan bintang Brad Pitt saja namun ini adalah semua kombinasi maut dari semua keasikan yang kamu temukan dalam film-film zombie dengan polesan ketegangan dan keseruan yang jempolan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://movienthusiast.com/2013/06/review-world-war-z-2013/"><img src="http://i0.wp.com/i.ytimg.com/vi/4EC7P5WdUko/0.jpg?w=620" alt="YouTube Video" data-recalc-dims="1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://movienthusiast.com/2013/06/review-world-war-z-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review &#8211; Upstream Color (2013)</title>
		<link>http://movienthusiast.com/2013/06/review-upstream-color-2013/</link>
		<comments>http://movienthusiast.com/2013/06/review-upstream-color-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jun 2013 06:05:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafilova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Slide]]></category>
		<category><![CDATA[Amy Seimetz]]></category>
		<category><![CDATA[Andrew Sensenig]]></category>
		<category><![CDATA[Carolyn King]]></category>
		<category><![CDATA[Drama]]></category>
		<category><![CDATA[Frank Mosley]]></category>
		<category><![CDATA[indie]]></category>
		<category><![CDATA[Kathy Carruth]]></category>
		<category><![CDATA[Meredith Burke]]></category>
		<category><![CDATA[Myles McGee]]></category>
		<category><![CDATA[Romance]]></category>
		<category><![CDATA[Sci-Fi]]></category>
		<category><![CDATA[Shane Carruth]]></category>
		<category><![CDATA[Thiago Martins]]></category>
		<category><![CDATA[thriller]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://movienthusiast.com/?p=14347</guid>
		<description><![CDATA[Sembilan tahun lalu seorang sineas muda Amerika, Shane Carrut sukses menghebohkan ajang Sundance dengan drama time travel pemenang Grand Jury Prize super njelimet-nya; Primer yang hingga kini mampu menjadi cult dikalangan para pecinta fiksi ilmiah. Dan ketika orang mulai melupakannya, Carrut kembali lagi menghadirkan sebuah indie sci-fi dalam Upstream Color yang fresh dan sama uniknya ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" alt="" src="http://i2.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/UpstreamColor11-e1371447512105.jpg?resize=620%2C211" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sembilan tahun lalu seorang sineas muda Amerika, Shane Carrut sukses menghebohkan ajang <em>Sundance</em> dengan drama <em>time travel</em> pemenang <em>Grand Jury Prize</em> super <em>njelimet</em>-nya; <em>Primer </em>yang hingga kini mampu menjadi <em>cult</em> dikalangan para pecinta fiksi ilmiah. Dan ketika orang mulai melupakannya, Carrut kembali lagi menghadirkan sebuah indie <em>sci-fi</em> dalam <em>Upstream Color</em> yang <em>fresh</em> dan sama uniknya dengan <em>Primer</em>, hanya saja kali ini tidak ada lagi perjalan waktu, Carruth menggantinya dengan banyak cinta  dan sebuah tema besar tentang kehidupan itu sendiri yang penuh misteri kompleks dalam bungkusan gambar-gambar rupawan.<em></em></p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun tingkat kerumitannya tidak sampai dalam tahap &#8220;menggoreng&#8221; otak seperti yang dilakukannya dalam <em>Primer</em>, <em>Upstream Color</em> juga bukan drama yang mudah kamu cerna mentah-mentah begitu saja. Mungkin butuh lebih dari sekali menonton atau mungkin juga sedikit bantuan <em>google </em>untuk dapat melihat gambaran besarnya. Adegan awalnya seperti perpaduan antara <em>Discovery Channel</em> dengan balutan gambar-gambar cantik ala Malick. Lalu seperempat jam pertamanya kita akan menyaksikan modus penipuan gaya baru yang melibatkan ulat dan pencucian otak yang dialami Kris (Amy Seimetz) dan di sisan durasinya kita akan melihat sebuah romansa absurd yang melibatkan Carrut sendiri dalam wujud Jeff yang bernasib sama, babi-babi lucu, anggrek biru dan lingkaran besar kehidupan sebuah organisme yang saling terkoneksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya begitu mudah buat penonton awam untuk menghakimi <em>Upstream Color</em> adalah salah satu contoh drama paling absurd yang pernah mereka lihat. Ya, tidak salah, saya anggap mereka belum pernah mencicipi Primer yang kadarnya jauh lebih gila. Coba lihat sinopsis resminya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8221; Hidup Kris tergelincir ketika suatu hari ia dibius dan dirampok oleh pencuri kelas teri. Namun sesuatu yang besar sedang bekerja. Tanpa disadarinya Kris terkoneksi dalam lingkaran hidup organisme mikroskopik, mamalia peliharaan, tanaman hias dan kembali lagi ke awal. Dalam perjalanannya, Kris menemukan manusia bernasib sama dengan dirinya yang sama-sama sedang dikonsumsi oleh kekuatan yang lebih besar. Keduanya kemudian mencari sebuah tempat aman dalam diri mereka untuk menyusn kembali fragmen-fragmen hidup yang beratakan.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yup, mungkin itu adalah sinopsis paling aneh yang pernah kamu baca, tetapi percayalah <em>Upstream Color</em> tidak sampai berakhir memusingkan. Sesungguhnya ini adalah cerita simpel tentang cinta dan takdir, hanya saja seperti <em>Primer</em>, Curruth tidak mau begitu saja menyampaikan pesannya tanpa membuatmu bertanya-tanya, merenungkan hingga pada akhirnya menyimpulkan apa yang terjadi di sepanjang kurang lebih satu jam setengah yang diisi oleh sepasang pria dan wanita bertingkah laku aneh, cacing, babi dan anggrek. Ya, apa kaitan semua itu? Guna mendapatkan jawaban dari banyak pertanyaan yang berhamburan itu disarankan sebaiknya kamu tidak melewatkan seperempat bagian pertamanya karena itu adalah modal buat kamu untuk dapat memahami ide besar dan teori-teori ilmiah yang ingin disampaikan Curruth. Dan seperti inti utamanya tentang keterkaitan, semua yang terjadi di sini saling terkoneksi satu sama lain, membentuk sebuah lingkaran besar yang tidak terpisahkan. Meskipun terlihat kompleks sebenarnya tidak ada yang terlalu rumit, yang diperlukan hanya sedikit ekstra konsentrasi dan tidak sampai terbius oleh gambar-gambarnya yang cantik dan tata suaranya yang ciamik, karena sekali lagi pada dasarnya ini cerita sederhana tentang cinta dan perjalanan mencari fragmen-fragmen kehidupan yang terpisah yang kesemuanya itu tersembunyi di balik keruwetan bertuturnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" alt="" src="http://i2.