Review – My Week with Marilyn (2011)

Marilyn Monroe: ” Why do the people I love always leave me?

Tidak perlu lahir pada era 50an untuk mengenal sosok aktris legendaris ini. Ya, Marilyn Monroe itu abadi, sosok kontroversialnya yang sering diidentikan sebagai simbol sebuah keseksian sekaligus kerapuhan abadi itu sudah banyak memberikan inspirasi dan tidak akan pernah habis-habisnya dibicarakan dunia meskipun raga cantiknya telah tiada sejak 40 tahun lalu. Dan My Week With Marilyn, biopik arahan Simon Curtis yang naskahnya diadaptasi Adrian Hodges  dari dua buku milik Colin Clark ini mencoba menghadirkan cerita lain Monroe (Michelle Williams) sewaktu ia melakukan proses syuting “The Prince and the Showgirl” di London bersama lawan mainnya, Sir Laurence Olivier (Kenneth Branagh) aktor sekaligus sineas kawakan Inggris, termasuk kisah romansa satu minggunya dengan Colin Clark (Eddie Redmayne) sendiri yang sewaktu itu masih berusia 23 tahun dan bekerja sebagai asisten ketiga sutradara.

Ya, seperti judulnya ini memang cerita tentang superstar Marilyn Monroe, tidak keselurhan hidupnya memang, hanya sebagian kecil harinya di Inggris pada musim panas 1956. Tidak ada plot yang benar-benar kuat di sepanjang kurang lebih 100 menit. Meskipun dinarasikan dari pengalaman dan sudut pandang Colin Clark di sepanjang film, tapi otomatis Clark hanya seperti sebuah satelit kecil yang setia mengelilingi sebuah bintang besar dan ia sendiri tidak pernah bisa benar-benar mencapainya. My Week With Marilyn mungkin seklias terlihat seperti behind the scene dari “The Prince and the Showgirl” yang terlupakan itu, tapi perlahanan Simon Curtis membawa kita untuk lebih dekat mengenal Monroe, melihat bagaimana sebenarnya pemilik nama asli Norma Jeane di balik fisiknya yang mempesona dengan kelakukan yang seenaknya sendiri di kala syuting itu ternyata hanya seorang wanita 30 tahun yang rapuh, bingung dan kesepian, serta bagaimana kepopulernnya yang luar biasa sudah memakan kebahagiannnya hidup-hidup, termasuk kehidupan percintaannya.

Tentu saja dibutuhkan aktris yang kuat untuk memerankan karakter Monroe yang tidak hanya mempesona, namun juga kompleks dan Michelle Williams telah melakukan tugasnya itu dengan nyaris sempurna. Mungkin saja Williams tidak terlalu mirip Monroe secara fisik, tapi siapa memang yang bisa? Dengan performa akting sehebat itu, Williams sudah sukses menghidupkan kembali sang bintang dari kuburnya, lebih dari sekedar gadis pirang berkulit putih pucat dengan lipstik merah tebal menghiasi bibirnya,  lihat bagaimana ia berbicara, gestur tubuhnya, keseksian dan kegenitannya, bahkan tawanya pun sudah lebih dari cukup untuk menghilangan segala ketidakmiripan fisik yang ada. Williams ada bintangnya di sini, sukses membuat penonton laki-lakinya bertekuk lutut, tapi ia tidak sendiri, ada Kenneth Branagh yang juga tampil brilian sebagai Sir Laurence Olivier, aktor sekaligus sutradara besar Inggris yang memiliki hubungan benci-kangum dengan Marilyn Monroe.

Catatan yang ditulis Colin Clark dalam The Prince, The Showgirl and Me and My Week with Marilyn mungkin hanya merangkum seminggu pengalaman tak terlupakannya bersama sang mega bintang, tapi ada begitu banyak kedekatan dan keintiman yang ditawarkan Simon Curtis dengan Marilyn Monroe, melihat bagaimana ia berakting, bagaimana ia membuat Colin Clark jatuh cinta setengan mati dengannya. Ya, saya mungkin bukan fans berat Marilyn, tapi melihat bagaimana ia dalam wujud Michelle Williams tampil begitu mempesona, sulit rasanya tidak cemburu ketika ia mengucapkan “I love you” pada Colin dan kemudian menciumnya, tidak peduli apakah ia benar-benar tulus melakukannya atau tidak.

Rating: ★★★★★★★¾☆☆ 

Tentang Penulis

Hary Susanto Telah Menulis 287 artikel di Blog ini.

A Movienthusiast, movie reviewer, dvd collector, download geek, a -still trying to be good-husband and father from two great kids in the world

Leave a Comment


[+] kaskus emoticons nartzco