Review

Fallen (2016)

Alkisah sebuah novel roman picisan kisah silang antar spesies, manusia dan vampir yang banyak memuat kutip-kutipan sajak Shakespeare dan suka duka remaja galau, berjudul Twilight sukses menjadi buku laris. Keberhasilannya memikat banyak remaja putri hingga ibu dan nenek mereka membuat kisah-kisah novel bertema young adult/YA lainnya turut kecipratan efeknya. Saat diangkat ke layar perak, saga tersebut juga sama fenomenalnya, melejitkan nama bintang utamanya, Kristen Stewart dan Robert Pattinson ke awang-awang Hollywood. Nah, novel-novel  YA laris lainnya tadi tentunya mengekor jua, dimulai dari Hunger Games, Maze Runner hingga Divergent yang diminati penontonnya sampai yang gagal laiknya The Mortal Instruments. Fallen karangan Lauren Kate sekarang mencoba peruntungannya pula di layar lebar.

Kisahnya pun tak jauh-jauh dari formula Twilight, dengan karakter utamanya, Lucinda “Luce” Price (Addison Timlin) secara sukarela memasuki sekolah khusus untuk remaja dengan gangguan mental, Sword and Cross, setelah sebelumnya sempat terlibat insiden pyrokinesis yang merenggut nyawa temannya. Di institusi kejiwaan mewah tersebut, Luce lalu bertemu (dan jatuh cinta) dengan dua pemuda tampan, Daniel (Jeremy Irvine) dan Cam (Harrison Gilbertson) yang memiliki pribadi bertolak belakang satu sama lain. Tentunya selain terjebak dalam hubungan cinta segitiga, Luce juga ternyata memiliki misteri masa lalu yang mengancam nyawanya.

Secara visual, Fallen memiliki gambar-gambar cantik dengan pemandangan bangunan kastel di Budapest, tempat syuting filmnya, yang sedap di mata. Ketiga pemeran utamanya pun memiliki paras elok untuk memeriahkan layar. Sayangnya, selain temanya yang basi, Fallen juga memiliki naskah yang sangat payah. Trio Nichole Millard, Kathryn Price, dan Michael Ross menggulirkan alurnya dengan begitu pelan, datar dan menjemukan. Entah jika memang materi dari novelnya juga demikian, atau memang ketiganya tak lihai meramu alur dengan baik, Fallen laiknya Twilight juga terseok-seok bertutur dalam lemahnya narasi. Ketiga pemain utamanya juga hanya memberi banyak ruang bagi Timlin, yang walaupun tampil lumayan namun terbatasi oleh lemahnya karakter dalam skenarionya. Apalagi dengan pembawaan fisik dan perilaku yang terkesan ala Bella Swan sekali, sukar untuk tak berprasangka bahwa Luce adalah karbon kopi karakter tersebut. Sedang dua aktor utamanya tampil bak karakter tempelan belaka. Irvine dan Gilbertson tak lebih jadi gula-gula yang menciptakan intrik yang juga terkesan dibuat-buat, tidak masuk akal dan dipaksakan. Pun dengan aktris senior Joely Richardson yang hanya muncul seperlunya untuk dekorasi cerita dan sebuah pelintiran pada puncak plotnya.

Sineas Scott Hicks (No Reservation, The Boys Are Back)  seakan tak berdaya mengolah materi yang memang sudah amburadul ini. Sehingga sulit rasanya untuk mencari hal positif dari Fallen selain visualnya yang indah dan pergerakan dinamis kameranya. Itupun masih ternoda oleh efek visual CGI yang terlihat kasar di mata. Wajar jika  distributor Amerika Serikat belum ada yang berminat untuk mengedarkannya di sana. Ditutup dengan alur yang menyisakan banyak hal yang belum dituntaskan setelah menghambur-hambur banyak durasinya dengan mubazir, Fallen jelas hanya dibuat untuk mengekor sukses Twilight Saga dan gagal meninggalkan kesan apapun di benak penontonnya selain rasa kecewa serta kebosanan tingkat tinggi.

 

Fallen (2016)
3.5 Movienthusiast's
Summary
Mengekor dan memakai formula Twilight Saga dengan hasil yang amburadul, Fallen gagal total nyaris di semua lini untuk menghadirkan waralaba baru penerus genre fiksi young adult.
CERITA3
PENYUTRADARAAN5
AKTING5
VISUAL7
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top