Review

Carol (2015)

Carol punya semua elemen favorit sutradara Todd Haynes; ada set Amerika era 50’an yang dingin, ibu rumah tangga kelas atas yang insecure dan tidak ketinggalan tema homoseksual kental, persis yang pernah dihadirkan Haynes di Far From Heaven 2002 silam yang dipuji-puji oleh penontonnya. Carol bisa dibilang ‘sebelas dua belas’ dengan Far From Heaven, hanya saja adaptasi novel The Price of Salt buah pena Patricia Highsmith ini mencoba tampil lebih intim dari sekedar konflik sub-urban ketika memfokuskan kisahnya pada romansa terlarang antara dua anak manusia dengan gemerlap Manhattan dalam suasana natal sebagai set-nya.

Carol Aird (Cate Blanchett) adalah sosok istri dan ibu rumah tangga anggun dari kelas atas dari pebisnis sukses Harge Aird (Kyle Chandler) yang terlalu sibuk untuk punya waktu bersamanya. Mungkin kesibukan Harge memang menjadi penyebab hubungan keduanya merenggang, mungkin juga tidak. Orientasi seksual Carol bisa jadi salah satu penyebab dinginnya hubungan mereka, ini kemudian diperparah dengan pertemuannya dengan Theresa Belivet (Rooney Mara), penjaga kasir di sebuah pusat perbelanjaan yang membantunya memilihkan mainan buat hadiah natal putrinya. Baik Carol dan Theresa langsung menyimpan ketertarikan sejak pertemuan pertama mereka. Dari sekedar makan siang sampai undangan mengunjungi kediaman Carol di pinggiran New Jersey. Dari sini hubungan keduanya meningkat dari sekedar teman menjadi jalinan cinta terlarang.

Jika Far From Heaven karakter Julianne Moore adalah korban dari suami sempurna yang ternyata menyimpan rahasia gelap sebagai seorang homoseksual, Carol menjadikan dua karakter utamanya sebagai pelakunya. Mungkin temanya tidak lagi baru, sedikit banyak mengingatkan pada Brokeback Mountain-nya Angg Lee lah yang mungkin paling familiar. Tetapi berbeda dengan Brokeback, Carol tidak menghadirkan tragedi, tidak ada hukuman masyarakat meski set-nya sendiri berada di era di mana toleransi buat LGBT masih minim. Fokusnya ada pada karakter Carol, seperti judulnya, bagaimana relasi sesama jenisnya dengan perempuan yang lebih muda dari kasta yang berbeda serta bagaimana nanti hubungannya dengan konflik rumah tangganya, terutama dampak besar pada hak asuh putri semata wayangnya yang kemudian diributkan oleh sang suami yang mendongkol.

Di permukaannya, naskah Carol garapan Phyllis Nagy mungkin tidak sampai serumit romansa prvokatif sejenis.  Tidak ada momen emosional, tidak ada pertentangan besar dari lingkungan. Ruang lingkupnya dipersempit pada tokoh Carol dan konflik internalnya, namun bagaimana cara Haynes memperlakukan kesederhanaan narasinya menjadi sajian yang intim dan personal. Nada-nada depresi dan dingin menghiasi 118 durasinya. Ada begitu banyak cinta, nafsu sekaligus rasa putus asa di udara yang dibungkus oleh visual cantik dan detail  desain produksi yang sempurna serta iringan scoring lembut Carter Burwell yang sanggup menghasilkan sisi sentimentil tersendiri, namun yang terpenting adalah bagaimana Haynes berhasil memaksimalkan daya pikat dua cast utamanya yang bermain gemilang guna memperkuat narasinya. Cate Blanchett adalah pilihan sempurna untuk menggambarkan sosok Carol Aird, profil wanita high class di satu sisi namun di sisi lain juga digambarkan sebagai sosok kesepian yang gamang dan insecure, manusia rapuh yang berlindung di balik riasan, rokok,  rambut rapi dan pakaian bulu mahal.

Sementara di sudut lain Rooney Mara sendiri pun tampil sama mengesankannya. Memerankan sosok Theresa Belivet, ada kesan misterius yang terpancar ketika naskah Nagy tidak memberikan informasi tentang masa lalu. Kita tidak tahu dari mana ia berasal, tidak tahu siapa keluarganya. Tetapi Mara memberikan sebuah kekompleksan tersendiri buat karakternya. Bagaimana kontrasnya kepribadiannya ketika bersama Carol ketimbang bersama ‘tunangan’ atau teman-teman laki-lakinya. Ada sebuah rasa cinta tersembunyi dalam diri Theresa yang baru bisa kita rasakan ketika ia bersama Carol.

Carol (2015)
7.7 Movienthusiast's
Summary
Tidak ada yang terlalu spesial memang dalam naskah Carol. Ini adalah cerita cinta terlarang dua anak manusia sejenis yang minim tragedi dan pertentangan, namun kudos patut disematkan kepada Todd Haynes yang mampu membuat kesederhaan kisahnya menjadi sajian yang intim dan personal, termasuk bagaimana ia mampu memaksimalkan kekuatan dua cast utamanya yang bermain gemilang.
CERITA7.2
PENYUTRADARAAN7.8
AKTING7.9
VISUAL8

 

 

 

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top