Review – The Grey (2012)

Ottway: “We kill them one at a time. Tip the numbers. That’s what they’re going to us.”

Dalam The Grey, Liam Nesson ‘tersesat’ di Alaska yang dingin sebagai John Ottoway. Di tempat itu ia bekerja sebagai pembunuh bayaran, tapi tunggu dulu, bukan seperti bayangan anda, ia tidak membunuh manusia tapi hewan-hewan buas macam serigala atau beruang yang mengancam keselamatan para penambang minyak. Malam itu adalah malam terkahirnya dan juga para pekerja lain sebelum keesokan harinya kembali pulang ke kehangatan rumah mereka masing-masing. Tapi apa yang terjadi selanjutnya, nasib berkata lain, pesawat yang ditumpangi para pekerja minyak itu mengalami kecelakaan hebat akibat cuaca buruk sampai akhirnya terjatuh di pedalaman Alaska dan hanya menyisakan segelintir yang selamat, termasuk John. Dari sini Pria paruh baya yang baru saja kehilangan istrinya itu memimpin para pekerja yang tersisa, tidak hanya bertahan hidup melawan keganasan alam dengan suhu super dinginnya, tapi juga sekelompok serigala salju buas.

Awalnya The Grey sedikit banyak mengingatkan saya pada Alive (1993), survival drama yang diangkat dari kisah nyata tentang sekelompok pemain football Uruguay yang terdampar di tengah pengunungan Andes karena kecelakaan pesawat, tapi itu hanya sebentar sebelum sutradara The A-Team, Joe Carnahan menunjukan bahwa The Grey yang naskahnya diadaptasi dari cerita pendek Ghost Walker-nya Ian MacKenzie Jeffers (Jeffers juga menjadi penulis naskah The Grey bersama Carnahan) iniĀ  jauh lebih keras dan kejam daripada sekelompok pemuda-pemuda manja yang memakan daging manusia demi bertahan hidup, lihat saja misalnya, ketika karakter Nesson langsung blak-blakan mengatakan kepada salah satu pekerja yang sekarat paska jatuhnya pesawa bahwa ia akan segera mati dengan kondisinya seperti itu, tidak ada kata-kata penghiburan dari pria yang kehilangan imannya itu.

The Grey diisi oleh para pria-pria tangguh para penambang minyak, dan di sini musuhnya juga tidak kalah tangguh, ada alam liar Alaska yang terisolasi dengan suhu di bawah 10 derajat lengkap dengan badai saljunya sama sekali tidak menyisakan kehangatan selain api yang dibuat para karakternya dan untuk lebih memperburuk keadaan yang sudah buruk itu ada sekawanan serigala salju yang mulai membunuh mereka satu persatu. Ya, akan ada banyak kematian, tubuh terkoyak dan darah bercecaran disepanjang 117 menitnya yang bahkan membuat sang ahli serigala seperti John Ottoway harus merasakan ketakutan luar biasa.

Dan satu jam pertama menjadi bagian paling mencekam dari The Grey. Penontonnya hanya diberi sedikit waktu untuk bernafas sebelum kemudian kembali merasakan teror-teror dari serigala-serigala buas itu dan keadaan tidak bertambah baik setelahnya. Yang sedikit disayangkan adalah bagaimana Carnahan seperti terlalu mudah memberikan petunjuk mana-mana karakter yang akan menjadi korban selanjutnya, jadi jika anda jeli maka anda akan dengan mudah menebak siapa yang akan mati konyol berikutnya. Menginjak akhir film tensi mulai sedikit menurun dan sedikit membosankan. Dari sini Carnahan kemudian bermain-main dengan sisi spritual karakternya, siapa saja orang-orang yang mereka cintai dan bagaimana mereka memandang setiap kematian dengan cara yang berbeda melalui perbincangan panjang, sampai pada akhirnya The Grey ditutup dengan sebuah ending terbuka yang menggetarkan, membiarkan penontonnya untuk menentukan sendiri apa yang terjadi di ujung ceritanya itu.

Ini bukan sekedar thriller survival manusia vs. alam, tapi manusia vs. alam vs. serigala dan drama tentang para manusia-manusia yang bertahan hidup didalamnya melakukan perjalanan spiritual dalam mencari keimanan mereka. Naskahnya memang tidak istimewa, tapi bagaimana Joe Carnahan menyajikannya menjadi sebuah tontonan yang mencekam itulah yang menjadikan The Grey menarik. Dan Liam Nesson masih tampil garang-lembut seperti biasanya mempesona dengan karkaternya yang garang-lembutnya.

Rating: ★★★★★★★¾☆☆ 

 

Tentang Penulis

Hary Susanto Telah Menulis 288 artikel di Blog ini.

A Movienthusiast, movie reviewer, dvd collector, download geek, a -still trying to be good-husband and father from two great kids in the world

  1. Film2 Liam Neeson memang jaminan mutu, salah satu aktor favorit saya ….

  2. banyak yang bilang ..film ini katanya sangat tidak real a.k.a totally unrealistic..gmana menurut penulisnya neh… ? :mrgreen:

    • The Grey kan murni buat hiburan, selama hal-hal yang dimaksud tidak realistis masih dalam batas2 kewajaran buat saya fine2 aja, toh ini bukan dokumenter, kenapa harus terlalu serius. Mungkin kalau mau realistis begitu pesawatnya jatuh semua penumpangnya tewas, dan film selesai :p

Leave a Comment


[+] kaskus emoticons nartzco