
Top: “Never surrender, because if you do, it’s over”
Pernah mencicipi gurihnya cemilan rumput laut ‘Tao Kae Noi’ ? Jika ya, saya berani bertaruh hanya sedikit dari anda yang mungkin mengetahui siapa pemiliknya. Ya, Ia adalah Aithipat “Top Ittipat” Kulapongvanich, pemuda Thailand yang masih berusia 26 tahun? The Billionaire a.k.a Top Secret adalah biopik menarik yang akan menceritakan tentang perjuangan Top sebelum ia menjadi juragan snack rumput laut terlaris di Thailand yang berpenghasilan 800 juta Baht per tahun dan mempunyai 2.000 karyawan seperti saat ini, ketika ia masih seorang remaja tanggung 16 tahun pecandu game online yang beruntung bisa memiliki banyak uang karena hobinya itu. Tapi ketika sepak terjangnya di dunia maya itu dihentikan karena di anggap ilegal maka dari sinilah cerita tentang perjalanan Top menjadi milliuner baru saja di mulai.
Tentu saja berlebihan jika menganggap The Billionaire akan mengajarkan anda banyak hal untuk menjadi orang kaya lebih banyak dari apa yang kamu dapatkan di bangku kuliah. Ya, film garapan Songyos Sugmakanan (My Girl dan Phobia2) ini memang berbeda dari kebanyakan film Thailand lain yang akhir-akhir ini lebih banyak menjejeli penontonnya dengan komedi romantis. Ia inspiratif, penuh dengan petuah-petuah hebat tentang perjuangan tidak kenal menyerah dan sedikit informasi tentang bisnis dan bagaimana memasarkan daganganmu di supermarket sebesar 7-Eleven, tapi jujur saja buat saya ia hanya sebatas hiburan yang menyenangkan, tidak lebih, kecuali jika anda ingin mengajarkan prihal semangat tahan banting kepada anak, adik atau keponakan kecil anda. karena seungguhnya, meskipun terinspirasi dari kisah nyata yang hebat tapi kenyataannya hidup itu jauh lebih berat dari sekedar jatuh bangun menjadi penjual kacang atau rumput laut yang didramatisir, dibutuhkan perjuangan lebih besar dari kata-kata pantang menyerah, bahkan kalau perlu tidak sedikit akal bulus, koneksi kuat dan keberuntungan seperti yang sudah dilakukan David Fincher dengan Social Network-nya dan hal-hal seperti itu hampir tidak kita temui di sini, membuat The Billionaire terasa bak sebuah cinderlla story yang too good to be true.
Tapi cukuplah berdebat soal apakah ceritanya terlalu berlebihan atau tidak, yang pasti The Billionaire sudah menghadirkan sebuah narasi menarik di sepanjang kurang lebih 2 jam durasinya. Sangat mengasyikan melihat semuanya berfokus pada perjuangan Top yang keras kepala itu mengejar impiannya untuk menjadi pebisnis handal sembari menolong kedua orangtuanya dengan balutan penyutradaraan apik Sugmakanan dengan gaya alur majur mundur dan elemen komedi yang menarik, terlebih mengingat Thailand memiliki kedekatan dengan Indonesia soal kehidupan bermasyarakat dan berbisnis, termasuk bagaimana aktor muda Patchara Chirathivat sukses mencuri semua perhatian penontonnya. Penampilannya jelas lebih baik dari yang sudah dibuatnya di Suckseed.
So, The Billionaire, sebuah biopik yang menyenangkan dan menyegarkan untuk perfilman Thailand secara keseluruhan. Mungkin terlalu banyak dramatisasi, tapi toh ini hanya sebuah film hiburan. Ya, mudah-mudahan saja Sugmakanan tidak malah mengilhami para penonton mudanya untuk mengorbankan pendidikan dan uang orang tua para penonton mudanya untuk sesuatu yang belum tentu mereka bisa dapatkan hanya dengan modal semangat pantang menyerah saja.