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/Upstream_Color_32-e1371448427388.png?resize=620%2C260" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dua film, dua ide besar yang terbungkus dalam semangat sci-fi yang kental, ya, tidak pernah mudah menghadirkan konsep-konsep brilian seperti yang sudah dilakukan Shane Carruth, apalagi hampir semuanya ia lakukan sendiri (akting, naskah, sutradara. penata suara, sinematografi, editing dan produser) <em>Upstream Color</em> adalah contoh sebuah <em>sci-fi</em> kecil yang mampu berbicara besar, sebesar tema tentang kehidupan, cinta dan takdir yang ditawarkannya plus mengundang perdebatan asik setelah menontonnya. Semuanya ini sukses dihadirkan dalam semangat indie ala Carruth yang memesona, <em>subtle </em>dan juga emosional.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://movienthusiast.com/2013/06/review-upstream-color-2013/"><img src="http://i1.wp.com/i.ytimg.com/vi/d0Ue7v6o6zc/0.jpg?w=620" alt="YouTube Video" data-recalc-dims="1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://movienthusiast.com/2013/06/review-upstream-color-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review &#8211; The Call (2013)</title>
		<link>http://movienthusiast.com/2013/06/review-the-call-2013/</link>
		<comments>http://movienthusiast.com/2013/06/review-the-call-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jun 2013 03:21:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafilova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Slide]]></category>
		<category><![CDATA[2013]]></category>
		<category><![CDATA[Abigail Breslin]]></category>
		<category><![CDATA[Brad Anderson]]></category>
		<category><![CDATA[David Otunga]]></category>
		<category><![CDATA[Halle Berry]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Eklund]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Imperioli]]></category>
		<category><![CDATA[Morris Chestnut]]></category>
		<category><![CDATA[thriller]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://movienthusiast.com/?p=14324</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;911: What&#8217;s Your Emergency?&#8221;, Kita mungkin sudah mendengar ribuan kali kata itu terucap, bagaimana operator gawat darurat memberikan harapan yang sama palsunya dengan kehadiran para polisi di film-film bergenre thriller atau horor kepada setiap korbannya, tetapi ada yang berbeda di garapan terbaru sutradara The Machinist, Brad Anderson ini. Alih-alih menjadi secuil elemen penghibur, kita akan ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" alt="" src="http://i0.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/27279_35117_644_436-e1371266236756.jpg?resize=620%2C209" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>911</em>: <em>What&#8217;s Your</em> Emergency?&#8221;, Kita mungkin sudah mendengar ribuan kali kata itu terucap, bagaimana operator gawat darurat memberikan harapan yang sama palsunya dengan kehadiran para polisi di film-film bergenre thriller atau horor kepada setiap korbannya, tetapi ada yang berbeda di garapan terbaru sutradara <em>The Machinist</em>, Brad Anderson ini. Alih-alih menjadi secuil elemen penghibur, kita akan melihat secara lebih besar sepak terjang dan suka duka para operator 911 yang menurut saya adalah salah satu pekerjaan paling berat di dunia kenapa? Karena setiap tindakanmu akan menentukan hidup atau mati seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada Helle Berry sebagai Jordan Turner, mantan operator 911 buat kepolisian Los Angeles yang harus kembali duduk di belakang layar-layar monitor dan medengarkan laporan telefon mengerikan setelah sebelumnya ia kapok karena kecerobohannya harus dibayar mahal dengan kematian seorang remaja wanita. Kali ini kasusnya sama; Penculikan yang menimpa remaja belia, Casey Welson (Abigail Breslin). Yang terjadi kemudian Jordan harus berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan Casey sebelum semuanya terlambat.</p>
<p><img alt="" src="http://i2.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/the-call-2-e1371265492657.jpg?resize=620%2C276" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">Saya suka premisnya, sepengetahuan saya belum ada sineas yang mengangakat soal bagaimana sepak terjang orang-orang yang berada di balik suara-suara penuh harapan itu dibuat, dan <em>The Call</em> bisa dibilang sudah menghadirkannya dengan baik sejak menit-menit pertama ketika Anderson memperdengarkan beberapa potongan rekaman pembicaraan antara para korban dan operator, dari kasus paling sederhana seperti hewan liar yang masuk rumah sampai perampokan bersenjata dan pembunuhan, lalu dilanjutkan dengan penampakan <em>The Hive</em> a.k.a ruang operator 911 yang sibuk dan berisik seperti pasar saham di mana karakter utama kita, Jordan kemudian akan dihadapkann dengan panggilan minta tolong yang tidak akan pernah ia lupakan selamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari titik ini Anderson bersama penulis naskah Richard D&#8217;Ovidio sudah memberikan sebuah dasar cerita kuat mengapa nantinya Jordan begitu ngotot menyelamatkan Casey. Sementara Casey sendiri cukup beruntung berhasil menghubungi Jordan melalui telefon selular dan memberikan petunjuk-petunjuk penting tentang keberadaannya dan penculiknya. Cerita dari meja operator kemudian bertansformasi menjadi sebuah sajian thriller familiar yang menegangkan dan cepat. Ini seperti versi lain dari <em>Cellullar</em>-nya Chris Evans dan Jason Statham dengan situasi dan dipenuhi dengan momen detektif, adu pintar dan kucing-kucingan antara Casey yang dibantu Jordan dan LAPD dengan sang penculik sadis yang lihai.</p>
