Review

Beauty and the Beast (2017)

Kita tahu bahwa belakangan ini Disney tengah keranjingan mendaur ulang produk animasi lawas klasik mereka ke format live action. Dimulai dari Alice in Wonderland yang sukses besar secara komersial tujuh tahun silam hingga The Jungle Book setahun lewat yang meraih pujian kritisi hingga memenangi Oscar, kini Disney melempar remake salah satu produk terbaik mereka di masa lalu. Beauty and the Beast yang menjadi animasi pertama yang meraih nominasi Film Terbaik di ajang Oscar 25 tahun yang lalu, dan kini aktris yang lekat dengan peran Hermione di waralaba Harry Potter, Emma Watson didaulat mengisi peran Belle, bersama aktor Inggris yang sekarang ramai kebanjiran proyek di Hollywood, Dan Stevens, keduanya membawakan dua peran utama yang menjadi judulnya di bawah arahan sineas Bill Condon (Dreamgirls, Breaking Dawn Part I & II).

Kisahnya sendiri, masih setia dengan pakem animasinya, bahkan tak begitu banyak perbedaan signifikan, masih berkutat dengan Belle (Watson) gadis desa yang gemar membaca (serta menyanyi dan menari) dan harus bertukar posisi dengan ayahnya, Maurice (Kevin Kline) menjadi tawanan mahluk berwajah bison, Beast (Stevens) di kastilnya yang dingin dan terkutuk. Laiknya kisah tawanan dan penawannya kebanyakan, Stockholm Syndrome pun terjadi. Beast ternyata tak seburuk penampilannya dan Belle yang baik hati dan rupawan lantas memikat hatinya. Belle lantas harus membalas cintanya agar kutukan yang menimpa Beast dan seluruh penghuni kastil tersebut dapat dilepaskan, sebelum kelopak mawar ajaib terakhir jatuh dan menandai akhir kehidupan mereka semua.

Ah, film Beauty and the Beast rilisan warsa 1991 memang sulit dilupa. Memadukan teknik animasi klasik 2 dimensi dan sentuhan CGI, film ini juga sukses memberikan karakter simpatik nan kikuk pada karakter Beast dan karakter putri Dinsey idaman pada Belle. Dihiasi tembang memikat dari duet Celine Dion dan Peabo Bryson, Beauty and the Beast memberikan sajian hangat yang memiliki hati untuk dikenang penontonnya. Lantas apakah Disney perlu membuat versi anyar non animasinya ini? Didukung barisan nama pemain asal Inggris yang untungnya bermain mengkilap, Beauty and the Beast mungkin tersendat oleh skripnya yang kelewat setia pada versi animasinya. Berbeda dengan Alice in Wonderland atau Maleficent yang mengambil sudut pandang berbeda dalam versi live action-nya, Beauty and the Beast mungkin bisa dibandingkan dengan Cinderella atau The Jungle Book versi mutakhir, yang sama-sama masih mengikuti pola skenario animasinya. Namun dibandingkan dengan keduanya juga, Beauty and the Beast mengalami masalah di guliran plotnya yang tersendat pada pengembangan hubungan Belle dan Beast. Chemistry Watson dan Stevens (yang fisiknya dilapisi CGI) mungkin masih lumayan, tapi naskah tulisan Stephen Chbosky (The Perk of Being a Wallflower) dan Evan Spiliotopolous (The Huntsman : Winter’s War) tak memberi sentuhan meyakinkan pada sisi romansa kedua sosok utamanya. Sehingga terasa instan dan dipaksakan.

Untungnya di luar dari itu, Beauty and the Beast terbaru ini masih memiliki magis ala Disney. Kita masih terpukau oleh gelaran musikal dan tari-tarian karakter-karakter filmnya. Aksi Lumiere (Ewan MacGregor), adegan pembuka Belle dan warga kampungnya Villeneuve, nyanyian narsisme Gaston (Luke Evans) dan LeFou (Josh Gad), hingga adegan ikonik dansa Belle dan Beast masih memikat ketika tampil di layar. Condon beruntung memiliki pelakon yang mayoritas berasal dari Britania Raya. Selain Watson dan Stevens yang kemampuan vokalnya di atas rata-rata, tampilan pelakon pendukungnya terasa menyenangkan dan memberikan warna pada filmnya, tak sekedar karikatur belaka. Emma Thompson, McGregor, Ian McKellen, Gugu Mbatha-Raw, Audra McDonald, Stanley Tucci, sampai Kevin Kline semuanya memberikan penampilan yang kuat dan melengkapi satu sama lain. Jangan lupakan pula sisipan bromance Gad dan Evans yang cukup kontroversial namun sebenarnya menambah keragaman pada alurnya.

Dihiasi oleh musik-musik menyenangkan gubahan komposer legendaris Disney, Alan Menken, Beauty and the Beast adalah sajian mewah yang menggugah mata, menghibur hati dan masih meninggalkan kesan pada sentuhan khas Disney yang kuat pada filmnya. Pun masih terasa kurang segar karena repetitif dari versi animasi klasiknya, Beauty and the Beast adalah sajian keluarga yang hangat dan sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Beauty and the Beast (2017)
7.0 Movienthusiast's
Summary
Masih mengulang alur animasi klasiknya mentah-mentah, untungnya Beauty and the Beast versi anyar ini masih memiliki sentuhan magis Disney yang menggugah sanubari.
CERITA6
PENYUTRADARAAN7
AKTING7
VISUAL7.5
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top