Cinephile

8 Sutradara Yang Dipenjara, Diasingkan atau Dibunuh Karena Filmnya

Tak sedikit dari pembuat film/sutradara mengorbankan dirinya untuk mencapai hasil terbaik. Banyak alasan yang melatari pembunuhan, pengucilan dan pengurungan sutradara-sutradara ini, baik karena perbenturan idealisme sang sutradara dengan kondisi politik saat itu, perfeksionisme hingga aksi berani diluar akal sehat. Agaknya fakta-fakta ini penting untuk kita ketahui untuk memberi penilaian lebih mendalam tentang film-film mereka. Siapa dan kapan akan diurutkan berdasarkan tahun kejadian:

 

1948 – 1982: Sergei Parajanov  

(Di-blacklist dari perfilman Soviet dan dijerat hukuman penjara)

Hampir seluruh filmnya dilarang tanpa ada kompromi karena dicurigai menggunakan simbolisme-simbolisme yang menentang ideologi negara saat itu. Pada tahun 1948 ia hingga tahun 1973 ia ditangkap atas kasus pemerkosaan, penyogokan dan homoseksualitas. Selama 20 tahun ia pengalami pengucilan di Soviet Union. Tekanan dari pemerintah dan kondisi kesehatannya benar-benar menjadi tantangan bagi Parajanov dalam berkarya. Selama masa-masa sulit tersebut ia banyak membuat miniatur, 800 gambar abstrak, kolase dan material artistik lain selain film yang dapat ia lakukan sendirian. Selain mendapat larangan, beberapa filmnya juga hilang, terpotong dan tak selesai. Perlakuan yang diterima Parajanov mendapat kritikan di dunia perfilman, terlebih karena film-filmnya termasuk film yang secara artistik sangat revolusioner seperti The Color of Pomegranates (1969).

1967: Hugh O’Connor  

(Dibunuh saat membuat film dokumenter US)

O’Connor tewas dalam proses penggarapan film US. Film yang didanai oleh United States Department of Commerce yang bertujuan menggambarkan kehidupan di Amerika. Pembuatan film ini berujung naas ketika pemilik properti dimana syuting film tersebut dilakukan (Letcher County, Kentucky) menembak sang sutradara. Dalam proses pengadilan, O’Connor tidak mendapat pembelaan dari warga setempat karena–yang sama seperti sang pemilik properti–tidak menyetujui pembuatan film didaerah itu. Warga tersinggung karena film tersebut hanya akan menyoroti sisi kumuh/miskin daerah setempat sebagai satu dari sekian titik dalam garis panjang sejarah Amerika melawan kemiskinan. Meski demikian, pelaku penembakan, Hobart Ison, tetap diberi hukuman 10 tahun penjara.

1975: Pier Paolo Pasolini

(Dibunuh secara tragis di Ostia, Italia)

Pasolini adalah sutradara, penyair, penulis, intelektual kontroversial asal Italia yang terkenal dengan pemikirannya tajam dan vulgar. Ia terbunuh secara tragis tanggal 2 November 1975. Siapa yang membunuh Pasolini belum sepenuhnya terungkap. Awal dugaan, Pasolini dibunuh oleh pemuda bernama Pino Pelosi yang mengatakan ‘terpaksa membunuh Pasolini’ karena dipaksa melakukan hal tak senonoh. Hampir tiga dekade setelah itu Pelosi mengaku bahwa ia dan keluarganya dipaksa untuk membunuh Pasolini oleh sindikat mafia Italia yang menyebut Pasolini sebagai ‘komunis kotor’. Pada tahun 2005, dugaan baru muncul bahwa Pasolini dibunuh oleh pencuri rol film Salo (1975). Hingga saat ini belum cukup bukti untuk memastikan siapa sebenarnya yang membunuh sutradara ini. Pasolini terkenal dengan karya terakhirnya, Salo: 120 Days of Sodom (1975), yang mengkritik fasisme dan korupsi dikalangan berkuasa setelah keruntuhan Mussolini. Meski secara substansi penting, film ini sangat vulgar baik secara seksual maupun non-seksual, berujung pada pelarangan diberbagai negara hingga saat ini.