<p style="text-align: justify;">Semuanya berjalan lancar sampai kemudian klimaksnya menjadi terlalu familiar dan dipaksakan. Tanpa perlu menjadi jenius kita sudah tahu apa yang akan terjadi dan seberapa kerasnya usaha Anderson untuk membuat endingnya terlihat berbeda, toh itu tidak terlalu berhasil, <em>but still</em>, The Call adalah tontonan <em>crime thriller</em> menyenangkan, tidak terlalu berat namun juga tidak sampai menjadi terlalu bodoh, Helle Berry bermain kuat sebagai operator 911 sementara Breslin juga tidak buruk.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://movienthusiast.com/2013/06/review-the-call-2013/"><img src="http://i1.wp.com/i.ytimg.com/vi/0PZxSxaABbg/0.jpg?w=620" alt="YouTube Video" data-recalc-dims="1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://movienthusiast.com/2013/06/review-the-call-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review &#8211; Man of Steel (2013)</title>
		<link>http://movienthusiast.com/2013/06/review-man-of-steel-2013/</link>
		<comments>http://movienthusiast.com/2013/06/review-man-of-steel-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jun 2013 19:17:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafilova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Slide]]></category>
		<category><![CDATA[2013]]></category>
		<category><![CDATA[Action]]></category>
		<category><![CDATA[Amy Adams]]></category>
		<category><![CDATA[Antje Traue]]></category>
		<category><![CDATA[Ayelet Zurer]]></category>
		<category><![CDATA[Based on Comic]]></category>
		<category><![CDATA[Christopher Meloni]]></category>
		<category><![CDATA[Christopher Nolan]]></category>
		<category><![CDATA[David S. Goyer]]></category>
		<category><![CDATA[Diane Lane]]></category>
		<category><![CDATA[Harry Lennix]]></category>
		<category><![CDATA[Henry Cavill]]></category>
		<category><![CDATA[Kevin Costner]]></category>
		<category><![CDATA[Laurence Fishburne]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Shannon]]></category>
		<category><![CDATA[reboot]]></category>
		<category><![CDATA[Richard Schiff]]></category>
		<category><![CDATA[Russell Crowe]]></category>
		<category><![CDATA[Sci-Fi]]></category>
		<category><![CDATA[superhero]]></category>
		<category><![CDATA[Superman]]></category>
		<category><![CDATA[Zack Synder]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://movienthusiast.com/?p=14307</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;If at first you don&#8217;t succeed, try and try again&#8221;, tampaknya DC Entertainment dan Legendary Pictures di bawah bendera Warner Bros. tahu benar arti kutipan bijak milik Thomas H. Palmer itu. Ya, Meskipun tidak sampai merugi, reboot layar lebar empat seri Superman yang berjarak tiga dekade lebih lalu dalam Superman Returns rupanya tidak terlalu bersinar apalagi ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" alt="" src="http://i1.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/Film_Review_Man_of__759208y-e1371150465890.jpg?resize=620%2C211" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;If at first you don&#8217;t succeed, try and try again&#8221;</em>, tampaknya <em>DC Entertainment</em> dan <em>Legendary Pictures</em> di bawah bendera Warner Bros. tahu benar arti kutipan bijak milik Thomas H. Palmer itu. Ya, Meskipun tidak sampai merugi,<em> reboot</em> layar lebar empat seri Superman yang berjarak tiga dekade lebih lalu dalam <em>Superman Returns</em> rupanya tidak terlalu bersinar apalagi jika kamu membandingkan dengan gempuran dahsyat dari pahlawan-pahlawan super geng <em>Marvels</em> rivalnya meskipun menurut saya <em>Returns</em> sesungguhnya bukan <em>reboot</em> yang buruk dari Bryan Singer, dan percaya tidak percaya, <em>Superman Returns</em> kembali meneruskan kutukannya sejak era George Reeves, lihat apa yang terjadi dengan karier Brandon Routh yang malang sekarang? Tetapi ini adalah <em>superhero</em> terbesar di dunia, sulit untuk tidak mengenal pemilik logo &#8220;S&#8221; dengan <em>spandex</em> dan celana dalam merah yang legendaris itu, maka sayang jika kemudian tidak memberikanya sebuah kesempatan kedua untuk membuktikan bahwa pesona si manusia baja belum habis.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada embel-embel <em>&#8220;Superman&#8221;</em> di judulnya, tetapi dengan logo legendaris dan julukannya, sulit untuk tidak mengetahui bahwa <em>Man of Steel</em> adalah cerita tentang pahlawan super ciptaan Jerry Siegel yang sudah kita kenal sejak lahir yang kali ini kembali mendapat awal baru meskipun sempat tertunda penayanganya sampai setahun. Adalah seorang Zack Synder yang kemudian mendapatkan kepercayaan luar biasa dari <em>DC</em> untuk membawa jagoanya  memulai segalanya dari titik nol. Seperti yang kita ketahui Synder bukan sutradara kemaren sore dalam hal mengadaptasi komik. Ia pernah membuat <em>Battle of Thermopylae</em> begitu luar biasa dalam <em>300</em>, dan yang lebih besar lagi ada adaptasi komik Alan Moore yang sukses digarapnya dengan fantastis, menjadikan <em>Wathcmen</em> salah satu adaptasi <em>superhero</em> terbaik yang pernah ada, apalagi kali ini ia medapatkan dukungan penuh dari David S. Goyer di departemen naskah dan &#8220;The&#8221; Chritopher Nolan di bangku produser yang diam-diam juga memberikan pengaruhnya kepada Snyder, ya, kedua nama itu adalah manusia-manusia hebat di balik kesukesan besar trilogi <em>The Dark Knight</em>.</p>
