
Kenneth: ” You shouldn’t think of her as being a woman. That would be your first mistake “
Lupakan Salt jika anda memang mengharapkan film terbaru Steven Soderbergh ini akan tampil sehingar-bingar action thriller yang dibintangi Angelina Jolie itu karena meskipun mengusung konsep sama, sama-sama menghadirkan sosok heroin yang terkhianati dalam sebuah konspirasi tingkat tinggi dan kemudian melakukan pembalasan yang ganas, Haywire adalah tipe film aksi yang sama sekali berbeda dan mungkin membuat kebanyakan penontonnya menyesal sudah menontonnya, termasuk saya atau mungkin anda salah satunya.
Saya bukan fans Steven Soderbergh meskipun menjadikan Erin Brockovich sebagai salah satu favorit saya sepanjang masa, tapi ketika ia bisa meremake Ocean’s Eleven klasik dan kemudian berlanjut ke dua sekuelnya sekeren itu tentu saja saya punya ekspektasi sedikit tinggi terhadap Haywire, film aksi pertamanya. Dan tentu saja saya salah -ingat saya bukan fans Soderbergh, karena satu-satunya aroma yang tertinggal dari trilogi pencurian itu hanya scoring jazz bikinan David Holmes. Ya, Haywire itu seperti ajang Soderbergh bersenang-senang melakukan sebuah ekperimen art house, khususnya pada sisi teknisnya yang bisa jadi menjadi kekuatan terbesar di sini tanpa meninggalkan ciri khasnya seperti pengunaan tone warna berbeda-beda di setiap scene layakanya yang tersaji dalam Traffic, jumps-cut, flash back dan tentu saja kumpulan bintang-bintang kelas satu, lihat saja deretan nama-nama besar dari Michael Douglas, Antonio Banderas, Ewan McGregor, Bill Paxton, Michael Fassbender sampai Channing Tatum.
Tapi percobaan yang dilakukan Soderbergh bak dua sisi mata uang yang berbeda, di satu sisi ia mampu menghadirkan sebuah film aksi yang unik, atau saya menyebutnya art house dengan segala editing dan momen-momen ‘sunyi’ tanpa musik latar termasuk pada saat adegan baku hantam sedang berlangsung Ya, efeknya memang luar biasa, membuat setiap pertarungan tangan kosong yang dilakukan Gina Carano terasa begitu natural dan berkelas apalagi kebanyakan datang secara mengejutkan. Namun di sisi lain Haywire juga berpotensi besar menjemukan penontonnya, karena ia terlalu datar untuk ukuran sebuah fim aksi, sedatar ekspresi Channing Tatum, repetitif, tanpa ada momen yang benar-benar mencapai puncak di 90 menitnya, termasuk naskah garapan Lem Dobbs yang tidak menghadirkan sesuatu yang spesial, dan dialog-dialognya terkesan berputar-putar tidak jelas, padahal jujur saja Haywire punya cerita yang simpel, terlalu simpel malah hanya bagaimana Soderbergh mengemasnyalah yang membuat Haywire tampak berat dan kompleks.

Tentu saja Gina Carano yang kemudian paling mencuri perhatian. Ia seperti Bourne versi wanita, sangat tangguh dengan kemampuan bela diri mematikannya dengan koreografi yang hampir semuanya di tata oleh aktris 30 tahuh ini. Lihat saja bagaimana Carano menaklukan Channing Tatum di awal-awal film, berlari dan melompat dari kejaran garda Dublin di atap-atap bangunan, menjepit leher Fassbendar dengan selangkangannya di sebuah hotel dalam salah satu pertarungan tangan kosong hebat, atau membuat McGregor babak belur di akhir film dalam balutan setting pantai plus matahari terbenam yang artsy itu. Tapi Carano bukan tipe aktris yang memiliki pesona besar, ya, ia cantik, seksi dan tangguh, tapi sayang aktingnya datar, sedatar (lagi-lagi) Channing Tatum, bahkan Carano terlihat payah disaat harus berdialog sedikit panjang.
Saya bukan anti art house, hanya saja eksperimen yang dilakukan Soderbergh di dengan film aksi terbarunya ini terasa ‘berlebihan’ dan tidak bekerja dengan baik, khususnya terhadap penonton-penonton awam yang berharap bahwa Haywire akan memberikan sebuah tontonan action penuh lompatan adrenalin, ledakan dan aksi-aksi spektakuler. Ya, cukup mengecewakan memang, tapi bagaimanapun saya tetap harus angkat topi ketika Soderbergh sudah mengarap sisi teknisnya dengan sangat baik.
Rating: 














Sampai sekarang masih bingung sebenarnya definisi film art-house itu yang bagaimana kah? Dan kenapa film ini disebut film art-house? Apakah karena “momen-momen ‘sunyi’ tanpa musik latar termasuk pada saat adegan baku hantam” itu?
arthouse itu film ‘nyeni’ biasanya penyajiannya tidak biasa, banyak metafora dan sulit dipahami secara langsung, kebanyakan filmnya adalah drama beralur lambat, minim dialog atau kalau ada dialognya panjang dan rumit dan lebih bermain di karakterisasi, makanya gw gak terlalu suka kalo ada film action yang model begini, gak cocok aja
betul itu mas, film aksi gak lengkap tanpa suara