Review

Creed (2015)

Satu lagi film tinju hadir tahun ini. Setelah Southpaw dengan Jake Gyllenhaal yang tampil garang namun membosankan di sisi cerita, kini ada Creed dari sutradara Fruitvale Station, Ryan Coogler tampil mengejutkan penontonnya. Apa yang kemudian membuat Creed menjadi begitu spesial hingga ia banyak mendapatkan pujian dari para kritikus dan para penontonnya? Bukankah ia hanya sekedar film tinju biasa dengan segala formula olahraga klasik from zero to hero-nya, kami datang, kami bertanding, kami menang atau setidaknya kalah terhormat? Ya, jika dilihat dari kulit luarnya, Creed memang masih berada di jalur yang sama dengan koleganya sesama boxing movie, ada drama jatuh bangun dari karakter utamanya dalam usaha menjadi yang terbaik, ada pertarungan hebat di atas ring, tetapi Creed menjadi berbeda dan istimewa ketimbang yang lainnya ketika Coogler dengan cerdas memunculkan ide untuk menggabungkan narasinya dengan universe Rocky yang legendaris itu. Jadi kamu bisa menyebut Creed sebagai spin off atau juga sekuel ke-enam Rocky terlebih ketika ia melibatkan peran penting karakter Rocky Balboa di dalamnya.

Bagi yang belum pernah menonton seri-seri Rocky sebelumnya, pemilihan judul “Creed” bukan sekedar asal comot tanpa arti. Di satu sisi ia berarti “keyakinan” atau “kepercayaan” dalam konteks religius, namun di sisi lain ia juga mewakili nama Apollo Creed, rival utama Rocky dari seri empat seri awal yang dimainkan oleh Carl Weathers, Apollo Creed digadang-gadang sebagai lawan The Italian Stallion paling tangguh, ia adalah petinju yang terhebat kedua di universe Rocky dan membuat sebuah sekuel atau spin-off dengan bermodal kisah seorang Apollo Creed bisa dibilang adalah sebuah ide jenius karena selain rival di atas ring, Apollo Creed adalah sosok sahabat buat Rocky dan kematian tragisnya di tangan Ivan Drago di Rocky IV adalah salah satu pertunjukan emosi terhebat dalam seri-serinya.

Creed memang tidak lagi memunculkan karakter Apollo Creed dan Carl Weathers, namun meneruskan legacy seorang lawan tangguh dalam diri keturunannya, Adonis Johnson (Michael B. Jordan) yang nyaris menghabiskan masa kecilnya di penjara anak bawah umur sampai Mary Anne Creed (Phylicia Rashad), istri sah Apollo memutuskan untuk menyelamatkan anak haram suaminya itu dari kehancuran. Mary Anne memang berhasil merawat Adonis dengan baik hingga dewasa. Hidup lebih dari cukup dengan pekerjaan bagus rupanya tidak membuat Adonis tenang, Darah petarung seorang Creed mengalir deras dalam nadinya, membuat keinginannya untuk menjadi petinju besar seperti ayahnya tidak lagi terbendung. Dan ketika tidak ada satupun sasana yang mau melatihnya, Adonis memilih untuk terbang ke Philadelphia berharap berguru pada sang legenda hidup, Rocky Balboa.

Ketika semua mengira kisah seorang Rocky habis setelah pertarungan terakhirnya di Rocky Balboa 2006 silam tanpa meninggalkan keturunan yang mau meneruskan kejayaannya, kita dikejutkan dengan kemunculan Creed. Ya, siapa sangka ternyata franchise berusia 40 tahun ini masih punya cerita untuk dieksplorasi. Mengawinkan pakem usang boxing movie dengan benang merah dari cerita masa lalu mampu menghasilkan dampak sentimentil tersendiri, terutama buat para penonton veteran Rocky. Meski mengambil set modern, Philadelphia tampak masih sama ketika Gonna Fly Now mengiringi  Rocky muda berlatih menyusuri tangga di Philadelphia Museum of Art dan sasana tinju Mickey yang berada di pojokan jalan itu.  Coogler memang memberi cerita baru dari sudut pandang yang baru pula, tetapi tidak ada yang bisa menyangkal ini adalah film Rocky dengan nafas Rocky meski sang kuda liar Italia tua itu tidak lagi bertarung.

