Review Film Indonesia

Critical Eleven (2017)

Ale (Reza Rahadian) dan Anya (Adinia Wirasti) memulai romansa mereka bak kisah drama romantis nan sempurna. Keduanya bersua dalam perjalanan panjang penerbangan kelas eksekutif dan kemudian berkenalan hingga masuk pada percakapan malu-malu manis yang terus berlanjut hingga ke Jakarta. Tanpa banyak bertanya-tanya, keduanya lantas menikah dan Anya ikut bertolak ke New York mengikuti suami barunya berdomisili di sana. Kebahagiaan mereka terus berlanjut kala Anya berbadan dua dan karena alasan kekhawatiran Ale, keduanya memilih kembali ke Jakarta. Malang tak dapat dihindari, saat Anya terpaksa kehilangan janinnya dan keduanya mulai terpisah jarak oleh trauma kedukaan mendalam. Mempertanyakan kelangsungan mahligai pernikahan mereka.

Ika Natassa bisa dibilang sebagai penulis novel fiksi laris yang memiliki banyak penggemar yang setia menanti karya-karyanya. Critical Eleven yang terbilang ambisius dibanding novel-novelnya yang lain, bahkan ludes dan meraih gelar best-selling hanya dalam sebelas menit pre order-nya dan dicetak ulang hingga berkali-kali. Entah gimmick atau bukan, harus diakui Ika memiliki magis kuat yang memikat banyak pembacanya untuk terus kecanduan membaca novel-novelnya. Suatu hal yang cukup langka bagi penulis kontemporer di tanah air. Tak heran jika kemudian novel-novelnya mulai dilirik produser film untuk diangkat ke layar perak. Apalagi melihat tren dalam negeri yang sedang gencar-gencarnya mengadaptasi novel laris ke format film. Maka tak perlu waktu lama hingga akhirnya Critical Eleven mendapat jatah pertama yang diproduksi (novel Ika lainnya, Antologi Rasa sesungguhnya mendapat hak adaptasi pertama kali, namun hingga saat ini masih dalam tahap pra-produksi) oleh Legacy Pictures, rumah produksi yang baru-baru ini juga meluncurkan Kartini. Mendapuk Robert Ronny (Hattrick) dan Monty Tiwa (Sabtu Bersama Bapak) sebagai duo sutradaranya, Critical Eleven juga bertabur banyak nama aktor ternama Indonesia, dan terutama mereunikan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti pasca Kapan Kawin dan omnibus Jakarta Maghrib.

Mengawali semuanya dengan romantis tanpa banyak konflik berarti dan latar New York yang tertangkap sedap di mata oleh sinematografer kenamaan tanah air, Yudi Datau, Critical Eleven mulanya tampak layaknya sebuah gambaran sempurna pasangan pengantin baru yang bahagia. Mapan, rupawan, berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan yang menarik dan menikmati masa-masa bahagia perkawinan mereka. Namun tatkala konflik utamanya merasuk, alur tampak bergejolak walaupun pada guliran durasinya konflik tersebut terasa berlebihan mendominasi dan repetitif menguasai mayoritas plotnya sehingga tampak mubazir dan kelewat dipanjang-panjangkan. Memang cukup dimengerti saat Anya dan Ale terguncang kala buah hati mereka yang sebentar lagi lahir malah gugur sebelum sempat melihat dunia. Namun, perlukah kedukaan mereka terus ditarik ulur sedemikian rupa. Secara pribadi, saya cukup tak teryakinkan oleh konflik utamanya ini. Terasa melelahkan untuk terus diikuti dan mengulur durasinya hingga lebih dari dua jam. Dibandingkan dengan film Reza sebelumnya yang cukup serupa, Testpack, Critical Eleven masih gagal memberikan dramalurgi yang logis akibat dibuat berkepanjangan.

Untungnya, duet Reza dan Adinia masih mumpuni. Keduanya bermain kuat, mendominasi layar dan berhasil memainkan emosi penonton dengan keadaan mereka yang mulanya bahagia namun belakangan dilanda kesedihan yang meretakkan hubungan keduanya. Tak cuma itu, masuknya pemain pendukung seperti Widyawati, Slamet Rahardjo, sampa Revalina S. Temat juga cukup mengukuhkan jajaran pemainnya. Tampilan padu juga cukup sukses ditampilan geng kantor Anya, yang dibawakan Astrid Tiar, Hannah Al Rashid sampai Hamish Daud yang lumayan mencuri perhatian dengan karismanya. Salut untuk pemilihan dan solidnya jajaran pelakon film ini yang bermain tak megecewakan.

Jenny Jusuf yang sebelumnya membawa pulang Citra lewat naskah film adaptasi novel, Filosofi Kopi, mungkin masih cukup berhasil membawa kesan tak dibuat-buat lewat adegan-adegan realistis Anya-Ale, dari dialog-dialog sederhana tapi mengena hingga cekcok kecil keduanya, tapi kesulitan menerjemahkan konflik utamanya tadi. Yang terasa terlalu menjemukan padahal bisa dipangkas sehingga menjadi lebih masuk akal dan efisien. Apalagi konklusinya dibuat begitu instan dan sedikit dipaksakan serta klise. Ah, tapi secara keseluruhan Critical Eleven memiliki tata produksi yang sangat bagus untuk ukuran film nasional, walaupun masih memotret kemapanan orang-orang berparas elok yang terjebak dalam konflik yang mungkin masih terasa artifial, namun berani tampil dewasa di luar banyaknya film-film adaptasi tanah air yang memotret remaja galau. Terutama dengan penampilan mengesankan Reza dan Adinia yang kembali menunjukkan performa padu terbaik mereka.

Critical Eleven (2017)
6.0 Movienthusiast's
Summary
Terjebak dalam konflik utama yang terlalu dipanjang-panjangkan hingga jatuhnya artifisial dan menjemukan, Critical Eleven tetap menawarkan tata produksi bagus serta penampilan mengkilat para pemainnya, terutama duet anyar Adinia Wirasti dan Reza Rahadian yang tak mengecewakan sama sekali.
CERITA5.5
PENYUTRADARAAN6
AKTING7.5
VISUAL7
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top