Review

The Autopsy of Jane Doe (2016)

Judulnya sedikit banyak sudah menjelaskan cerita yang ingin ditawarkan film terbaru garapan sutradara André Øvredal yang sebelumnya terkenal dengan mocku horor Trollhunter-nya yang keren itu. Cerita dari kamar mayat milik keluarga Tilden yang suatu hari kedatangan ‘penghuni’ baru; sesosok mayat perempuan cantik dari sebuah kasus pembunuhan misterius. Jane Doe mereka kemudian mereka menyebutnya, sebuah nama julukan yang biasa diberikan kepada mayat perempuan tak dikenal atau tanpa identitas (Jon Doe untuk laki-laki). Sepintas, tidak ada keanehan yang sampai harus menarik perhatian pasangan ayah-anak Tommy dan Austin Tilden (Brian Cox & Emile Hirsch), kecuali memang dari luar jenazah itu masih sangat bersih dan mulus untuk ukuran korban pembunuhan dan hal ini yang kemudian membuat . Namun dalam pemeriksaan lebih lanjut, keduanya menemukan kejanggalan demi kejanggalan yang tak masuk akal yang kemudian berujung pada sebuah kejutan yang tak pernah mereka duga sebelumnya.

The Autopsy of Jane Doe datang tanpa peringatan atau aba-aba berlebihan sebelumnya, dan saya senang dengan kejutan ini karena mendapati bahwa garapan terbaru Øvredal di luar dugaan mampu menjadi tontonan yang sangat menyenangkan. Memulainya dengan aroma ala serial CSI yang di mix dengan subgenre misteri dan detektif, dari TKP pembunuhan sampai ruang bawah tanah keluarga Tilden di mana si cantik Jane Doe diperiksa dengan segala prosedur ilmiahnya bersama segala istilah-istilah forensik dan biologi anatominya, tidak ada tanda-tanda bahwa The Autospy of Jane Doe akan menjadi sebuah sajian horor mengerikan kecuali memang set rumah Tilden, termasuk ruang bawah tanahnya memang terlihat seram. Menarik memang melihat momen autopsi di film-film thriller/horror, ada sensasi yang membuatmu bergidik jijik sekaligus menggelitik rasa penasaranmu ketika melihat mayat diperiksa dan dibedah untuk keperluan penyelidikan dan di sini kamu akan mendapatkan semua kesenangan itu di sepanjang 99 menit durasinya.

Narasi garapan Ian Goldberg dan Richard Naing sukses menghadirkan sisi misteri yang kuat, setiap sayatan pada tubuh mulus Jane Doe memuculkan petunjuk baru dan juga mampu membuatmu dahimu berkerut yang dilanjutkan dengan segudang pertanyaan demi pertanyaan yang memohon untuk dijawab, siapa sebenarnya Jane Doe? Mengapa banyak kejanggalan pada tubuhnya? Sementara penyutradaraan Øvredal mampu menangkap semua momennya dengan sangat baik, bagaimana ia menciptakan sebuah atmosfer horor “rumah hantu” pekat lengkap dengan set klaustrofobik menyesakkan, pencahayaan minim serta jump scare yang efektif untuk menggedor jantungmu.

Namun sebenarnya bagian terbaik The Autopsy of Jane Doe selain pada proses eksaminasi jenazah yang menarik sekaligus menjijikkan bagi sebagian orang juga pada penampilan gemilang dua pemain utamanya, Cox dan Hirch. Ya, kombinasi senior-junior ini memberikan sebuah chemistry solid sebagai pasangan ayah-anak yang meyakinkan. Kita bisa melihat bagaimana mereka berdebat, bagaimana mereka saling curhat satu sama lain dengan sangat nyaman, membuat kita peduli dengan dinamika mereka dan itu penting dalam memperkuat narasinya.

The Autopsy of Jane Doe (2016)
7.7 Movienthusiast's
Summary
Sajian horor orsinil yang tidak hanya pintar bermain di ranah forensik jenazah namun juga mampu memberikan rentetan kejutan dan teror mengerikan yang didukung dengan chemistry solid dua pemain utamannya.
CERITA7.7
PENYUTRADARAAN7.9
AKTING7.5
VISUAL7.6

 

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top