Rating: 














Baru nonton film ini kemaren, jadi bikin pengen punya usaha sendiri, pesan semangat pantang menyerahnya ngena banget sih klo menurut saya, maklum anak kuliahan juga sih
. Tapi klo dibilang film ini bisa” mengilhami kita mengorbankan pendidikan kurang setuju sih, buat saya disitu secara ga langsung ditunjukkan juga klo kita juga butuh pendidikan/ilmu buat menjalankan bisnis itu sendiri ya kaya strategi pemasaran yg harus di pakai, riset produk, dll.
pertanyaan saya, di bagian mana pendidikan berpengaruh langsung buat bisnis TOP? karena riset dan strategi yang dilakukannnya itu semua secara otodidak, sama sekali tidak didapatnya dari bangku pendidikan. Dan pas pada akhirnya ia mau mendegarkan pelajarannya melalui tape recorder salah satunya tentang strategi bisnis rimba pun ia juga salah mengerti, coba saja ia mau lebih rajin kuliah, mungkin ia lebih cepat berhasil
.
“Dan pas pada akhirnya ia mau mendegarkan pelajarannya melalui tape recorder salah satunya tentang strategi bisnis rimba pun ia juga salah mengerti, coba saja ia mau lebih rajin kuliah, mungkin ia lebih cepat berhasil”
nah itu, buat saya sendiri makna pendidikan itu penting ya dapat dari situ, tapi ya balik lagi sih tiap orang kn pada akhirnya punya pendapat mengartikan sebuah film
apalagi kn arti pendidikan ya kuliah gtu misalkan ga hanya soal ilmu tapi juga proses pendewasaan, itu yg ga di dapat TOP karena dia ga mau sekolah pada akhirnya kn cenderung ngambil keputusan buru-buru, ga pikir panjang, gampang ditipu, menganggap semuanya mudah
Wah kayaknya langsung review sehabis subtitlenya yg 100%nya di share.
Indonesia coba bikin film kaya gini misalnya pengusaha c*huba yg tetep eksis dari gw sd. atau keripik ma*icih di bikin film hahaha
ih, tau aja deh
maklum di mari gak ada blitz
sayang indo masih belum punya pemuda fenomenal yang pantas dibuat filmnya. c*huba dan Ma*cih juga belum sampe seheboh ‘Tao Kae Noi’
Pengorbanan si TOP tidak sia2… Mau tanya, si Top dapat pinjaman dari mana yah untuk membeli ruko yang dijadikan tempat pabrik Tao Kae Noi ?
Salam kenal,
nah itu juga saya mau nanya sama yang udah nonton, masa dari jual mobil aja cukup nyewa ruko dan nyari pegawai?
salam kenal juga
:
er.. kalo gak salah itu ruko bokapnya yang masih dlm status sitaan bank bukan?
#nimbrung..
masa sih? kalo iya sepertinya agak maksa secara muncul tiba2 gitu tuh ruko
Most Romantic Movies part 2 nya kog gak ada ya bro ?
ada kok, ntar rencananya tanggal 14 baru di publish he he he
iya, kalo rukonya peninggalan bapaknya, soalnya pas pamannya masuk tu ruko dia bilang “udah lama ga kemari”
yang gua bingung, dari mana dia bisa bikin pabrik sama ngegaji karyawannya, atau karyawannya belum di gaji? kan jangka waktu yang di kasih 7-11 tuh cuman sebulan, jadi belom sempet gajian
mungkin barang-barang yang di rumah bapaknya di jual semua kali ya
kalo kata gua mah kita nonton film itu ga utuh, karena hanya mengandalkan subtittle aja, banyak detail yang kelewat sebenernya kayanya
dan gua bilang, kuliah atau ga kuliah itu cuma pilihan kok
pendidikan emang perlu, tapi ga harus dari kuliah?
gua setuju kalo kuliah itu untuk nambah pengalaman, tapi ga setuju kalo buat nyari kerja
tapi gua ga muna sih jaman sekarang kalo mau kerja yang ditanya tuh ijazahnya hehe