Review – The Woman in Black (2012)

Daily: I believe the most rational mind can play tricks in the dark.”

Tentu saja ada kehidupan lain setelah Harry Potter, bahkan seorang Daniel Radcliffe sendiri tahu itu. Ya, tidak pernah mudah melepaskan diri dari bayang-bayang kesuksesan masa lalu, tapi hidup terus berjalan dan The Woman in Black adalah pilihan Radcliffe untuk meneruskan kariernya tanpa embel-embel bekas luka dan tongkat sihir. Jadi apa yang dilakukannya di film terbarunya ini? Ia berperan sebagai Arthur Kipps, pengacara muda asal London yang ditugaskan atasannya untuk mengakusisi sebuah rumah besar  di Crythin Gifford, sebuah desa terpencil yang terletak di pantai barat Inggris. Sepertinya tidak ada yang menyukai kehadiran Kipps di sana, terlebih ketika masyarakat setempat mengetahui bahwa ayah satu anak itu hendak mengunjungi Eel Marsh House yang tidak lagi berpenghuni karena semua pemiliknya meninggal secara mengerikan. Konon ada kisah tentang wanita bergaun hitam yang menghuni rumah besar itu, wanita yang juga selama ini dianggap para penduduk Crythin Gifford sebagai penyebab banyaknya teror bunuh diri misterius yang menimpa anak-anak mereka.

Ya, harus diakui The Woman in Black menjadi sedikit lebih heboh berkat kehadiran Radcliffe, meskipun sayang sekali sebenarnya tidak banyak yang bisa dilakukannya di sini selain mondar-mandir ke sana kemari dengan memasang lebih banyak wajah kebingungan ketimbang ketakutan. Untuk filmnya sendiri, sutradara Eden Lake, James Watkins bisa dibilang cukup berhasil mereka ulang kembali horor milik Susan Hill langsung dari novelnya yang sudah berusia 29 tahun itu berkat naskah yang sudah digubah oleh Jane Goldman termasuk bagaimana ia membangun atmosfer creepy dan gelap Inggris pada era Raja Edward  bahkan sejak opening scene yang mengerikan itu sampai puncaknya retntetan teror di Eel Marsh House bergaya Victoria yang menakutkan itu.

Tapi pada akhirnya The Woman in Black tidak lebih dari sekedar horor rumah hantu konvensional yang tugas utamanya hanya satu, menakut-nakuti penontonnya sesering dengan trik-trik oldschool nya yang mungkin sudah sering kita lihat di puluhan film sejenis macam benda-benda bergerak sendiri, kelebatan bayangan, penampakan hantu wanita,  padahal jika mau, Watkins dan Goldman bisa saja memberi ruang lebih banyak untuk perkembangan karkater Radcliffe, toh, cerita Susan Hill sebenarnya sangat mendukung untuk memberikan penontonnya dengan kisah masa lalu karakter Arthur Kipps yang kelam atau menelusuri sedikit lebih jauh sejarah Eel Marsh House dan hantu bergaun hitam itu. Dan endingnya mungkin cheesy, tapi setidaknya itu memang cara yang pantas untuk mengakhiri ceritanya.

Jika anda mau memafkan segala kekliseannya, The Woman in Black bisa dibilang cukup menghibur untuk ukuran haunted house horror,  James Watkins sukses menghadirkan aroma kengerian yang kental dengan setting Inggris lama yang menyakinkan, walaupun disisi lain ia juga tampak berusaha terlalu keras menakut-nakuti penontonnya, bahkan Daniel Radcliffe pun tidak sampai terlalu mengecewakan tampil tanpa tongkat sihir dan sapu terbangnya kali ini, yang dibutuhkannya hanya sedikit emosi, ya, sedikit emosi untuk karakternya.

Rating: ★★★★★★★☆☆☆ 


Tentang Penulis

Hary Susanto Telah Menulis 288 artikel di Blog ini.

A Movienthusiast, movie reviewer, dvd collector, download geek, a -still trying to be good-husband and father from two great kids in the world

  1. Dari premisnya kayaknya serem yaaa. Jadi pengen nonton buat lucu lucuan. Hehe.

  2. ada twist ngak bro ?

Leave a Comment


[+] kaskus emoticons nartzco