Review

The Equalizer (2014)

Versi modern The Equalizer ini lebih tampak seperti sebuah thriler action balas dendam ala Man on Fire atau Taken ketimbang reboot dari versi serial televisinya. Tidak menawarkan jalinan narasi yang baru, tetapi dibawah arahan penyutradaraan efektif Antoine Fuqua dan tentu saja pesona dahsyat Danzel Washington, The Equalizer adalah tontonan wajib buat kamu penggemar action thriller yang cepat dan mendebarkan.

Tidak peduli seberapa kerennya Liam Neeson membintangi banyak film thriller action akhir-akhir ini, Danzel Washington akan selalu dikenang sebagai karakter om-om bad-ass seperti kita mengenang Charles Bronson dengan Death Wish-nya. Jadi ketika ia memutuskan untuk memproduseri sekaligus membintangi versi layar lebar dari serial televisi lawas The Equilizer yang sempat populer di era 80″an kita tahu bakal akan bertemu kembali dengan sosok pria paruh baya tangguh nan mematikan seperti yang pernah ia hadirkan di beberapa film di daftar filmografinya, sebut saja seperti The Book of Eli atau yang paling mendekati, Man on Fire, apalagi mengingat ada nama Antoine Fuqua yang pernah berjasa memberikan Danzel Oscar dalam Training Day berada dibalik kamera, maka seharusnya kita memang tidak boleh meremehkan versi modern dari ‘sang penyeimbang’.

Versi televisinya menghadirkan aktor Inggris  Edward Woodward sebagai Robert McCall, kini tiga dekade kemudian Danzel Washington yang mengisi peran ikonis tersebut tentu saja dengan pesona berbeda. Dari awal Robert McCall digambarkan sebagai sosok pria paruh baya sederhana yang hidup teratur. Bangun lebih cepat dari alarm yang sudah diset-nya, naik bus untuk bekerja sebagai karyawan di sebuah pusat perbelanjaan dan ketika selesai bekerja, ia duduk santai di restoran, menyeruput teh hangat tanpa gula sembari membaca buku di rumah makan kecil dekat apartemennya. Singkatnya, Robert McCall hanyalah orang biasa yang mungkin membosankan, setidaknya itu yang penonton lihat di menit-menit awalnya sampai kemudian ketika kenalannya, Teri (Chloë Grace Moretz), seorang PSK muda mendapat masalah besar dari atasannya, gembong Rusia kejam yang menguasai separuh kota Boston. Dari sini McCall tahu ia tidak bisa diam lagi.

Dengan premis ‘rambo’ yang sebenarnya tidak terlalu istimewa, The Equalizer bisa saja menjadi tontonan thriller aksi tanpa otak medioker yang berisik, tetapi beruntung ia punya aktor sekelas Danzel Washigton yang merubah segala ke-cheesy-an nya menjadi sesuatu yang keren dan akan selalu dingat. The Equalizer mempertemukan kembali duo maut Training Day, Washington-Fuqua, kombinasi ini sekali lagi bekerja dengan sangat baik, di bawah asupan narasi reboot garapan Richard Wenk yang tidak pernah merumitkan dirinya sendiri. Versi modern The Equalizer mencoba tampil simpel tanpa banyak basa-basi. Dengan mencoba keluar dari aturan main pendahulunya, Fuqua dan Wenk hanya meninggalkan sedikit hal yang kamu ingat dari serial televisinya. Ini seperti hal yang benar-benar sebuah awal baru dengan spirit penegakan keadilan lawas. Ada banyak hal yang belum banyak diungkapkan tentang karakter misterius Robert McCall yang penuh kejutan. Satu-satunya informasi yang kita tahu selain ia adalah seorang pria paruh baya yang hidup sendiri, penderita insomnia dan OCD berat dengan masa lalu yang tidak jelas. Yang jelas setelah pertunjukan berdarah yang dilakukannya di kantor bos mafia Rusia, kamu tahu untuk tidak pernah cari masalah dengan McCall.

Seperti kebanyakan action thriller “satu melawan banyak”, The Equalizer pastinya punya banyak persedian momen aksi yang cepat, ekonomis dan efektif menghasilkan sensasi mendebarkan tersendiri. Meskipun kita tahu kemana plotnya bergerak, bagaimana ia berakhir dan kita juga tahu karakter McCall bisa dibilang terlalu tangguh dan terlalu pintar, tetapi setiap adegan yang melibatkan McCall dalam usahanya menegakan keadilan disajikan dengan se-cool mungkin oleh Fuqua adalah tontonan yang sangat menghibur. Fuqua tahu benar bagaimana memaksimalkan pesona dan daya tarik Danzel terutama ketika aktor 59 tahun ini memerankan sosok jagoan penyendiri yang punya nyali baja dan misi menghancurkan siapa saja yang sudah menganggunya.

Fuqua jelas sudah melakukan pekerjaanya dengan baik ketika berhasil mengemas segalanya dengan penuh gaya dan tone surma, termasuk memberi beberapa slowmotion untuk menegaskan kemampuan deduktif McCall, menghindarkan The Equalizer versinya menjadi tontonan brainless action flick yang murahan dan membosankan seperti versi televisinya. Tetapi sekali lagi penghargaan terbesar patut disematkan pada diri Danzel Washington yang tampil dalam dua rupa dengan kharisma yang konsisten di sepanjang film. Di satu sisi ia adalah pria hangat dan lembut ,tidak pernah segan membantu sesamanya termasuk bergurau dengan rekan kerjanya, Ralphie (Johnny Skourti). Di sisi lain ia adalah sosok yang dingin, mesin pembunuh menakutkan dari masa lalu yang mencoba memulai kembali hidupnya meskipun itu tidak pernah mudah karena banyak ketidak adilan di sekitarnya yang coba diseimbangkannya. Lalu ada Chloe Grace Moretz menjadi Alina, PSK muda, pengunjung setia kedai makan di mana tokoh McCall sering mampir. Porsi Moretz memang tidak sebanyak Danzel dan jujur ia tidak cocok berperan sebagai pekerja seks komersial, tetapi bagaimanpun karakternya tetap penting, terutama sebagai trigger buat McCall untuk keluar dari persembunyiannya. Di sisi lain untuk menyeimbangkan karakter McCall yang tangguh, Fuqua memberinya lawan sepadan dalam diri Teddy yang angker, dimainkan oleh aktor Selandia Baru, Marton Csokas.

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top