<p><img alt="" src="http://i1.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/MoSJorElKalEl-e1371148881956.jpg?resize=620%2C256" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">Ya, kembali ke titik nol. Snyder membawa kembali semuanya ke awal ke planet Krypton yang sekarat, tepat disaat kelahiran putra pertama Jor-El (Russel Crowe) dan Lara Lor-Van (Ayelet Zurer), Kal-El. Krypton yang diambang kehancuran dan pembelotan yang dilakukan oleh General Zod (Michael Shannon) memaksa Jor-El mengirim Kal-El ke bumi beserta rahasia besar bangsa Krypton, dan selanjutnya yang terjadi adalah sebuah awal baru dari cerita lama tentang bayi <em>alien</em> yang ditemukan oleh pasangan petani Kansas, Jonathan dan Martha Kent (Kevin Cotsner dan Diane Lane) yang kelak akan kita kenal dengan nama Superman.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada dua nama jebolan saga <em>The Dark Knight</em> di sini, tentu saja epektasi kita kemduian akan melayang tinggi ke sebuah kisah superhero kelam, manusiawi dan realistis, tetapi beruntung itu tidak terjadi, setidaknya 2 jam lebih <em>Man of Steel</em> tidak di dominasi oleh drama gelap tentang pencarian jati diri meskipun masih ada nuansa realis namun tidak sampai terjebak terlalu dalam, toh kisahnya sendiri sebenarnya sudah lebih dari manusiawi; Anak <em>alien</em> yang dirawat manusia yang kemudian membela mati-matian para manusia ketimbang rasnya sendiri yang nyaris punah.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" alt="" src="http://i0.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/ukRnynC-e1371149570438.jpg?resize=620%2C303" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">Separuh pertamanya dikuasai oleh drama pencarian jati diri seorang pemuda Kansas bernama Clark Kent yang berpetualang ke sana kemari untuk mencari tahu siapa dirinya, <em></em>mengapa ia berbeda dan tujuannya sampai harus tersesat di bumi. Setelah momen seru di planet Krypton yang melibatkan naga dan berujung pada kehancuran besar serta pelepasan Kar-El yang emosional ceritanye kemudian bergarak bolak balik ke depan dan ke belakang (Bagian ini seperti mendapatkan pengaruh kuat Nolan). Jadi buat  penonton awam yang kurang atau tidak mengetahui asal muasal sang laki-laki super ini tenang saja Snyder akan memberikanmu semuanya itu dengan bungkusan gambar-gambar indah ala Terrence Malick dan momen-momen kepahlawan Clark muda sampai dewasa sebelum ia mengenakan seragam kebesarannya. Mungkin dari titik ini alurnya bergerak sedikit lambat dan terseok-seok, ada kedalaman yang kurang digali meskipun terlihat Synder berusaha menghadirkan sisi emosional terutama ketika Clark a.k.a Kar-El berhubungan dengan ayah-ayahnya,  para mantan Robin Hood itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Karakter Superman sendiri yang diperankan seorang Inggris, bintang <em>The Tudors,</em> Henry Cavill mungkin bukan pilihan yang paling pas terlebih jika kamu mau membandingkannya dengan dua aktor sebelumnya, tetapi usaha melelahkan dan penuh perjuangan yang dilakukannya (menambah berat badan dan kapasitas otot agar pas dengan konstum barunya yang membuang cawat merah legendarinya) rupanya cukup membuahkan hasil. Dengan dagu belah dan wajah tampannya Cavill sukses menjadi versi modern Superman ala Synder yang menawan, terlihat perkasa. Lalu karakter main villaint-nya adalah General Zod yang sangat pas untuk sebuah kisah awal, pemerannya adalah Michael Shannon, aktor watak hebat yang tidak memerlukan usaha terlalu keras untuk mengahadirkan aura kejam dari seorang Jenderal Kryptonian yang penuh dendam dan ambisi. Sementara ada Amy Adams yang tampak sedikit terlalu tua untuk peran Lois Lane, <em>love interst</em> Superman. Perannya tidak terlalu signifikan namun Superman tanpa kehadiran Lois Lane itu jelas aneh, dan ada sedikit twist di sini yang di buat Snyder yang melibatkan karakter Lois yang berbeda dengan komik atau film-film sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" alt="" src="http://i0.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/580140_570290549682818_414567407_n-e1371150261803.png?resize=620%2C257" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">Snyder mungkin bukan seorang <em>storyteller</em> yang handal, kamu bisa saja menghujat bahwa alurnya sedikit berantakan dan melelahkan, tetapi jangan pernah meragukan Synder dan kemampuannya menghadirkan rangkaian action sekuens spektakuler. Ya, meskipun kali ini tidak melibatkan efek <em>slowmotion</em> yang menjadi ciri khasnya (imej cepat Superman tidak cocok dislowmotion kan) namun siapa yang bisa menahan pertarungan antara sang Manusia Super dengan para Kryptonian (Selain Zod ada karkter Faora yang keren yang dimainkan si cantik Antje Traue). Ini seperti melihat kombinasi pertarungan dahyat dalam anime populer Jepang <em>Dragon Ball</em> dan <em>video game</em> dengan segala kecepatan luar biasa, sudut pandang yang asik, scoring heroik garapan komposer bertangan dingin Hans Zimmer dan tentu saja spesial efek dan ledakan yang fantastis, ya, mungkin durasinya tidak terlalu banyak dibanding dramanya dan efek 3D-nya buruk, namun apa yang dihadirkan Snyder itu sudah lebih dari cukup untuk membuatmu berdecak kagum terutama ketika para <em>alien-alien</em> super berpakian ketat itu berhantaman ria satu sama lain, membuat tembok-tembok keras hancur seperti kerupuk dan meluluhlantakan Metropolis seperti bagunan pasir.</p>
<p style="text-align: justify;">Skalanya dinaikan dua kali lipat lebih besar ketimbang <em>Superman Returns</em>. Zack Snyder dengan dukungan nama-nama besar di balik kesuksesan <em>reboot</em> Batman membawa kembali kisah si Manusia Baja kembali ke awal, memodifikasinya dengan sentuhan modern dan mencoba menyeimbangkan drama tentang pencrian jati diri yang manusiawi dan parade action dahysat, meskipun kombinasinya terasa bekerja di satu sisi saja, namun ini adalah awal yang bagus dari <em>franchise</em> sebesar Superman.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://movienthusiast.com/2013/06/review-man-of-steel-2013/"><img src="http://i0.wp.com/i.ytimg.com/vi/T6DJcgm3wNY/0.jpg?w=620" alt="YouTube Video" data-recalc-dims="1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://movienthusiast.com/2013/06/review-man-of-steel-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trailer International &#8211; The Wolverine</title>
		<link>http://movienthusiast.com/2013/06/first-trailer-the-wolverine-2013/</link>
		<comments>http://movienthusiast.com/2013/06/first-trailer-the-wolverine-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jun 2013 08:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Movienthusiast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Trailer]]></category>
		<category><![CDATA[Hugh Jackman]]></category>
