Review

Black Mass (2015)

Beberapa tahun belakangan ini sepertinya bukan masa-masa yang bagus buat karier seorang Johnny Depp.  Ya, Depp jelas adalah aktor besar, itu jelas tidak diragukan lagi, tetapi akhir-akhir ini ia terlalu sering berada di film yang salah dengan karakter yang salah pula, sedikit banyak sudah membuat penontonnya ilfil dan was-was bahwa idola mereka akan menjadi Nicholas Cage atau John Cusack berikutnya. Tetapi sepertinya kecemasan itu terlalu berlebih karena dalam Black Mass, Depp membuktikan bahwa ia masih punya pesona sebagai aktor besar yang tidak hanya bermodal make-up ekstrem semata.

Diangkat dari peristiwa nyata yang naskahnya ditulis oleh duet Jez Butterwort dan Mark Mallouk dari novel Black Mass: The True Story of an Unholy Alliance Between the FBI and the Irish Mob-nya Dick Lehr and Gerard O’Neill, Black Mass bisa jadi sebuah awal yang tepat untuk mengenal siapa itu Whitey Bulger. James Bulger atau dikenal dengan sebutan Whitey Bulger (Johnny Depp) adalah pemimpin kelompok gangster kelas teri Irlandia-Amerika, Winter Hill Gang yang menguasai Southie (sebutan buat kawasan selatan Boston).  Kenapa saya menyebutnya kelas teri? Karena pada saat itu, di tahun 197, Buglar memang masih dibilang bukan siapa-siapa dibanding adiknya, William “Billy” Bulger (Benedict Cumberbatch), sang senator Massachusetts  yang dihormati dan rivalnya, Angiulo Brothers sesama kriminal dari keluarga mafia asal Italia penguasa kawasan utara yang ditakuti, bahkan oleh FBI sekalipun, sampai suatu saat ketika sahabat Whitey dari kecil, John Connolly (Joel Edgerton) yang kini menjadi anggota FBI mengajaknya bekerja sama untuk meringkus Angiulo. Dari sini kisah besar James “Whitey” Bulger dimulai.

Dengan Black Mass, sutradara sekaligus aktor Scott Cooper terhitung baru menghasilkan empat film sepanjang karier penyutradaraanya, tetapi jangan pernah meremehkan kemampuan Cooper, lihat saja bagaimana ia mampu mengarahkan Jeff Bridges memperoleh Oscar pertamanya dalam Crazy Heart 2009 silam atau bagaimana ketika ia  menjadikan Out of the Furnace sebuah sub-urban thriller mencekam, jadi tentu saja menarik melihat bagaimana Cooper mencoba mereka ulang peristiwa masa lalu dalam format audio visual, apalagi mengingat tidak banyak yang mengenal siapa itu sosok Whitey Bulger.

Black Mass punya aura berbeda dengan Crazy Heart yang depressing, ia bisa jadi punya mood yang mendekati Out of The Furnace, getir dan dingin dengan caranya sendiri bersama penceritaan lambat yang semakin kelam dan kelam dalam perjalanannya serta sebuah studi karakter dengan segala ambiguitas moralnya dalam mengambil pilihan-pilihan. Tentu saja sebagai sebuah film gangster, Black Mass akan dipenuhi dengan banyak unsur kekerasan frontal yang mampu semakin menebalkan kesan gelap dari kisah salah satu buronan yang paling dicari di Amerika ini. Sementara di bagian teknis, Cooper dan sinematografernya,  Masanobu Takayanagi juga berhasil menangkap suasana sendu dari sudut-sudut kota Boston era 70 dan 80’an dengan detail, bagaimana selubung suram itu kemudian mampu menguatkan penceritaannya sekaligus di saat bersamaan, karakternya, termasuk scoring mencekam dari Junkie Xl yang membuat setiap gesekan yang terjadi bisa begitu terasa menegangkan.

Berbicara soal karakter, bagian terbaik yang dilakukan Cooper adalah ketia ia mampu ‘memaksa’ Depp mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Sudah cukup lama kita tidak melihat Deep tampil serius sekaligus total memerankan karakter ‘normal’ dengan kapasitas seperti ini setelah apa yang pernah dihadirkannya dalam Donnie Brasco puluhan tahun silam. Memainkan karakter macam Whitey Bulger yang tidak biasa secara fisik mungkin akan mudah buat Depp, lihat saja bagaimana ia bertransformasi dengan rambut yang separuh botak dengan bola mata biru terang dan kulit pucat, namun bukan itu yang membuat tokoh yang dimainkan Depp kali ini menjadi berkesan. Whitey Bugler bisa dibilang sebuah karakter anti-hero sempurna. Di satu sisi ia adalah sosok kriminal kharismatik yang mengerikan, dingin, cerdas dan manipulatif. Bagaimana ia menerormu dengan tatapan tajamnya, bagaimana cara berbicaranya yang lembut namun penuh ancaman yang membuat lawannya mengekerut, ya, Whitey Bugler milik Depp ada monster sejati, tetapi di saat bersamaan Cooper juga mengulik sisi lainnya yang lebih manusiawi. Whitey juga adalah sosok ayah penyayang dari putranya yang masih bocah, hasil hubungannya dengan kekasihnya Lindsey Cyr (Dakota Johnson) sekaligus anak yang berbakti pada ibunya. Coba lihat adegan ketika Whitey yang dengan sabar meladeni ibunya bermain kartu dan sengaja mengalah, bangga dengan kesuksesan adiknya, Billy. Ya, mungkin pada akhirnya karakter yang ingin dibuat abu-abu oleh Cooper tidak sampai berakhir terlalu kompleks, hubungan Whitey dan Billy juga tidak dieksplorasi lebih dalam, namun lapisan demi lapisan yang ada dari diri Whitey cukup untuk menghadirkan kekuatan tersendiri ketika disandingkan bersama karakter lainnya, misalnya interaksinya dengan tokoh John Connolly-nya Joel Edgerton sebagai agen FBI korup nan ambisius. Edgerton bermain bagus di sini, mampu mengimbangi pesona kuat Depp dengan jatuh bangun kisah hidup dan ambisinya sendiri.

Jika kamu merasa Johnny Depp, Joel Edgerton dan Benedict Cumberbatch masih belum cukup memuaskanmu, Black Mass masih punya stok nama-nama besar lain untuk menjadikannya sebagai salah satu film dengan ensamble cast terbaik tahun ini. Ada Dakota Johnson  dengan peran kecil sebagai kekasih Whitey; Kevin Bacon sebagai supervisor FBI, Corey Stoll  yang baru-baru ini tampil sebagai The Yellow Jacket dalam Ant-Man memerankan sosok pahlawan yang sayang kurang banyak diekspos; Juno Temple dan Peter Sarsgaard yang tidak jauh-jauh dari karakter brengsek.

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top