Review

Alien : Covenant (2017)

Selang lima tahun dari kisah ambisius Prometheus, Sir Ridley Scott kembali mengutak-atik waralaba kreasinya 38 tahun silam. Melanjutkan alur satu dekade usai nasib naas yang menimpa kru Prometheus, kini Scott menyoroti nasib kru Covenant, pesawat ulang-alik yang membawa ribuan koloni yang siap memulai peradaban baru di planet nun jauh di luar tata surya Bima Sakti.

Terbangun akibat ledakan bintang yang sempat mengganggu sistem pesawat ulang alik, belasan kru Covenant lantas menerima sinyal antah berantah dari sebuah planet yang bahkan tidak terpetakan dalam sistem navigasi mereka. Mengacuhkan keberatan Daniels (Katherine Waterston), kapten sementara Covenant, Oram (Billy Crudup) tetap berkeras untuk menyelidiki asal muasal sinyal tersebut. Menjelajahi planet misterius yang kita semua tahu akan berakhir tragis bagi seluruh awak Covenant.

Setelah menghabiskan waktu yang lumayan lama untuk meneruskan kisah Prometheus, Scott sayangnya tak memberikan banyak pengembangan berarti dalam naskahnya. Alien : Covenant yang naskahnya ditulis oleh John Logan (Hugo, The Aviator) dan Dante Harper ini jatuh tak lebih sebagai pengulangan seri-seri Alien sebelumnya. Sekelompok kru menjelajahi planet asing yang membawa malapetaka maut yang dipenuhi darah. Bahkan dibanding dengan Prometheus sebagai referensi dimana Alien : Covenant memiliki gaya serupa, kisah di dalamnya juga cenderung kurang megah dan sekompleks pendahulunya tersebut. Bagusnya di luar alur keseluruhan dari Alien : Covenant yang tak lebih dari perpanjangan plot Prometheus ini adalah detil-detil kecil berujung besar  yang menyertai dua karakter android, Walter dan David. Michael Fassbender yang kembali didapuk tak hanya membawakan peran David tapi juga android baru yang lebih naif, Walter. Tak mudah menyajikan dua karakter yang secara fisik serupa tapi menarik secara karakteristik. Dan Scott berhasil menyuguhkan dua sosok kuat tersebut yang bagai yin dan yang bahkan berinteraksi dalam adegan ganjil semi-erotis nan mencengangkan. Ah, permainan sajak Ozymandias hingga referensi dari Paradise Lost-nya John Milton begitu brilian disisipkan dalam dialog Walter dan David. Sayangnya, sebegitu kuatnya karakter Fassbender cukup menyamarkan karakter lainnya. Termasuk Waterston yang mulanya digadang-gadang sebagai Ripley-nya Covenant ini. Bahkan dibanding Noomi Rapace, Waterston terlihat tak lebih dari pemenuhan tradisi waralaba Alien yang kerap memasang sosok wanita tangguh dan perkasa.

Tapi, sebagai tontonan hiburan, Alien : Covenant masih menawarkan hiburan khas Alien yang mencekam, penuh darah, dan cukup filosofis. Memang dibandingkan dengan film serupa yang rilis di awal tahun ini, Life, Alien : Covenant jelas terlihat lebih sederhana dalam menyajikan aneka pembunuhan sadisnya (bahkan satu adegannya ibarat mencomot dari film-film slasher remaja). Alurnya juga tak memberikan banyak pencerahan selain menutup enigma dari Prometheus. Tapi, Scott masih tak kehilangan sentuhannya dalam menyajikan macabre Xenomorph kesayangannya ini. Walaupun pada akhirnya, Alien : Covenant ini tak lebih sebuah penghubung narasi Prometheus dan sebuah sekuel yang bisa jadi bercerita lebih besar dan rumit serta menjembatani kisah-kisah pra-Alien saat ini dengan Alien rilisan tahun 1979.

Alien : Covenant (2017)
6.0 Movienthusiast's
Summary
Masih setia dengan pakem film-film Alien yang kelam dan sadis, Alien : Covenant hanyalah sebuah proyek sederhana dari Ridley Scott yang menjembatani prekuelnya, Prometheus yang ambisius dengan sebuah sekuelnya nanti untuk masuk ke dalam hikayat Ellen Ripley di kemudian hari. Juga menyajikan performa brilian dari aktor Michael Fassbender.
CERITA5
PENYUTRADARAAN6.5
AKTING7
VISUAL7
Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top