		<category><![CDATA[Wolverine]]></category>
		<category><![CDATA[X-Men]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://movienthusiast.com/?p=13427</guid>
		<description><![CDATA[Diatur sebagai lanjutan kisah dari film X-Men: The Last Stand, Wolverine memulai perjalanannya ke Jepang. Ia terlibat dengan seorang tokoh misterius dari pertarungan yang pernah dilakukannya pada masa lalu. Pada awalnya ia terlihat lemah. Namun terdorong oleh batas-batas fisik dan emosionalnya, ia tidak hanya menghabisi musuhnya, tetapi juga berjuang melawan batin dan imortalitasnya sampai ia menjadi lebih ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Diatur sebagai lanjutan kisah dari film <em>X-Men: The Last Stand,</em> Wolverine memulai perjalanannya ke Jepang. Ia terlibat dengan seorang tokoh misterius dari pertarungan yang pernah dilakukannya pada masa lalu.</p>
<p>Pada awalnya ia terlihat lemah. Namun terdorong oleh batas-batas fisik dan emosionalnya, ia tidak hanya menghabisi musuhnya, tetapi juga berjuang melawan batin dan imortalitasnya sampai ia menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.</p>
<p>Film yang dibesut oleh 20th Century Fox dan disutradarai James Mangold ini dijadwalkan akan dirilis mulai 24 Juli 2013.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://movienthusiast.com/2013/06/first-trailer-the-wolverine-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trailer Perdana 300: Rise of an Empire</title>
		<link>http://movienthusiast.com/2013/06/trailer-perdana-300-rise-of-an-empire/</link>
		<comments>http://movienthusiast.com/2013/06/trailer-perdana-300-rise-of-an-empire/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jun 2013 01:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Movienthusiast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Trailer]]></category>
		<category><![CDATA[300: Rise of Empire]]></category>
		<category><![CDATA[Andrew Tiernan]]></category>
		<category><![CDATA[Eva Green]]></category>
		<category><![CDATA[Rodrigo Santoro]]></category>
		<category><![CDATA[Sullivan Stapleton]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://movienthusiast.com/?p=14301</guid>
		<description><![CDATA[Trailer perdana 300: Rise of Empire baru saja di rilis warner bross yang memperlihatkan aksi para sparta masih dengan efek slow motion dan dihiasi cipratan darah. Film ini  bukanlah sekuel, melainkan prekuel (kisah sebelum film pertama),. Jika di film pertamanya disutradarai oleh Zack Snyder (Sucker punch, Watchmen, dan yang terbaru ‘Superman’ Man of Steel), film prekuelnya ini tak lagi diarahkan Snyder, ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Trailer perdana 300: Rise of Empire baru saja di rilis warner bross yang memperlihatkan aksi para sparta masih dengan efek slow motion dan dihiasi cipratan darah. Film ini  bukanlah sekuel, melainkan prekuel (kisah sebelum film pertama),. Jika di film pertamanya disutradarai oleh Zack Snyder (Sucker punch, Watchmen, dan yang terbaru ‘Superman’ Man of Steel), film prekuelnya ini tak lagi diarahkan Snyder, melainkan Sutradara baru Noam Murro.</p>
<p>300: Rise of an Empire yang diperankan oleh bintang-bintang terkenal seperti Eva Green, Rodrigo Santoro, Sullivan Stapleton dan Andrew Tiernan direncanakan akan tayang di bioskop tanggal 2 Agustus 2013.</p>
<p><img class="aligncenter" alt="" src="http://i1.wp.com/101jakfm.com/uploads/article-images/300-201304181052547601.jpg?resize=423%2C627" data-recalc-dims="1" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://movienthusiast.com/2013/06/trailer-perdana-300-rise-of-an-empire/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trailer SNOWPIERCER</title>
		<link>http://movienthusiast.com/2013/06/trailer-snowpiercer/</link>
		<comments>http://movienthusiast.com/2013/06/trailer-snowpiercer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jun 2013 00:02:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Movienthusiast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Trailer]]></category>
		<category><![CDATA[Chris Evans]]></category>
		<category><![CDATA[Joon-ho Bong]]></category>
		<category><![CDATA[Snowpiercher]]></category>
		<category><![CDATA[Tilda Swinton]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://movienthusiast.com/?p=14287</guid>
		<description><![CDATA[Snowpiercer mengisahkan tentang manusia yang tersisa di sebuah kereta besar akibat bencana zaman es. Perlahan, sebuah pemberontakan terjadi di dalam kereta tersebut. Film ini diadaptasi dari Le Transperceneige, sebuah graphic novel terbitan Prancis serta merupakan karya dari Jacques Lob dan Jean-Marc Rochett. Sang sutradara Joon-ho Bong telah melibatkan sederet cast yang menawan,  antara lain  Curtis (Chris Evans), Mason (Tilda Swinton), Gilliam (John Hurt), Wilford (Ed ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Snowpiercer mengisahkan tentang manusia yang tersisa di sebuah kereta besar akibat bencana zaman es. Perlahan, sebuah pemberontakan terjadi di dalam kereta tersebut. Film ini diadaptasi dari <em>Le Transperceneige</em>,<em> </em>sebuah <em>graphic novel</em> terbitan Prancis serta merupakan karya dari <em>Jacques Lob </em>dan<em> Jean-Marc Rochett.</em></p>
<p>Sang sutradara <em>Joon-ho Bong</em> telah melibatkan sederet <em>cast</em> yang menawan,  antara lain  Curtis (Chris Evans), Mason (Tilda Swinton), Gilliam (John Hurt), Wilford (Ed Harris), Namgoong Minsu (Kang-ho Song), Edgar (Jamie Bell), Tanya (Octavia Spencer), Andrew (Ewen Bremner), Yona (Ah-sung Ko).  Film ini akan tayang di bioskop akhir musim panas tahun ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://movienthusiast.com/2013/06/trailer-snowpiercer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Hobbit: The Desolation of Smaug &#8211; Teaser Trailer</title>
		<link>http://movienthusiast.com/2013/06/the-hobbit-the-desolation-of-smaug-teaser-trailer/</link>
		<comments>http://movienthusiast.com/2013/06/the-hobbit-the-desolation-of-smaug-teaser-trailer/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jun 2013 04:29:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Movienthusiast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Slide]]></category>
