Features

Backframe – The Iron Giant (1999)

Sebelum film animasi computer-generated (CG) menjadi komoditas dominan di industri perfilman Hollywood pada dekade terakhir abad ke-20, apakah yang selalu dielu-elukan sebagai karya animasi tradisional (dua dimensi/2D) terbaik? Beauty and the Beast? Tarzan? The Lion King? Apapun jawaban Anda, saya yakin mayoritas berpihak kepada Disney. Saya tidak ingin menyanggah opini publik tersebut, karena film-film produksi Disney yang telah disebutkan tadi memang adalah pencapaian animasi tradisional yang mengagumkan. Adapun hal yang saya cemaskan adalah dominasi Disney di kategori animasi pada periode tersebut. Perhatian dan rekognisi publik terhadap ‘animasi tradisional era 90-an terbaik’ sudah lama terkonsentrasi pada film-film rilisan Disney. Maka tidak heranlah kalau jarang ada yang mengetahui (generasi muda 2000-an pada khususnya) bahwa Brad Bird, sutradara film-film animasi CG Disney macam The Incredibles dan Ratatouille dan instalmen ke-empat franchise Mission:Impossible, ternyata pernah membuat sebuah mahakarya animasi 2D pada tahun 1999. Film animasi tersebut adalah The Iron Giant – hasil produksi Warner Bros.

Mengapa saya menyebut The Iron Giant sebagai sebuah mahakarya? Apakah ini upaya saya untuk menghindar dari opini mainstream tentang film animasi 2D terbaik era 90-an, sampai akhirnya saya sembarangan memilih film animasi tidak terkenal dan langsung mencap-nya sebagai sebuah masterpiece?

Hardly.

The Iron Giant mengisahkan petualangan seorang anak penuh semangat bernama Hogarth Hughes (Eli Marienthal) dengan sesosok robot besi raksasa (Vin Diesel) yang berlatarbelakang negara bagian Maine, Amerika Serikat pada periode Perang Dingin – tahun 1957. The Iron Giant sempat dianggap sebagai karya derivatif yang hanya menjiplak plot points film Steven Spielberg yang telah lebih dulu menjadi benchmark genre family adventure, E.T., walaupun sesungguhnya The Iron Giant menggunakan buku The Iron Man (terbit tahun 1968) sebagai bahan cerita. Alhasil film animasi Brad Bird ini pun menjadi film yang kalah bersaing di tangga box-office tahun 1999. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang mulai menyadari bahwa The Iron Giant adalah sebuah karya animasi modern yang sungguh luar biasa. Film ini juga dulu pernah ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta lokal, tepat saat musim liburan sekolah. Sayang, perhatian lokal terhadap The Iron Giant seakan meredup setelah kita sempat turut terkena gempuran film-film animasi CG yang sampai sekarang pun masih menjadi salah satu kompetitor tertangguh di tangga box-office. Saya sempat merasa senang setelah mengetahui bahwa The Iron Giant kembali ditayangkan di LA Animation Festival pada tahun 2012 silam. Namun, tetap saja, kendati begitu banyaknya dukungan fans Iron Giant dan status ‘great animation classic’, film tersebut tetap tidak dapat menembus kategori ‘dikenal secara umum’.

Apa yang membuat The Iron Giant begitu menarik adalah fakta bahwa film tersebut merupakan salah satu dari segelintir film-film animasi 2D terakhir pada dekade terakhir abad ke-20 pula. The Iron Giant seolah menjadi transisi kultural dari suatu periode ke periode lain – yang mana dalam hal ini adalah sebuah millennium baru. Maka pantaslah The Iron Giant mengambil salah satu tema retro paling signifikan secara historis maupun kultural pada pertengahan abad ke-20 – Perang Dingin. Perang ideologi antara dua kubu terkuat di dunia saat itu ternyata menjadi elemen aestetik yang tepat, bahkan bagi sebuah film yang ditargetkan untuk konsumsi keluarga seperti The Iron Giant. The Iron Giant menjadi sebuah period piece animasi yang, sampai saat ini, masih terasa amat relevan. Banyak line-line dialog yang seolah menjadi komentar sosial tentang bagaimana publik Amerika di tengah Perang Dingin bereaksi terhadap kedatangan benda asing di sekitar tempat tinggal mereka. Karakter Iron Giant sendiri sering diperdebatkan asal-usulnya di dalam film – tentu saja, dilengkapi dengan teori-teori “the Russians/Chinese are the ones who made it!” khas Perang Dingin. Tokoh cilik Hogarth Hughes yang ceria dan penuh semangat seakan menjadi pernyataan bahwa kembali menjadi sosok muda periang yang selalu melihat kebaikan di balik segala hal adalah cara umat manusia dapat mengambil kembali rasa ‘kemanusiaan’ yang hilang direnggut oleh rentetan peperangan yang kerap terjadi dari awal era Perang Dunia sampai pada era Perang Dingin. Hal ini menjadi amat relevan di era baru ini yang tidak kalah paranoid-nya. Mulai dari serangan 11 September, War on Terrorism dan aksi-aksi teror lainnya, The Iron Giant kembali menjadi pengingat moral yang realistis. Disinilah letak keunikan The Iron Giant – di kala film-film animasi lain berfungsi sebagai penyampai pesan moral yang terkesan ‘too good to be true’, The Iron Giant memilih jalur yang lebih realistis dengan metode penyampaian yang mengena.

Di balik seluruh kesederhanaan,  kelembutan dan keseruan The Iron Giant, karya terbaik Brad Bird ini menyimpan peninggalan moralitas masa-masa emas film kartun. Berbicara secara egois, saya sangat ingin sekali agar generasi muda kita di zaman ini (anak-anak pada khususnya) dapat menikmati The Iron Giant. Namun, saya sadar, bahwa paksaan tidak akan membawa kita ke mana-mana – layaknya sebuah propaganda payah yang gagal menarik simpati publik. Seperti Hogarth Hughes, saya akan mencoba untuk bersikap optimis terhadap preferensi anak-anak zaman sekarang terhadap tontonan yang kerap disajikan stasiun-stasiun televisi lokal dan berharap agar karya-karya hebat semacam The Iron Giant dapat kembali hadir dan dikenalkan kepada mereka.

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top