
Matt: ” Listen to me, we can’t screw around with this it’s too dangerous. Andrew, this is not a game! “
Coba hitung ada berapa jumlah mokumentari horor sampai saat ini? Ya, ada banyak, termasuk yang terakhir, sekuel kedua dari franchise Paranormal Activity yang menghebohkan itu, nah sekarang sebutkan mokumentari yang isinya menghadirkan remaja-remaja yang memiliki kekuatan super dan bisa terbang di dalamnya? hmm….tidak ada -dan please, adegan Micah ‘terbang’ pada ending Paranormal Activity itu jelas tidak termasuk- tapi itu tidak lama sampai kemudian datanglah dua sineas muda berbakat yang baru berusia 27 tahun, Josh Trank bersama rekannya, Max Landis yang membawa sebuah kesegaran di ranah faux documenter dalam debutnya ini. Ya, ide soal manusia berkekuatan super memang bukan sesuatu yang baru, ada banyak film superhero yang sudah melakukannya, tapi kemudian mencampurnya dengan style dokumenter dengan sudut pandang orang pertama itu jelas sebuah terobosan yang luar biasa apalagi jika dibandingkan koleganya yang sama-sama bergenre sci-fi, Cloverfield, Chronicle jelas punya pergerakan kamera yang jauh lebih ramah dan bersahabat serta lebih inovatif. Ya, bisa dibilang Trank sudah membawa genre ini satu tingkat ke level lebih tinggi.
Trank membuka kisah Chorincle seperti kebanyakan mokumentari lain, pelan, memperkenalkan penontonnya terlebih dahulu kepada karakter-karakter utamanya yang masih belia, tapi tenang, meskipun sedikit lambat di awal ia tidak akan sampai membuat anda bosan karena Landis mampu menghadirkan segalanya begitu dekat dengan kita. Ada Andrew (Dane DeHaan), sepupunya, Matt (Alex Russell) dan teman mereka, Steve (Michael B. Jordan) yang tanpa sengaja menemukan sesuatu yang luar biasa yang kemudian berdampak hebat pada diri mereka, tapi seperti kata Peter Parker dalam Spider-Man, “With great power comes great responsibility.” maka persahabatan mereka pun diuji ketika kekuatan super itu membuat mereka lupa diri.

Menonton Chronicle itu seperti melihat sedikit campuran dari American Pie X-Men, sedikit The Blair Witch Project dan sedikit We Need to Talk About Kevin yang dibungkus dengan semangat muda nan enerjik. Tone ceria yang mendominasi paruh pertamanya plus humor ringan langsung mampu memikat penontonnya, terutama sejak ketiganya pertama kali menemukan sumber kekuatan mereka, lalu dengan iseng mencoba-cobanya untuk mengusili orang lain, ya, itu menjadi bagian paling kocak di sini atau ketika ketiganya mengajak penontonnya terbang menembus awan, wow! Sebuah sensasi spektakuler dengan dukungan pergerakan kamera dinamis yang tidak akan anda temui di mockumentari manapun dan menariknya lagi, masih tearasa masuk akal. Sebuah sensasi terbang yang bahkan film sekelas Superman sekalipun tidak bisa menghadirkannya.
Namun setelah itu mulai hadir kematian, menjadikan kisahnya lebih gelap dan karakter-karakter yang dimainkan aktor-aktor muda pendatang baru itu mampu berkembang lebih dalam sampai pada akhirnya Trank dan Landis ‘meledakan’ semuanya di 20 menit akhir yang super fantastis itu. Ada banyak ledakan besar, mobil-mobil terbalik, dilema moral dan pertarungan habat di klimaksnya yang kemudian berakhir dengan suara penuh kekaguman dari penonton dan tentu saja pertanyaan menarik seperti “Bagaimana mereka melakukannya?” Ya, budgetnya ‘hanya’ 15 juta Dollar tapi Chronicle punya cita rasa, spesial efek dan magis seperti film-film blockbuster mahal yang dananya puluhan kali lipat, sekali lagi semua itu berkat ide brilian dan kemampuan luar biasa dua sineas mudanya yang mampu membuat manusia bisa terbang dengan serealistis itu. Tentu saja akan saya tunggu kembali kiprah mereka selanjutnya di proyek mereka selanjutanya yang mudah-mudahan saja mampu sebagus ini.
Rating: 















Om nonton dimana neh? minta donk film nya…hehe
nonton di bioskop
” Listen to me, we can’t screw around with this it’s too dangerous. Andrew, this is not a game! “====>> yg bilang ini bukannya si Matt Gattery???
yup, my bad na