		<category><![CDATA[Trailer]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Freeman]]></category>
		<category><![CDATA[Peter Jackson]]></category>
		<category><![CDATA[The Hobbit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://movienthusiast.com/?p=14286</guid>
		<description><![CDATA[Pihak Warner Bros tadi malam telah merilis teaser trailer untuk The Hobbit: The Desolation of Smaug yang disutradara oleh Peter Jackson. The Desolation of Smaug , digambarkan akan lebih gelap dari cerita pertamanya. Dalam film ini akan memperkenalkan Benedict Cumberbatch sebagai Smaug. Evangeline Lilly juga berperan sebagai prajurit Tauriel, karakter asli yang ditulis oleh Jackson, Fran Walsh dan ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pihak Warner Bros tadi malam telah merilis teaser trailer untuk The Hobbit: The Desolation of Smaug yang disutradara oleh Peter Jackson. The Desolation of Smaug , digambarkan akan lebih gelap dari cerita pertamanya. Dalam film ini akan memperkenalkan Benedict Cumberbatch sebagai Smaug. Evangeline Lilly juga berperan sebagai prajurit Tauriel, karakter asli yang ditulis oleh Jackson, Fran Walsh dan Philippa Boyens.</p>
<p>The Hobbit: The Desolation of Smaug akan dirilis pada 13 Desember mendatang.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://movienthusiast.com/2013/06/the-hobbit-the-desolation-of-smaug-teaser-trailer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review &#8211; V/H/S 2 (2013)</title>
		<link>http://movienthusiast.com/2013/06/review-vhs-2-2013/</link>
		<comments>http://movienthusiast.com/2013/06/review-vhs-2-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Jun 2013 05:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafilova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Slide]]></category>
		<category><![CDATA[2013]]></category>
		<category><![CDATA[Adam Wingard]]></category>
		<category><![CDATA[anthology]]></category>
		<category><![CDATA[Eduardo Sánchez]]></category>
		<category><![CDATA[Epy Kusnandar]]></category>
		<category><![CDATA[Fachry Albar dan Oka Antara]]></category>
		<category><![CDATA[gareth evans]]></category>
		<category><![CDATA[Gregg Hale]]></category>
		<category><![CDATA[Hannah Al Rashid]]></category>
		<category><![CDATA[Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Jason Eisener]]></category>
		<category><![CDATA[omnibus]]></category>
		<category><![CDATA[sekuel]]></category>
		<category><![CDATA[Simon Barrett]]></category>
		<category><![CDATA[Timo Tjahjanto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://movienthusiast.com/?p=14271</guid>
		<description><![CDATA[Setahun yang lalu para fans mocku horor dimanjakan dengan kehadiran V/H/S, sebuah omnibus found-footage kecil buatan anak-anak Bloody Disgusting pimpinan Brad Miska yang sukses menghadirkan sebuah paket kengerian  menggigit. Menggigit karena tampaknya Miska tahu bahwa horor mokumentari itu adalah sarana efektif untuk menghadirkan kengerian yang nyata dan melalui sebuah antologi kita akan menemukan lebih banyak ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setahun yang lalu para fans mocku horor dimanjakan dengan kehadiran <em>V/H/S,</em> sebuah omnibus <em>found-footage</em> kecil buatan anak-anak <em>Bloody Disgusting</em> pimpinan Brad Miska yang sukses menghadirkan sebuah paket kengerian  menggigit. Menggigit karena tampaknya Miska tahu bahwa horor mokumentari itu adalah sarana efektif untuk menghadirkan kengerian yang nyata dan melalui sebuah antologi kita akan menemukan lebih banyak teror tanpa  perlu takut terjebak dalam cerita yang terlalu panjang dan membosankan . Ya, cukup setahun buat Miska dan geng <em>The Collective</em>-nya untuk kemudian menelurkan seri keduanya, sebuah jeda yang terbilang cukup cepat untuk sebuah sekuel. Formatnya masih sama, masih menghadirkan 5 segmen teror <em>found-footage</em> kaset-kaset VHS dari banyak sutradara-sutradara keren macam Jason Eisener (<em>Hobo With a Shotgun</em>), Eduardo Sánchez, Gregg Hale (<em>The Blair Witch Project</em>), Adam Wingard (<em>You&#8217;re Next</em>) dan kejutan terbesar buat penonton Indonesia, Gareth Evans (The Raid) dan Timo Tjahjanto (Rumah Dara).</p>
<h3>Tape 49</h3>
<p><a href="http://i1.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/timthumb.php_.jpg"><img alt="timthumb.php" src="http://i1.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/timthumb.php_.jpg?resize=620%2C310" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"> Sama seperti pendahulunya <em>Tape 56,</em> segmen utamanya masih dipegang oleh Simon Barret. Kisahnya masih melanjutakn seri pertamanya di mana dua orang investigator sedang menyelidiki kasus hilangnya para mahasiwa secara misterius. Penyelidikan yang dilakukan keduanya membawa mereka ke sebuah rumah yang berisi banyak televisi dan kaset-kaset VHS yang nantinya membawa kita ke lebih banyak teror terpisah. Jika dibanding Tape 56 yang sama-sama menjadi kisah utama, <em>Tape 49</em> sebenarnya tidak menawarkan sesuatu yang baru. Ini sama persis dengan yang terjadi setahun yang lalu; Rumah tua terbengkalai, banyak monitor dan televisi yang menyala dan puluhan kaset-kaset VHS yang berisi rekaman-rekaman mengerikan, bahkan endingnya pun tidak berbeda jauh. Selain menjadi bagian pembuka Tape 49 juga menjadi kisah penutup <em>V/H/S 2</em>.</p>
<h3>Clinical Trials</h3>
