Film Indonesia

Cek Toko Sebelah (2016)

Satu hal yang saya suka dari seorang macam Ernest Prakasa ketika tampil di atas panggung sebagai seorang stand up comedian adalah ia adalah orang yang simpel, membumi dan tidak pernah malu mengolok-olok dirinya sebagai manusia dari golongan minoritas, sebaliknya ia malah mampu mengeksploitasi status minornya untuk dijadikan materi dalam usahanya untuk mengocok perut penonton. Nah, konsistensi ini kemudian ia bawa ke debut filmnya, Ngenest The Movie, adaptasi dari novel laris miliknya yang bercerita tentang kehidupan manusia keturunan Cina lokal yang di luar dugaan, berhasil mendapatkan respons positif dari para penontonnya.

Ya,  pada akhirnya Cek Toko Sebelah (CTS) mungkin tidak sampai senekat Ngenest dalam menawarkan premisnya, tetapi satu hal yang saya suka adalah kedekatan konsepnya. Ya, toko itu sendiri, khususnya yang menjual sembako itu sudah seperti simbol dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dalam memenuhi kebutuhan hidup, dari pinggiran jalan besar sampai kampung-kampung, dari sekedar membeli rokok batangan sampai beras kiloan, semua bisa kita dapati di toko-toko kelontong kecil. Ini jelas adalah premis bagus, senang Ernest bisa sampai kepikiran untuk mengangkat konsep orisinal ini yang sebenarnya juga tidak pernah jauh-jauh dari dirinya sebagai kaum marginal yang juga banyak berprofesi sebagai pemilik toko-toko tersebut yang biasa dilabeli dengan sebutan “engkoh” atau “nCi”.

Dengan ide sebagus ini, Ernest bisa saja sih membuat sebuah komedi tentang persaingan dua toko sembako dalam menggaet para pelanggannya, ya, itu jelas akan menjadi sebuah tontonan yang kocak dan seru bagaimana melihat usaha dua pemilik toko dalam memenangkan persaingan bisnis, tetapi sepertinya Ernest tidak ingin bermain di wilayah itu,  sebaliknya ia mencoba mengambil pendekatan lain yang lebih personal, membawa cerita tentang cinta dan keluarga. Tetapi bukan berarti CTS menjadi tontonan yang buruk, tidak sama sekali. Dengan membawa pendekatannya lebih ke drama timbang murni komedi, Ernest mencoba untuk naik kelas dan itu harus diakui berhasil dilakukannya meski jauh dari kata sempurna.

Ya, tidak mudah buat sutradara mana pun untuk bisa menyeimbangkan komedi dan drama dalam takaran yang sama kuatnya, apalagi hanya seorang Ernest yang terbilang masih “bau kencur” di bangku penyutradaraan. Jadi tentu saja saya bisa sangat memaklumi jika cerita tentang Koh Afuk (Chew Kinwah), juragan toko Jaya Baru yang mulai sakit-sakitan ingin mewariskan usahanya kepada anak bungsunya, Erwin (Ernest Prakasa) yang kemudian memercikkan kecemburuan si sulung Yohan (Dion Wiyoko) yang ditulis Ernest bersama Meira Anastasia memang tidak berjalan terlalu mulus, terasa lebih seperti sebuah potongan-potongan adegan yang tidak dijahit dengan rapi. Tidak ada interaksi kuat antara dua bersaudara itu sampai setengah film berjalan, tidak ada dasar kuat buat karakter Erwin untuk bisa membuat penontonnya bersimpati dan mengerti keadaannya. Ya, penontonnya mungkin bisa menangkap pesan tentang kebiasaan lucu yang diwakili oleh karakter Erwin di mana para orangtua, dalam kasus ini dari etnis Tionghoa di Indonesia, yang sudah capek-capek banting tulang menyekolahkan anaknya, bahkan sampai ke luar negeri dengan biaya yang tidak sedikit namun, toh, ujung-ujungnya malah disuruh jaga toko. Sebaliknya, cerita dramtis dari Yohan sang anak pembangkang mungkin bisa lebih mengena dengan segala kehidupannya yang serba sulit bersama sang istri, Ayu (Adinia Wirasti) yang perkawinannya tidak mendapatkan restu. Untung saja kisah Koh Afuk sendiri sebagai sosok ayah yang penuh dilematis sudah cukup kuat untuk bisa menopang kekurangannya apalagi ditunjang dengan penampilan hebat dari aktor Malaysia Chew Kinwah (My Stupid Bos) yang tampil sama meyakinkan dengan Dion Wiyoko.

Jika dramanya mungkin kurang bisa dimaksimalkan sama seperti Ernest kurang bisa memanfaatkan casting Adinia Wirasti yang ujung-ujungnya terasa mubazir, lain halnya dengan sisi komedinya. Untuk satu ini Ernest jelas patut diacungi jempol ketika ia mampu mengeksploitasi kemampuan komediknya dengan menghadirkan banyak guyonan dan anekdot lucu dan segar dengan timing yang pas. Lagi-lagi mengumpulkan teman-temannya sesama komika jelas bisa menjadi senjata ampuh untuk memenuhi gedung bioskop dengan tawa lepas dari penontonnya. Memang tidak semua joke-joke nya kena, tetapi sebagian besar jelas sudah bekerja dengan baik dalam usahanya menghibur penonton, belum lagi kehadiran beberapa cameo yang mengejutkan, seperti misalnya si sopir taksi. Potensi komedinya sebenarnya bisa jauh lebih maksimal andai Ernest lebih memfokuskan pada persaingan dua pemilik toko, namun sekali lagi itu tidak lagi menjadi masalah besar. Toh, CTS sudah terbilang sukses menunaikan ibadahnya sebagai sajian komedi yang bermutu.

Cek Toko Sebelah (2016)
7.1 Movienthusiast's
Summary
Sebagai sebuah drama komedi Cek Toko Sebelah memang masih jauh dari kata sempurna, namun bisa dilihat bahwa seorang Ernest Prakasa sudah sah naik kelas timbang film pertamanya ketika ia mampu menghantarkan pesan tentang cinta dan keluarga dalam bumbu komedi yang kocak, efektif penuh hati dan semangat.
CERITA7
PENYUTRADARAAN7.5
AKTING7
VISUAL7

 

 

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top