2003: James Miller

(Tertembak saat pembuatan film dokumenter Death in Gaza (2004))

Selain sutradara, Miller juga seorang kameramen dan produser asal Wales. Ia adalah pembuat film yang sangat berani mengambil rekaman dari spot-spot paling berbahaya di belahan dunia. Ia pernah terlibat dalam reportase perang sipil di Algeria, Afghanistan, pembunuhan di Kosovo, dain lainnya. Karena hal itulah film-filmnya juga banyak meraih penghargaan. Kasus penembakan James Miller telah ditutup 10 tahun yang lalu, namun banyak pihak menyesali ketidakadilan dari pemerintah Israel karena anggota militer yang menembak sang sutradara tidak diadili.

2009: Christian Poveda

(Ditembak oleh geng brutal di El Savador)

Christian Poveda adalah sutradara film dokumenter asal Algeria yang terkenal dengan teknik Film Journalism-nya. La Vida Loca (2009) adalah film dokumenter terakhirnya tentang sebuah geng kriminal di El Savador. Akses eksklusifnya ke geng brutal di Amerika tersebut berakhir tragis dengan empat tembakan di kepalanya. Diduga ia ditembak oleh anggota salah satu dari dua geng yang ia filmkan, Mara 18. Mereka mencurigai Poveda mengingkari janjinya sebagai mediator antara geng tersebut dengan publik. Mereka juga tidak puas dengan hasil akhir film La Vida Loca, terlebih ketika film itu mendapat perhatian internasional dan tidak memihak pada kepentingan mediasi para geng. Selama 16 bulan proses pembuatan film, Poveda telah menyaksikan 7 aksi penembakan, 3 diantara korban-korban itu didokumentasikan secara mendalam dalam La Vida Loca.

2010: Jafar Panahi

(Hukuman penjara 6 tahun dan dilarang berkarya selama 20 tahun)

Sutradara kontroversial asal Iran ini terkenal dengan film The White Ballon (1995).  Film-filmnya sering dilarang di Iran namun sukses dikancah internasional. Pada tahun 2010, Panahi ditangkap bersama anak, istri dan 15 rekannya karena dianggap menyebarkan propaganda anti-pemerintah Iran. Ia dihukum 6 tahun kurungan yang dikenal dengan “execution of verdict” (hukuman penjara yang dapat dijatuhkan kapan saja), dilarang membuat film, menyutradarai, membuat naskah selama 20 tahun. Meski begitu, ia tetap aktif berkarya dengan melakukan berbagai cara menyelundupkan film-filmnya. Terbukti paska pelarangan ia masih menelurkan 3 judul film: This Is Not Film (2011), Closed Curtain (2013) dan Taxi (2015). Dua film pertama ia rekam diam-diam di apartemen dan rumah pribadinya selama menjalani house arrest.

2011: Marzieh Vafamehr

(Hukuman penjara dan cambukan)

Vafamehr adalah aktris dan sutradara asal Iran yang mendapat hukuman satu tahun penjara dan 90 kali cambukan karena bermain difilm terlarang, My Tehran For Sale (2009). Dalam film itu ia juga dinilai telah mencoreng perilaku muslimah dengan tampil tanpa hijab dan mencukur plontos rambutnya. Hukuman ini kemudian diringankan menjadi tiga bulan penjara dan hukuman cambuk dihapuskan. Namun ia dilarang untuk membuat film, berakting, terlibat dikegiatan kebudayaan dan dilarang keluar dari teritori Iran.

2015: Joe Gibbons

(Hukuman penjara)

Gibbons adalah sutradara film avant-garde yang terkenal dikalangan underground filmmaker di Boston dan mantan pengajar Video and Visual Arts di MIT. Kasus Joe Gibbons cukup unik dibanding sutradara-sutradara sebelumnya. Pada bulan Juli yang lalu, ia merampok sebuah bank di Chinatown yang olehnya disebut eksperimen seni untuk film terbarunya. Film-film Gibbons sebelumnya selalu mencoba menebas batasan antara seni dan kehidupan biasa. Salah satu filmnya yang berjudul The Confessions of A Sociopath (2005) menggambarkan bagaimana ia mencuri buku dan lukisan museum. Ia juga mengaku aksi-aksi nekatnya terinspirasi penyair Arthur Rimbaud dalam Letters of The Seer yang mengatakan bahwa seniman harus membiarkan dirinya tenggelam dengan hal apa saja, sekalipun hal buruk yang membahayakan dirinya demi sebuah pencapaian seni yang tinggi. Gibbons diberi hukuman penjara satu tahun.

 

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top