<p style="text-align: center;"><a href="http://i1.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/VHS_2_Wingard_1_5_13_13-643x360.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-14276" alt="VHS_2_Wingard_1_5_13_13-643x360" src="http://i2.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/VHS_2_Wingard_1_5_13_13.jpg?resize=620%2C310" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Bagian yang digarap Adam Wingard ini juga mengingatkan saya pada <em>Amateur Night</em> di <em>V/H/S</em>. keduanya sama-sama menggunakan kamera tersembunyi, hanya saja jika di Amateur Night yang melibatkan sebuah keisengan yang berujung vampir wanita ganas itu kameranya disembunyikan di kaca mata, di sini kamera adalah bagian dari mata karakter utama sebelumnya harus rela kehilangan mata aslinya paska kecelakaan. Yang terjadi kemudian adalah ketika mata buatan itu tanpa diketahui mampu melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh mata normal. Sepintas konsep <em>Clinical Trials</em> mirip dengan horor Hongkong, <em>The Eye</em>: Mata cangkokan yang mampu melihat hantu, hanya saja ini lebih canggih dan juga sederhana. Sayang konsep menariknya hanya berlangsung sebentar, setelah itu ia tercebur dalam kubangan horor generik. Ia juga tidak didukung dengan keseraman yang sepadan. Penampakan-penampakannya kurang maksimal namun twist diujungnya cukup mengerikan.</p>
<h3>A Ride in the Park</h3>
<p style="text-align: center;"><a href="http://i1.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/vhs2-review-3.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-14277" alt="vhs2-review-3" src="http://i1.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/vhs2-review-3.jpg?resize=620%2C310" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Duet <em>The Blair Witch Project</em>, Eduardo Sánchez dan Gregg Hale menghadirkan sebuah keasikan sendiri di segmen yang dipenuhi zombie ini. Dihadirkan melalui sudut pandang orang pertama dengan pengunaan kamera &#8220;Go Pro&#8221; yang terpasang di helm seorang biker malang. Selanjutnya kita akan menyaksikan semua mimpi buruk secara langsung. Ya, penggunan POV orang pertama itu adalah ide bagus dan menyenangkan untuk diterapkan, apalagi yang menjadi sentralnya adalah karakter zombie itu sendiri. Kita akan melihat semuanya, dari sebelum sampai sesudah <em>biker </em>berubah dan menyerang yang lain. Twistnya juga tidak buruk. Ini adalah sebuah gorefest yang mengasyikan, segemen kedua terbaik di <em>V/H/S 2</em>.</p>
<h3>Safe Haven</h3>
<p><img class="alignnone" alt="" src="http://i1.wp.com/twitchfilm.com/assets/2013/04/tribeca13_vhs2.jpg?resize=620%2C310" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">Jika ada alasan paling kuat untuk menonton <em>V/H/S 2</em> mungkin karena segmen gila satu ini. Ya, ini mungkin segmen terbaik, bahkan jika kamu mau membandingkannya dengan semua segmen di dua serinya sekaligus, dan bagian paling menyenangkan adalah mengetahui bahwa yang menghadirkannya adalah Gareth Evans dan Timo Tjahjanto. Temanya bergerak dari sesuatu yang sederhana hingga berakhir menjadi sebuah kekacauan luar biasa. Dibintangi oleh Hannah Al Rashid, Fachry Albar dan Oka Antara yang menjadi kru reporter untuk meliput Epy Kusnandar yang menjadi pemimpin sebuah sekte sesat. Selain <em>Rumah Dara</em>, kita sudah melihat bagaimana jika kamu memberikan keleluasaan lebih buat seorang &#8216;sinting&#8217; seperti Timo Tjahjanto di segmen Libido di antologi horor lainnya, <em>The ABC&#8217;s of Death</em> tanpa ganguan sensor apalagi kali ini ia dipasangkan dengan Evans yang kadar kegilaannya hanya kalah setingkat di bawahnya. Mungkin <em>Safe Haven</em> tidak sampai seerotis Libido, tetapi ini jauh lebih besar, mengerikan dan menegangkan, melibatkan galonan darah segar, kepala pecah, tubuh meledak, potongan tubuh sampai <em>demonic theme</em> yang kental dengan segala &#8220;Holy Shit!&#8221; momennya yang &#8220;mengasyikan&#8221;. Yap! Tidak perlu diragukan lagi ini adalah segmen terbaik dan asiknya, kamu tidak perlu menunggu sampai akhir.</p>
<h3>Slumber Party Alien Abduction</h3>
<p><a href="http://i2.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/392288_467226496691159_195211460_n.jpg"><img alt="392288_467226496691159_195211460_n" src="http://i2.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/392288_467226496691159_195211460_n.jpg?resize=620%2C310" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Malang buat Jason Eisener karena segmen sci-fi horor tentang <em>alien abduction</em>-nya berada setelah kegilaan luar biasa <em>Safe Haven</em>. Hasilnya seperti terbanting. Masalahnya pada akhirnya bukan hanya sekedar peletakan segmen yang kurang strategis, namun konsep menarik Eisner ini tidak didukung presentasi yang bagus, penampakan alien yang kurang meyakinkan dan terlalu mengobral adalah beberapa kesalahan besarnya, namun pemasangan kamera di seekor anjing lucu sebenarnya bukan ide yang terlalu buruk dan twistnya juga bagus.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://movienthusiast.com/2013/06/review-vhs-2-2013/"><img src="http://i0.wp.com/i.ytimg.com/vi/sjh-v9Sj-8E/0.jpg?w=620" alt="YouTube Video" data-recalc-dims="1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://movienthusiast.com/2013/06/review-vhs-2-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review &#8211; After Earth (2013)</title>
		<link>http://movienthusiast.com/2013/06/review-after-earth-2013/</link>
		<comments>http://movienthusiast.com/2013/06/review-after-earth-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Jun 2013 03:35:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafilova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Slide]]></category>
		<category><![CDATA[2013]]></category>
		<category><![CDATA[Adventure]]></category>
		<category><![CDATA[Drama]]></category>
		<category><![CDATA[Isabelle Fuhrman]]></category>
		<category><![CDATA[Jaden Smith]]></category>
		<category><![CDATA[M. Night Shyamalan]]></category>
		<category><![CDATA[Sci-Fi]]></category>
		<category><![CDATA[Will Smith]]></category>
		<category><![CDATA[Zoe Kravitz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://movienthusiast.com/?p=14259</guid>