Mungkin kamu dengan mudah memprediksi ke mana arah narasinya akan berakhir, seperti saya bilang, di permukaan Creed tidak ada bedanya dengan drama-drama sejenis, ujung-ujungnya jika tidak menang dramatis ya, kalah terhormat. Tetapi ketika memasukinya lebih dalam, ada emosi dan keintimannya tidak pernah berkurang dan di sinilah letak kekuatan Creed yang mampu dimaksimalkan Cooglar dengan sangat baik. Creed adalah sebuah drama yang narasinya mampu digerakan oleh karakter-karakternya dengan latar belakang masa lalu yang familiar. Relasi antara Rocky dan Adonis menjadi highlight terbesar Creed, melihat dua orang dari generasi berbeda yang terhubung dengan masa lalu dan hasrat yang  adalah tontonan menarik. Bagaimana kedua manusia ini bertarung, tidak hanya menumbangkan lawan-lawannya di atas ring namun juga mengalahkan musuh terbesar mereka yakni diri mereka sendiri. Menarik melihat relasi yang tercipta antara Rocky dan Adonis. Cooglar memberi banyak waktu dan ruang untuk menciptakan sebuah hubungan yang solid, hubungan antara guru dan murid, hubungan antara ayah dan anak dan juga sahabat. Masing-masing tokoh punya motivasi sendiri dalam usaha mereka mencapai kemenangannya sendiri. Bagi Adonis menjadi petinju terbaik adalah impiannya, namun dalam perjalanannya ia belajar banyak menjadi sosok yang lebih baik dari sekedar menjadi manusia yang hanya kuat di otot, belajar menerima takdirnya sebagai anak petinju legendaris dan berusaha membuat legendanya sendiri. Sementara Rocky sendiri tidak luput dari pergumulan jiwa. Kita tahu ia sudah meninggalkan tinju sejak pertarungan terakhirnya enam tahun lalu, namun ketika Adonis mengetuk pintu rumah makannya, ia tahu bahwa ada tanggung jawab besar yang mesti dilakukannya sekali lagi, apalagi ia merasa bersalah atas kematian Apollo Creed tiga puluh tahun silam. Ya, ini adalah kombinasi tua-muda yang menarik, ada banyak humor di dalamnya, ada semangat besar yang begitu dalam mencapai impian.

Secara teknis Cooglar juga berhasil mempresentasikan Creed dengan gemilang. Lihat adegan pertarungan antara Adonis melawan Leo Sporino yang disyut dengan long take sepanjang kurang lebih enam menit tanpa putus. Kamera seperti berdansa di atas ring seperti menjadi musuh ketiga tidak berhenti menyorot wajah-wajah lebam dan emosi dari sebuah kemenangan. Sayang meski hebat, duel finalnya terasa kurang dramatis. Sementara beberapa adegan familiar dari seri-seri Rocky sebelumnya juga coba direka ulang oleh Coogler dengan versinya sendiri yang memancarkan kesan indie dan kebebasan serta sebuah keintiman.  Meski tampil dengan raut muka menyebalkan di sepanjang film, Michael B. Jordan sukses menjadi hero baru, berdampingan dengan mentornya Rocky tua yang ternyata mampu dimainkan dengan sangat baik oleh Stallone penuh kerut wajah tanpa harus melibatkan otot dan tinju.

Creed (2015)
7.8 Movienthusiast's
Summary
Creed di luar dugaan memberimu sebuah bogem mentah tak terduga. Ini bukan sekedar boxing movie yang bolak-balik kamu lihat, ini adalah drama tinju dari akar yang begitu personal ketika ia secara langsung menjadi kisah lanjut kehidupan seorang Rocky Balboa di masa tuanya. Ya, ini adalah surat cinta buat franchise Rocky. Ryan Coogler dengan gemilang berhasil memadukan sebuah kisah baru dan lama dengan komposisi yang sama baiknya, menciptakan pahlawan baru dengan spirit abadi tentang usaha mencari kejayaan dan jati diri lewat ring tinju.
CERITA7.8
PENYUTRADARAAN8
AKTING7.7
VISUAL7.8

 

 

.

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top