		<description><![CDATA[After Earth punya kombinasi maut; Sci-fi post apocalyptic yang mahal, Hitchock from India, M. Night Shyamalan dan magnet box office, Will Smith. Tetapi tunggu dulu, Shyamalan? Bukankah orang ini kariernya sudah habis paska adaptasi live action The Last Airbender yang mengecewakan itu? Namun rupanya seperti saya, Will Smith sang empunya ide cerita yang juga duduk di ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" alt="" src="http://i0.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/AfterEarthSCREENCAP13-e1370661877189.jpg?resize=620%2C211" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;"><em>After Earth</em> punya kombinasi maut; <em>Sci-fi post apocalyptic</em> yang mahal, Hitchock from India,<em> </em>M. Night Shyamalan dan magnet <em>box office</em>, Will Smith. Tetapi tunggu dulu, Shyamalan? Bukankah orang ini kariernya sudah habis paska adaptasi <em>live action The Last Airbender</em> yang mengecewakan itu? Namun rupanya seperti saya, Will Smith sang empunya ide cerita yang juga duduk di bangku produser masih percaya bahwa Shyamalan belum kehilangan sentuhannya. Tetapi <em>After Earth</em> berada di ranah fiksi ilmiah, jauh dari kebiasaan Shyamalan sebelumnya yang suka mengejutkan kita di thriller misterinya yang simpel namun menusuk itu. Dan kamu tahu kan apa yang terjadi ketika ia mencoba menyeleweng, ya, <em>The Last Airbender</em>  yang&#8230;., ah, sudahlah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setting <em>After Earth</em> berada di 1000 tahun di masa depan setelah bencana besar lingkungan hidup yang memaksa manusia pergi meninggalkan bumi yang tercemar menuju dunia baru yang mereka sebut Nova Prime. Di sini ada Jenderal Cypher Raige (Will Smith), pemimpin pasukan penjaga perdamaian tanpa rasa takut yang bertugas membasi semua <em>Ursas</em> (alien ganas pemangsa manusia) yang hendak menguasai <em>Nova Prime</em>. Lalu suatu hari sebelum memutuskan untuk pensiun, Cypher bersama putranya, Kitai Raige (Jaden Smith) melakukan ekspedisi terakhir, sayang seperti yang kamu lihat dalam traillernya, ekspedisi itu tidak berakhir baik. Pesawat yang ditumpangi keduanya mengalami kecelakaan hebat, membuat mereka kemudian terdampar di bumi yang liar.</p>
<p><img alt="" src="http://i0.wp.com/l2.yimg.com/bt/api/res/1.2/I9kILakGRuu94lBhVOScIQ--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0zNjc7cT04NTt3PTYzMA--/http://l.yimg.com/os/publish-images/movies/2013-05-13/7bb5f15d-ac04-40ec-af79-70aa3f988292_after-earth.jpg?resize=620%2C361" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi untuk kedua kalinya Shymalan mencoba genre baru di luar zona nyamannya. Setelah fantasi petualangan, sekarang fiksi ilmiah, dan kali ini ia punya dukungan lebih besar bernama Will Smith dari sekedar adaptasi kartun anak-anak plus <em>budget</em> raksasa. Sekilas, dari kulit luarnya <em>After Earth</em> tampak begitu megah dengan balutan setting futuristiknya, lengkap dengan alien ganas dan <em>space ship</em> canggih, tetapi di balik segala kemewahan fiksi ilmiah <em>hi-tech</em> dan tema <em>survival</em>-nya ini sebenarnya adalah sebuah konsep drama sederhana tentang hubungan ayah-anak yang kental dengan elemen <em>coming of age</em> dan filosofi tentang bagaimana menghadapi ketakutan terbesarmu, ya, dalam memang, mengingatkan saya pada <em>The Road</em> yang <em>gersang</em> namun menyentuh itu, hanya saja kamu akan lebih banyak menemukan lebih banyak flora dan fauna di sini dan lebih sedikit sisi emosional.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" alt="" src="http://i2.wp.com/movienthusiast.com/wp-content/uploads/2013/06/willo-smitho-sunus-filmuodamasis-juostoje-zeme-nauja-pradzia-priaugo-9-kilogramus-ir-tapo-vyriskesnis-e1370662169300.jpg?resize=620%2C327" data-recalc-dims="1" /></p>
<p style="text-align: justify;">Saya suka konsepnya, tetapi fakta di lapangan berkata lain. Dengan kemampuannya sebagai seorang <em>storyteller</em> sehandal Shymalan semestinya bisa menghadirkan kedalaman yang cukup untuk menghadirkan lebih di sisi sentimentilnya, tetapi yang terjadi terasa begitu datar tidak ada <em>chemistry</em> kuat antara ayah dan anak (padahal keduanya diperankan oleh ayah dan anak di dunia nyata), ini bisa jadi dikarenakan mereka hampir tidak pernah berada dalam satu frame plus karkaterisasi Will Smith yang mengharuskannya membuang semua emosinya. Fokus utamanya berada pada karkater Kitai dengan masa lalu kelam yang jujur saja sedikit menyebalkan buat saya, khususnya pada separuh pertama dengan segala kelakukannya  yang semau sendiri, tetapi seperti kebanyakan <em>coming of age</em>, karkater Kitai kemudian belajar menjadi dewasa dalam perjalannnya mengarungi bahaya untuk menyelamatkan dirinya dan juga ayahnya, nah, sayangnya bagian penting satu ini tidak teralalu mulus digarap Shymalan, antara terlalu lama dan terseok-seok dalam bergerak dan elemen aksi dan survival yang tidak pernah menjadi sebuah sajian yang &#8220;Wow&#8221;, tidak peduli ketika ia diam-diam juga menyelipkan pesan-pesan spiritual melalui simbolisasi terselubung, yang ada malah membuat semuanya menjadi serba <em>nanggung, </em>lamban dan membosankan. Dan untuk film dengan biaya produksi sebesar ini, <em>After Earth</em> tampak kedodoran dalam menghadirkan spesial efek yang sesuai dengan harga-nya, meskipun ya, lanskap yang dihadirkan memang cukup menyejukan mata dengan segala pemandangan yang serba hijau.</p>
<p style="text-align: justify;">Will Smith yang terinspirasi oleh acara televis, <i>I Shouldn&#8217;t Be Alive</i> sebenarnya sudah memberikan Shyamalan sebuah konsep fiksi ilmiah yang menarik melalui <em>After Earth</em> yang bersetting tentang kehancuran bumi dengan tema tebal hubungan ayah-anak dan sebuah petualangan bertahan hidup mendebarkan serta perjalanan spiritual dalam mencari kedewasaan diri, tapi semuanya terasa percuma ketika  Shyamalan tampak tidak terlalu percaya diri untuk membawanya ke mana? Yang terjadi kemudian <em>After Earth</em> malah terjebak antara drama tanpa emosi dan fiksi ilmiah yang kurang garam.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://movienthusiast.com/2013/06/review-after-earth-2013/"><img src="http://i2.wp.com/i.ytimg.com/vi/CZIt20emgLY/0.jpg?w=620" alt="YouTube Video" data-recalc-dims="1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://movienthusiast.com/2013/06/review-after-earth-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
